CHAPTER #5
LIMA
Semua yang melihat kejadian antara Markus dan temannya yang berjumlah 6 orang jatuh begitu saja. Kalau kebetulan ada yang menghitung waktunya mungkin dibawah 3 menit Wisnu berhasil menjatuhkan lawannya.
Semua mahasiswa yang ada digedung itu terdiam dan kagum akan kegesitan Wisnu termasuk Tuti yang ada didekatnya.
Kemudian Wisnu memberi isyarat kepada Andar dan Juhri untuk membantunya. Satu persatu temannya Markus baik yang pingsan maupun yang kesakitan disuruh duduk oleh Wisnu termasuk Markus.
Wisnu menyembuhkan yang kesakitan dan yang pingsan karena pukulannya.
Setelah semuanya sadar dan baik kembali lalu Wisnu mengajak Markus berdiri.
“Teman semuanya. Mulai hari ini, dikampus ini, tidak akan ada lagi kekerasan, pemalakan bahkan pemaksaan kehendak. Semuanya akan berhenti hari ini. Kalau saja ada yang masih melakukannya maka akan berhadapan dengan kita semua. Bagaimana, setuju?” Teriak Wisnu sambil mengepalkan tangannya keatas.
Semua yang ada disitu berteriak setuju dan bersorak.
“Untuk itu, maka dengan hati yang tulus saya meminta teman kita Markus untuk menjadi ketua anti kekerasan di kampus ini. Ada yang menolak Markus?” Tanya Wisnu berteriak.
Semua tidak ada yang bicara.
“Baik, kalau begitu, maka kita angkat Markus secara aklamasi menjadi ketua anti kekerasan di kampus ini. Setuju?”
Wisnu mengangkat tangannya Markus keatas.
Semua menyambutnya dengan tepuk tangan yang riuh.
Wisnu tersenyum dan bersalaman dengan Markus yang masih tidak percaya dengan kejadian yang mendadak ini. Lalu semua mahasiswa yang ada digedung itu berdatangan menghampiri Markus dan menyalaminya. Sedangkan Wisnu sendiri berjalan kearah Tuti yang ikut bertepuk tangan menyambutnya.
“Hebat kamu mas Wisnu. Contoh seorang pimpinan itu!” Katanya menepuk pundak Wisnu dengan bangga. “Sekarang kita ke ruangan saja yah.”
“Iya bu. Bang Andar dan bang Juhri ikut saya yah?”
“Iya mas.” Jawab mereka berdua.
“Mana Kosasih ya?” Wisnu mencari Kosasih.. “Oh itu. Kos! Sini!” Wisnu mengajak Kosasih.
Kejadian itu membuat nama Wisnu semakin dikenal dikampusnya.
Sudah seminggu tempat latihan beladiri karate dikampusnya penuh sesak dengan para mahasiswa yang tertarik untuk ikut berlatih. Selain murah biayanya juga semua gerakan karate setelah berlatih jurus-jurusnya, Wisnu selalu langsung diaplikasikan langsung kegunaan jurus itu dibantu oleh Andar dan Juhri. Tidak heran dalam 2 bulan Wisnu harus membuat jadwal tambahan.
Hari itu Wisnu terlihat murung. Rohim yang sejak pagi melihatnya jadi penasaran.
“Mas Wisnu, bapak lihat dari pagi kelihatannya seperti sedang ada yang dipikirkan. Boleh bapak tau mas?” Tanya Rohim.
“Iya pak. Saya sedikit pusing dengan jadwal saya. Tapi tetap belum bisa mencukupi apa yang diperlukan keluarga saya di kampung. Apalagi sekarang ayah saya sedang sakit karena kecapean mungkin.” Wisnu mencoba menceritakan kesulitannya pada Rohim.
“Jadi apa yang diperlukan mas Wisnu sekarang ini?” Tanya Rohim duduk disebelahnya. “Kuliah sudah. Uang tambahan sudah ada malahan dari dua tempat kerja. Mas Wisnu tinggal ditempat bapak dan ada juga uang saku dari bapak. Kesulitan apa lagi mas? Coba cerita sama bapak siapa tau ada solusinya.”
Wisnu terdiam dan menarik nafas berat.
“Iya pak. Bukannya saya tidak bersyukur. Tapi tetap saja ada yang kurang rasanya.” Kata Wisnu menundukan wajahnya. “Penghasilan dari perguruan dan dari bapa hanya cukup untuk biaya hidup saya disini. Sedangkan uang saku dari jadi pelatih di kampus itu dibagi tiga orang dengan bang Andar dan bang Juhri. Jatah saya dari kampus saya kirim untuk keperluan adik saya dikampung biar tidak merengek minta kepada Abah dan Emak. Saya belum bisa menabung pak. Pas sekarang Abah sakit di kampung saya belum bisa membantunya karena tidak punya tabungan.”
Rohim tidak menjawab tapi ikut bersedih mendengar kesulitan Wisnu seperti itu.
“Memangnya perlu berapa mas Wisnu untuk berobat abah?”
“Mahal pak. Kata Kokom bisa lebih dari 5 juta katanya. Ada yang harus diambil tindakan operasi di kakinya bekas kepentok cangkul dulu.” Jawab Wisnu.
“Begini mas Wisnu. Bapak ada simpanan di laci kamar hasil kelebihan dari modal setiap hari jualan. Jumlahnya sih tidak sampai segitu, paling setengahnya. Mas Wisnu kalau memang terdesak bisa dipakai dulu untuk uang muka operasi abahmu di kampung.” Rohim mencoba menawarkan bantuan.
“Iya pak. Tapi sementara ini belum bisa saya terima karena informasi dari adik saya juga masih simpang siur. Dan saya sendiri belum berusaha mencari. Tapi terimakasih bapak sudah berniat membantu saya. Pegang saja dulu pak. Nanti kalau saya perlu baru saya bilang sama bapak.” Ujar Wahyu.
“Iya mas, begitu saja. Dan pesan bapak jangan terlalu kuat memikirkan itu.” Rohim menepuk bahunya Wisnu. “Bapak kepasar dulu yah mas.”
“Iya pak. Saya juga mau kekampus, sudah cukup waktunya.” Balas Wisnu ikut berdiri juga.
“Mas Wis! Mas Wisnu!” Andar mengguncangkan pundaknya Wisnu.
Wisnu kaget dan membuka matanya. Dia melihat Andar berdiri disampingnya.
“Kenapa mas? Sehat kan?”
“Iya bang. Nggak ada apa-apa kok, hanya sedikit ngantuk pas tadi pulang kuliah.” Ujar Wisnu bangun dari duduknya diteras perguruan pindah duduk di kursi yang ada disitu.
“Susah tidur ya semalam?” Tanya Andar.
“Iya bang, terlalu banyak pikiran barangkali.”
“Ada apa lagi sih mas? Cerita dong sama saya.”
“Hanya persoalan biasa saja bang.”
“Iya yang biasa itu apaan mas?” Andar mendesak Wisnu untuk bercerita.
Wisnu menghela nafas panjang dan mulai cerita apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
“Jadi Abah mas Wisnu belum dibawa ke dokter sekarang ini?”
“Belum bang. Makanya mungkin semalam tidak bisa tidur karena ini.”
Andar jadi ikut menundukan wajahnya. Tapi tidak lama kemudian dia berdiri dan masuk kedalam. Hanya sebentar dia sudah kembali lagi sambil membawa sebuah buku.
“Ini mas buku catatan saya yang berisi perolehan kita selama ini.” Ujar Andar memperlihatkannya kepada Wisnu.
“Maksud abang apa?”
“Kita periksa dulu bersama-sama yah.”
“Nggak perlu bang. Saya sangat percaya sama abang kok.”
“Bukan itu mas Wisnu. Semalam saya kebetulan memeriksa keuangan kita dan ini hasilnya. Maksud saya adalah bila mas Wisnu mau, mas bisa memakainya.”
Wisnu terdiam.
“Mas bisa memakainya dulu dan nanti saya atur potongan atau pengembaliannya ke keuangan perguruan.” Andar berusaha memantapkan tekad Wisnu.
Wisnu tersenyum dan menepuk pundak Andar.
“Terimakasih bang. Bagaimana kalau saya pakai 3 juta 5 ratus, ada nggak segitu?”
“Ahh, saya pikir sepuluh juta. Ada mas kalau segitu. Untung saya belum setor ke bank.” Ujar Andar tertawa senang.
“Nanti sisanya saya pakai uangnya pak Rohim.”
“Kenapa nggak semuanya saja mas? Kan masih bisa?”
“Nggak bang. Saya takut ada pengeluaran yang mendadak lagi.”
“Oke. Kalau begitu saya siapkan uangnya nanti. Sekarang mas Wisnu konsentrasi untuk mengajar saja. Gimana, setuju kan?”
“Iya bang.” Wisnu tertawa dan merasa semangat lagi karena kebutuhannya sudah teratasi.
Hari minggu saat Wisnu mau melatih karate dikampusnya dijalan dia melihat seorang ibu yang berkutet dengan barang-barang bawaannya. Hatinya tergerak untuk membantunya. Lalu dia mendekati ibu itu.
“Maaf bu, ada yang bisa saya bantu?”
Ibu itu memandang Wisnu dulu sebelum menjawab.
“Iya mas. Mobil saya mogok tiba-tiba, sementara barang ini harus segera dikirim ke ujung aspal. Saya bingung.” Ujarnya sambil terus mengeluarkan barang-barangnya dari mobilnya yang mogok.
“Memangnya tidak ada yang membantu ibu?” Kata Wisnu yang ikut juga menurunkan barang-barangnya dari mobil.
“Kebetulan kemarin dia keluar mas. Katanya ada keperluan lain di kampungnya.”
“Oh begitu ya bu. Terus barang-barang ini bagaimana dong?”
“Itulah makanya saya bingung. Mas ini mau kemana?” Tanya si ibu.
“Saya mau ke kampus bu. Saya harus melatih teman-teman dikampus.”
Ibu itu terdiam dan kelihatannya semakin bingung.
“Begini saja bu. Barangkali usulan saya bisa ibu terima. Mobil ini akan saya titipkan di toko material sebelah ini.” Kata Wisnu menunjuk toko material yang sudah buka. “Terus ibu naik angkutan umum saja. Ibu borong kendaraan itu sampai ke tujuan. Bagaimana?”
Ibu itu kelihatannya berpikir.
“Iyalah mas. Daripada langganan saya kecewa.”
Wisnu lalu minta ijin ke pemilik toko untuk menitipkan mobil si ibu. Tentu saja pemilik toko itu mau karena sudah mendengar sepak terjang Wisnu didaerah itu. Kemudian Wisnu menyetop angkutan umum yang kosong.
“Ehh, mas Wisnu. Kenapa mas?” Tanya pengemudi angkutan umum meminggirkan mobilnya.
“Ini kang, ibu ini mau mengirimkan barang-barangnya. Tapi karena mobilnya mogok ya terpaksa harus borong angkutan nih. Tapi jangan mahal-mahal ya kang!”
“Nggak lah mas. Mana berani saya mahal sama mas Wisnu.”
Ibu itu heran melihat orang-orang pada kenal sama Wisnu.
Setelah setuju dengan biaya angkutnya maka semua barang-barang ibu itu dimasukan kedalam angkutan umum yang diborong oleh si ibu.
“Maaf mas. Ibu mau nanya. Sebenarnya siapa mas ini? Kok banyak orang yang kenal sih? Sampai-sampai sopir angkutan saja kenal.” Tanya si ibu.
“Dia itu mas Wisnu bu. Jawara didaerah sini.” Celetuk sopir angkutan itu.
“Ohh, pantes kalau begitu.” Ujar si ibu tersenyum.
“Sudah ya bu. Saya mau jalan ke kampus. Ibu nanti tinggal nyuruh orang ibu saja untuk mengambil mobil ini.” Kata Wisnu menyandangkan kembali ransel kuliahnya.
“Iya mas. Ini untuk ongkos.” Ibu itu memberikan uang kepada Wisnu.
Wisnu menolaknya. “Maaf bu. Saya ikhlas membantu.”
Pengemudi angkutan itu malah tertawa.
“Mana mau dia bu. Dia itu kalau membantu dan menolong orang tanpa pamrih bu!”
Ibu itu hanya tersenyum dan memasukan kembali uangnya. Tapi kali ini dia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Wisnu.
“Ini kartu nama saya mas. Siapa tau suatu hari bisa berguna.” Kata ibu itu.
“Iya bu, terimakasih.” Wisnu menerimanya sebelum dia menyeberang jalan.
Setibanya di kampus Andar yang sudah menunggunya, datang menghampiri Wisnu.
“Mas Wis. Ada yang nyari.”
“Siapa bang?”
“Nggak tau mas. Hanya bilang mencari mas Wisnu.”
“Begitu ya.”
Wisnu dan Andar berjalan masuk kedalam gedung serbaguna yang sudah banyak orang untuk berlatih.
“Itu mas orangnya.” Kata Andar menunjuk ke seseorang yang duduk dikursi gedung.
Orang itu tampaknya tidak bersahabat karena kelihatan pula membawa lima orang pengawalnya.
“Maaf, bapak mencari saya?”
“Siapa kamu?” Tanyanya kasar.
“Loh, teman saya bilang bapak mencari yang bernama Wisnu bukan?”
“Iya, saya mencari anak yang namanya Wisnu.”
“Bapak siapa ya?”
“Banyak tanya kamu ini mas. Pakai nanya siapa lagi. Saya Samsul. Saya yang menguasai daerah ini. Siapa yang ngasih ijin berlatih beladiri disini?”
“Ya pihak kampus lah pak. Ini kan wilayah kampus. Tempat belajar termasuk belajar beladiri. Kalau ijin dari pihak berwajib untuk penyelenggaraan kegiatan, setau saya sudah semuanya. Mulai dari kantor polisi, kecamatan dan kelurahan termasuk warga sekitarnya.” Ujar Wisnu. “Lalu apa hubungannya dengan bapak apa ya?”
“Ehh, malah nanya lagi. Kan saya bilang saya penguasa daerah ini.”
Wisnu tertawa.
“Jangan tertawa kamu!” Kata Samsul sambil mencoba menendang kakinya Wisnu.
Karena suara Samsul yang keras, semua orang yang akan belajar karate disitu berhenti dan menghampiri Wisnu.
“Ada apa sensei?”
Samsul berdiri. “Jadi kamu yang bernama Wisnu itu?” Tangannya menunjuk Wisnu.
“Iya pak Samsul. Saya Wisnu.”
Samsul berdiri dan langsung menggerakan tangannya seperti ingin menampar wajahnya Wisnu. Andar yang ada disebelah Wisnu dengan sigap menangkap tangannya Samsul. Lalu memitingnya kebelakang badannya Samsul.
Para mahasiswa yang sudah mengelilingi mereka mencoba merangsek maju kedepan karena marah melihat gurunya mau dipukul.
Andar yang memiting tangannya Samsul mendorong badannya Samsul sampai terduduk dikursinya.
Wisnu mengangkat tangannya. Semuanya berhenti bergerak.
“Ya Sensei!” Suara teriakan murid karate menggema keras di gedung itu.
“Jadi maksud pak Samsul hanya ingin menampar saya pak?” Tanya Wisnu.
Samsul dan anak buahnya terdiam. Hati mereka rada ketar-ketir juga melihat jumlah yang ada disitu.
“Begini saja pak. Kalau anak buah pak Samsul bisa mengalahkan saya dan abang saya, saya akan membayar biaya bapak dan anak buah bapak. Tapi kalau saya menang, bapak dan anak buah bapak jangan coba-coba mengganggu kami lagi. Bagaimana? Cukup adilkan?”
Samsul berdiri dan merasa anak buahnya akan menghajar Wisnu dan kawan-kawannya.
“Oke, saya setuju.” Jawab Samsul. Lalu memberi isyarat kepada salah seorang anak buahnya untuk maju.
Semua yang ada diruangan itu bubar dan duduk mengelilingi ruangan latihan.
Salah satu anak buah Samsul masuk kelingkaran itu.
Wisnu melihat Andar. Andar mengangguk, lalu masuk kedalam lingkaran itu.
Setelah mereka berhadapan anak buah Samsul langsung menyerang Andar. Gerakannya ringan dan gesit. Tangannya menjulur untuk meninju wajahnya Andar.
Andar hanya diam tidak bergerak. Tinju anak buah Samsul itu telak mendarat diwajah Andar. Tapi dia menjadi kaget karena ternyata Andar tidak bergeming sedikitpun. Andar hanya mengusap wajahnya yang kena tinju.
Orang itu kemudian menyerang kembali dengan cara menendang lurus kearah perut Andar. Disini Andar baru bergerak kesamping dan menggerakan tangan kanannya dengan pukulan sisi tangannya. Hanya sedetik orang itu sudah berteriak sambil memegang tulang kering kakinya. Dia jatuh terduduk dan mengerang kesakitan.
Andar mundur dan keluar dari lingkaran itu. Kemudian dua orang teman anak buahnya Samsul membawa anggotanya yang masih kesakitan. Wisnu masuk kelingkaran.
Samsul ikut masuk.
“Pak Samsul. Saya mohon kepada bapak untuk menyuruh anak buah bapak ikut masuk saja. Waktu saya sudah tidak cukup.” Kata Wisnu membakar kemarahan Samsul. Padahal itu adalah cara yang ampuh untuk menjatuhkan lawan karena kemarahannya.
Samsul memberi isyarat kepada anak buahnya untuk masuk lingkaran.
Wisnu bersiap dengan memasang kuda-kuda Hachiji dachi karatenya.
Kemudian Samsul dan anak buahnya mengelilingi Wisnu dan berputar mencari celah untuk menyerang. Wisnupun ikut berputar dan merobah cara kuda-kudanya.
Tiba-tiba salah seorang lawan yang ada didepannya bergerak maju seperti ingin menyergapnya dan yang disamping kanannya mencoba mau meninju wajahnya Wisnu.
Wisnu bergerak cepat dia menangkis tangan yang disampingnya dengan tangan kanannya dan melancarkan Mae geri, tendangan ke perut yang ada didepannya. Lalu kakinya ditarik dan melakukan Yoko geri keange, tendangan kesamping kepada yang ditangkis tangannya, telak mengenai dadanya.
Keduanya terjungkal dengan keras kelantai gedung.
Wisnu tidak berhenti disitu. Tiba-tiba dia menggerakan kakinya menggunakan jurus Usiro geri, menendang kebelakang karena Samsul merangsek ingin menghajar kepala Wisnu. Samsul terpental kebelakang dan menggerung kesakitan. Anak buahnya yang diam-diam mau membokong dari samping kiri mengaduh sakit setelah terkena Empi sikutan tangannya Wisnu dan mengenai hidungnya. Sementara yang satu lagi berhasil menangkap badannya Wisnu dari belakang.
Wisnu tenang saja. Lalu dia membawa badannya kebawah hingga seperut lawannya. Kakinya berpindah kebelakang kaki lawannya lalu mendorong dengan sikunya sampai badan lawanya terdorong dan tangkapan tangannya lepas. Lalu dengan cepat Wisnu melancarkan Shuto uchi, atau pukulan telapak tangan samping seperti menyabetkan pedang ke lawan dan mengenai pelipis kepalanya.
Dalam satu menit pertama Wisnu sudah berhasil menumbangkan kelima lawannya yang mengepung dia.
Andar tersenyum lalu masuk kelingkaran dan menghampiri Samsul.
Samsul dengan tangan kekarnya Andar diangkat untuk berdiri dan berhadapan dengan Wisnu.
“Bagaimana pak Samsul. Mau diteruskan lagi?” Tanya Wisnu.
“Cukup mas. Dan saya minta maaf.” Ujar Samsul masih kesakitan memegang perutnya.
Wisnu mengangguk puas. Kemudian memegang tangannya Samsul.
“Mohon diingat dengan janjinya ya pak?”
Samsul mengangguk. “Ya mas. Saya janji.”
Semua berdiri seperti biasa dan berteriak tanda hormat kepada Wisnu dan lawannya.