- Malam mencekam -

1840 Kata

ini Pak Marcel sedang tidak bernafsu pulang. Selepas berolahraga, ia membersihkan diri. Mengajakku makan malam, lalu berkeliling kesana-kemari mencari angin segar. Aku seh, happy aja. Karena memang tidak pernah kemana-mana. Tentu menyambut antusias ide berputar-putar tersebut. Seperti seekor tawanan yang baru saja keluar dari sel dinginnya. Aku membuka kaca mobil, menikmati angin malam, membiarkan hembusannya mempermainkan rambut juga kulit wajahku. Aku bahkan menutup mata, meresapi semua yang dilalui benar-benar menggunakan hati. "Suka?" tanya Pak Marcel ikut antusias melihat wajah bahagiaku. Aku mengangguk, tanpa memalingkan wajah, sekedar menoleh ke kursi samping. Lalu kami berhenti di pusat keramaian. Menikmati sajian keindahan malam dengan menikmati kudapan ringan. Memang tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN