Meminta Pertanggung Jawaban

1074 Kata
Pertemuan pertama setelah malam yang tidak di sengaja itu cukup membuatnya shock. Bagaimana bisa ia tersenyum lebar, seolah tidak ada beban di saat beban lain atas kehamilan harus ia tanggung. Deruan napas yang memburu ia lakukan ketika pria tersebut berada dihadapannya. Di tengah keramaian dan amarah yang semakin melingkupi dirinya saat ia mengingat kembali hari di mana pria b******k itu merenggut kesuciannya. “Sir..” Ucap seseorang yang tengah berbincang dengan pria b******k itu, mengisyaratkan bahwa ada seseorang yang tengah menatap dirinya, mungkin ia juga melihat kemarahan yang terpancar dari auranya. Namun, hal lain yang membuat Matthew menoleh ke arah dirinya adalah ketika aroma yang tidak asing untuknya ia cium. Tatapan mereka saling bertemu. Sial! ia benar-benar ingin melenyapkan pria b******k yang ada dihadapannya saat ini. Sebuah tamparan keras pun wanita itu ia daratkan di pipi pria dengan rahang tegas tersebut. Suaranya begitu nyaring, hingga jarak orang-orang yang masih berada jarak dekat mereka menoleh, bahkan tatapan yang melongo pun mereka lakukan. Siapa wanita yang berani memberikan tamparan keras tersebut terhadap boss mereka? “b******k! Kau benar-benar pria b******k yang ada di muka bumi ini!” amuk wanita tersebut. Sedangkan pria tersebut, ia menyentuh pipinya sendiri yang terasa memanas, ia tidak mempermasalahkan akan tamparan yang baginya tidak seberapa rasa sakitnya ini, tapi kewibawaannya dalam sekejap harus hilang karena ditampar oleh seorang wanita, tunggu kenapa wajah wanita itu terasa tidak asing baginya? “Setelah puas melakukan hal yang tidak pantas terhadapku kau masih bisa tertawa di sini?!” Wajahnya, ia mengingat wajah itu, wajah dengan raut kesedihan, amarah dan kebencian di saat malam panas yang selalu terbayangkan akan siapa wanita tersebut akhirnya bisa benar-benar ia cerna dengan jelas wajah tersebut. Wanita itu ingin kembali melayangkan tangannya ke atas pipinya. Namun, dengan segera Matthew segera menahan tangan dari wanita itu. Matthew tidak akan membiarkan wanita ini melayangkan tamparan untuknya yang ke dua kali. Dengan cekatan pula seorang wanita lain kembali menghampiri mereka dengan memasang wajah bersalah. “Maaf tuan, teman saya sedang tidak baik-baik saja..” ucapnya. Benar, orang itu adalah Marshell yang melihat sahabatnya melakukan hal ini tidak tinggal diam. Matthew masih mencengkeram tangan wanita gila tidak masuk akal yang tiba-tiba menamparnya. “b******k! Kau harus bertanggung jawab!” Aletta masih tidak terima dengan pria yang telah merusak dirinya. Bertanggung jawab karena telah tanpa sengaja menidurinya? Matthew menyadari pasti dirinya saat ini terlihat menakutkan mencengkeram tangan seorang wanita dihadapan semua orang. Setelah melihat salah satu orang penting di sini melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Aletta, Marshell pun segera mengajak Aletta untuk pergi dari sini yang pastinya dengan permintaan maafnya. “Maafkan saya Tuan, ayo Letta..” Marshell sekuat tenaga mengajak Aletta yang masih berusaha menahan diri dengan gejolak amarahnya kepada pria tersebut. Sampai kepergian wanita itu pun Matthew mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja. Sial, ia ingin mempermalukan diriku?! ucap batin Matthew tidak terima. Direndahkan oleh wanita yang menyerahkan tubuhnya untuknya. Sial! Matthew tidak bisa tinggal diam. *** Marshell berhasil membawa Aletta pergi dari tempat acara. Gejolak amarah pun masih terpancar di wajah Aletta, menatap kebencian ke arah salah satu pria penting di sini. “Aletta..” Panggil Marshell setelah ketiga kalinya ia memanggilnya namun tidak di