"Bu, Bapak sikapnya berbeda." Aku melempar topik di antara keresahan hati yang kian tak terkendali. Berharap ada oase sejuk di antara gurun gersang sejauh mata memandang. Aku masih belum tau, fatamorgana kah di depan sana? Sedangkan aku telah letih berlari kesana-kemari demi menyejukkan diri. Lalu bagaimana jika itu benar-benar khayalan saja, sedangkan ragaku sudah tidak mampu bertahan. "Berbeda? Berbeda bagaimana?" Senyum masih menghiasi wajah Ibu Dina. Ketenangan jelas tergambar di sana. Sedangkan ketegangan semakin menguat di dalam rasa. "Sekarang kamu memang beda, Key. Kamu sudah seperti putri kami sendiri. Tidak masalah kalau kami memperlakukan kamu seperti Dian kan? Lihat adikmu, dengan lepasnya bergelayut manja pada Ayahnya. Ibu harap kamu juga bisa selepas itu terhadap kami."