jawab oleh Aletta. Aletta tersadar, ia menoleh ke arah Marshell dengan napas yang memburu menahan segala emosi yang ada di dalam dirinya. Marshell membawa kedua tangannya ke atas bahu Aletta, “Aletta, kau kenapa?” tanya Marshell untuk memastikan keadaan Aletta saat ini. “Letta kau tahu kan posisi kita saat ini—“ Marshell mengatupkan kedua bibirnya saat mengingat kejadian tadi. Marshell melihat kembali ke arah Aletta di mana ke dua matanya terlihat seperti menahan tangis. Benar, Aletta menahan tangis yang sedari tadi berusaha ia tahan setelah bertemu dengan pria yang telah menghancurkan hidupnya. Sebuah pelukan langsung Marshell dapatkan dari Aletta, benar saja tangis Aletta seketika pecah begitu saja, ia tidak tahan lagi menahan air matanya yang sudah seberusaha mungkin ia tahan. Hati Marshell terenyuh, ada apa dengan Aletta, ini pertama kalinya ia melihat sahabatnya ini menangis begitu tersedu-sedu. Marshell sangat ingin mengetahui penyebabnya tapi ia memilih untuk membiarkan Aletta menangis. “Kenapa hidupku menjadi seperti ini Shell..” “Semua hancur dalam sekejap, apa kesalahanku? Kenapa aku merasa dunia ini tidak adil untukku?” lirih Aletta. Aletta melepaskan pelukannya setelah ia merasa dirinya sudah sedikit lebih baik setelah ia menangis. Sedangkan Marshell, jujur ia sangat bingung dengan apa yang terjadi kepada Aletta, ia pun mengajak Aletta untuk ikut bersama dengannya menjauhi tempat ini dan mencari bangku di sini untuk mereka duduki. “Apa dunia begitu membenciku, sehingga harus mendapatkan—“ “Tidak Lett, jangan mengatakan itu.” ucap Marshell mencoba untuk menenangkan Aletta. “Apa aku harus menghilang saja—“ “Aletta, aku bilang jangan mengatakan itu.” ucap Marshell berusaha menyadarkan Aletta yang terlihat mulai berbicara tidak masuk akal. “Katakan padaku apa yang telah terjadi, ada apa dengan pria itu? Katakan padaku.,” Seketika Aletta mengatupkan kedua bibirnya saat Marshell mulai membahas apa yang telah terjadi kepada dirinya. Tidak, Marshell tidak boleh mengetahui ini, pasti ia akan membenci diriku. ucap batin Aletta Aletta tiba-tiba saja bangun dari kursi yang tengah ia duduki bersama dengan Marshell. “A-aku pulang Shell..” ucap Aletta berusaha sebisa mungkin. Marshell menautkan kedua alisnya, bahkan ia belum mendapatkan penjelasan dari Aletta. “Aletta, pulang denganku.” ucap Marshell. Tentu saja Marshell tidak akan membiarkan Aletta pulang seorang diri, terlebih saat tahu keadaan sahabatnya yang tidak baik-baik saja ini. “Its oke, aku baik-baik saja..” Tanpa banyak kata lagi, Aletta pun segera pergi dari sini. “Aletta..” panggil Marshell, ia berusaha untuk mengejar sahabatnya itu, namun apa daya Aletta berjalan terlalu cepat. Jadi apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Aletta? Pria itu, apa hubungannya dengan Aletta, karena Marshell yakin pasti telah terjadi sesuatu hal yang menimpa Aletta. *** Sedangkan di lain tempat Matthew terlihat sangat marah dengan apa yang baru saja terjadi dengan dirinya. Kemejanya bahkan sudah terlihat tidak beraturan, dasi yang ia kenakan telah ia lepas dan juga kaitan kancing bagian atas kemejanya telah terlepas. Matthew memukul stir kemudinya saat dirinya telah mendapatkan peristiwa memalukan yang direndahkan oleh seorang w************n sepertinya. “Kau pikir dengan mempermalukanku seperti itu, hidupmu akan tenang b***h!” “Pertanggung jawaban kematian maksudmu, all right, semua akan berjalan sesuai dengan kemauanmu sialan!” Murka Matthew dengan eratan pada giginya. Matthew mengeluarkan ponselnya untuk melakukan suatu hal yang mungkin akan membuat wanita itu menyesal seumur hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN