“Aku akan pergi ke acara penghargaan kantor. Sayang sekali kau tidak bisa melihatku berjalan ke atas podium meraih piagam penghargaanku dengan gagahnya. Kau tau, meskipun usiaku tak lagi muda, tapi aku masih memiliki segudang kemampuan yang dapat membuat dunia terpukau!" Pak Marcell merapikan kerah jas hitamnya di depan cermin. Melirik ke arahku dengan pandangan mengejek.
"Renungkan semua kesalahanmu, Neng. Lalu minta maaf kepadaku. Dengan senang hati aku akan memaafkan. Mari kita merajut jalan yang baru, kita hias bersama jalan itu. Kita tanami bunga-bunga indah di sekelilingnya, agar kita bahagia bersama selamanya."
Pak Marcel melangkah mendekatiku. Meskipun tak lagi memiliki kekuatan karena sikap mogok makan, aku masih bisa mengangkat gunting yang tak pernah terlepas dari genggaman. Kembali mengacungkan ke leherku sendiri.
Lagi-lagi gerakan Pak Marcel terhenti, menanggapi ancamanku yang tidak main-main. Aku tau kelemahannya.
Aku tau, ia takkan bisa melihatku melukai diri sendiri seperti ini.
"Kau sangat keras kepala! Tapi itu yang kusuka darimu." Pak Marcel menyela rambut menggunakan jarinya, kembali melirik ke arahku sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu. Sedangkan tanganku kembali terkulai lemah tak berdaya.
Sekilas kulirik makanan yang telah di antarkan diatas ranjang. Perutku mulai memberontak meminta di isi. Aku telah menyakitinya beberapa hari ini.
Akh, aku memeluk perutku yang tiba-tiba sakit seperti tengah memilin ususku sendiri.
Aku harus bertahan! Jika kali ini aku mengalah, maka aku akan dianggap kalah. Akan selalu begitu seterusnya.
Terdengar deru mesin mobil meninggalkan garasi dan halaman rumah. Kupeluk kedua lutut yang mulai gemetar tak memiliki kekuatan. Apa yang harus kulakukan kali ini? Haruskah benar-benar menyerah pada keadaan, atau menyerah pada kenyataan? Rasanya aku ingin segera melenyapkan diriku sendiri, mengingat tak ada akses keluar dari kamar ini.
Aku berjalan sempoyongan menuju pintu, berusaha mengetuk dan menggedor daun pintu dengan lemah. Berteriak pada pekerja rumah untuk membukakan pintu untukku. Tapi jawaban mereka selalu sama. Kunci pintu dipegang Pak Marcel dan mereka tak mengetahui dimana tempat penyimpanannya.
Baiklah, mungkin waktunya bagiku untuk mengakhiri semuanya. Aku akan mengakhiri semua rasa sakitku, juga rasa sakit Ibu angkatku. Baiknya memang aku tak pernah ada di dalam keluarga ini.
Mataku terpaku pada gunting yang tergeletak di lantai. Haruskah kuhujamkan ujungnya yang tajam ke dadaku? Tapi rasanya tanganku begitu lemah untuk mengeksekusi diriku sendiri.
Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju kamar mandi, mencari cara untuk dapat segera mengakhiri hidupku sendiri. Tak ada seutas tali pun kutemui yang dapat ku gunakan untuk menggantungkan tubuhku. Melepas penat jiwa ragaku selama beberapa tahun terakhir. Menjadi duri yang tak pernah aku inginkan.
Akhirnya kujatuhkan pilihan ke sebuah bak kamar mandi yang cukup panjang dan tinggi, namun tak terisi air. Karena kamar ini memang kamar yang dikhususkan untuk tamu. Bak tersebut akan di isi air jika ada keluarga atau tamu yang datang menginap di rumah.
Kumasukkan tubuh lemahku ke dalam sana, berbaring memeluk kaki, karena panjangnya bak air tak sesuai dengan ukuran tinggiku. Sepertinya aku tak butuh mengikat kaki dan tanganku dengan potongan kain yang ada di dalam lemari besar disamping ranjang. Tubuhku sudah ikhlas untuk meregang nyawa dengan cara seperti itu. Kuharap tidak ada orang yang masuk hingga tubuhku benar-benar mengambang.
Segera kuputar kran air dengan maksimal, berharap dapat merendam tubuh dengan sempurna secepat mungkin.
Kembali kubaringkan tubuh, pasrah. Kenangan masa lalu terus berputar di kepalaku. Seperti sebuah kaset yang terputar sempurna, tak melewatkan setiap moment yang paling membahagiakan hingga yang menyedihkan. Mulai dari awalku masuk kedalam keluarga ini sampai akhirnya aku harus memutuskan membenamkan semua cita-cita dan cintaku ke dalam bak ini.
Akh, Rony..., Maafkan aku. Aku tak bisa memenuhi janjiku untuk bertemu denganmu saat waktunya cinta bisa terajut. Aku bahkan tak tau jika hidupku akan berakhir seperti ini. Semoga engkau mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Setidaknya itu dapat mengobati rasa bersalahku.
Aku merubah posisi menjadi duduk bersandar pada dinding bak air. Sepertinya air kran pun ingin membunuhku dengan cepat. Aku masih ingin mengenang Rony lebih lama. Meskipun pertemuan kami tidak begitu lama. Hanya tiga semester awal di bangku SMA-ku, itupun beberapa bulan terakhir baru merasakan kedekatan hati bersamanya. Hingga akhirnya aku harus berpisah dengannya karena mengikuti kedua orangtua angkatku pindah.
Aku harus menenggelamkan perasaan yang sudah telanjur berakar untuknya. Hanya mampu membuat janji, bahwa kami akan setia sampai akhir. Sampai takdir mempertemukan kita kembali di masa yang akan datang.
Aku tertawa sinis pada diri sendiri, mengenang saat aku dan Rony seolah-olah menjadi cenayang yang mampu meramal masa depan. Menentukan hasil akhir kebersamaan kita. Akhirnya disini jua harus kubenamkan semuanya.
Aku terlalu lelah, tubuhku terlalu lemah. Hingga akhirnya harus bersentuhan dengan dinginnya air malam.
Air kian merambat ke d**a. Kuputuskan untuk mengenang cinta pertamaku hingga akhirnya terlelap. Agar aku tak merasakan rasa sakitnya sekarat.
Aku mulai tenang, terbuai impian dan harapan yang kian mengambang. Rasanya aku mulai benar-benar terlelap. Entah oleh kantukku atau tidak sadarku. Aku masih menyandarkan punggung, saat air mencapai dagu. Lalu merambat menutupi mulut.
Tak lagi dapat kubedakan antara khayal dan nyata. Kubiarkan saja semua berlaku adanya. Suara pintu terbuka, tak juga membuat mataku terbuka. Langkah kaki penuh harap tak juga membuat telingaku menangkap. Aku terlalu lelah.
Kubiarkan air merambat, mulai menutupi lubang hidungku. Membuatku tercekat dan tersiksa tak dapat bernafas.
Tapi lagi-lagi aku tak sadar, apakah itu alam khayal atau nyata.
Namun seolah kulihat Rony berlari ke arahku, memintaku keluar dari air. Tapi aku terlalu lemah, hingga sebuah tubuh membopongku keluar dari bak. Mengguncangkan tubuh yang kian senyap.
Kubuka mataku perlahan, menangkap sosok bidadari nan menawan. Tapi kenapa diwajahnya ada kesedihan.
"Dasar Bodoh! Kenapa harus seperti ini!!" Ia terus mengguncangkan tubuhku, meminta kesadaranku.
"Ibu..., Ibu Dina..," Aku tersadar, aku belum juga sampai ke surga.
"Bangun, Key! Ayo bangkit! Jangan seperti ini!" jerit Ibu Dina terus menggoncangkan tubuhku.
Aku menangis dalam lemahku. Menyesali kenapa dia harus menggagalkan usaha bunuh diriku.
"Kenapa Bu? Bukankah ini bagus untukku, Bu? Bagus juga untuk Ibu." Nafasku tersengal-sengal berusaha mencuri oksigen sebanyak mungkin setelah tertahan beberapa saat sebelumnya. Juga menahan isak tangis yang begitu menyiksaku.
"Ya! Ini adil untukku. Itu akan membuatku sangat puas karena menyingkirkan duriku. Tapi tidak untukmu, Key!" Tampak air mata mengalir di pipi Ibu Dina.
"Kenapa Ibu peduli padaku?"
"Dasar bodoh!! Kau pikir Ibu tidak menyayangimu?"
Aku menangis sejadi-jadinya, aku lebih suka Ibu Dina membenciku. Kasih sayangnya justru semakin membebaniku.
"Meskipun pada akhirnya aku harus membencimu. Tapi aku tidak mau akhirmu seperti ini."
"Bukankah Ibu ikut Bapak tadi?"
"Jangan bicarakan yang lain Key! Waktumu tidak banyak. Makanlah dulu!" Ibu Dina mengambil piring, mengulurkan sebuah suapan kepadaku. Aku menggelengkan kepala menolak.
"Untuk apa, Bu? Key, ingin mati saja!"
"Dasar Bodoh! Kau butuh kekuatan untuk pergi dari sini!
Terdengar bunyi nada telepon dari ponsel milik Ibu Dina. Sekilas Ibu Dina melihat identitas si penelepon, lalu mematikan kembali ponselnya.
"Sekarang kamu dengar Ibu, kamu punya waktu sepuluh menit. Segera makan dan ganti bajumu. Pergilah dari sini, malam ini juga. Bapak sebentar lagi tiba di rumah, dan jika itu terjadi, kesempatanmu untuk pergi dari sini tidak akan pernah ada lagi."
"Tapi, Bu!"
"Di ranjang Ibu sudah siapkan baju dan beberapa potongan baju gantimu. Juga dompetmu, ponsel yang mungkin kelak kamu butuhkan. Buang kartu ponselmu, ganti yang baru. Hanya ini yang dapat Ibu lakukan untukmu sebagai kasih sayang seorang Ibu. Pergilah, cari kehidupan yang lebih baik di luar sana!" Ibu Dina terus berbicara tanpa jeda. Dengan wajah yang penuh dengan linangan airmata.
"Tapi bagaimana nanti Ibu menghadapi Bapak?"
"Jangan pikirkan itu! Yang terpenting sekarang kamu pergi dan bebas. Cepatlah! Pilihan ada di tanganmu. Waktumu tidak banyak!" Ibu Dina memeluk dan mencium pucuk kepalaku. Lalu pergi meninggalkan pintu yang terbuka lebar.
Apa yang kini harus kulakukan?
Kutatap piring yang berada di sampingku.
Benar kata Ibu Dina, aku butuh kekuatan untuk bisa pergi dari sini.
Dengan rakus, segera kusuapkan makanan itu kedalam mulut. Dibantu dengan dorongan air minum yang tersedia.
Baru kali ini kegiatan makan terasa sangat menyiksa bagiku. Lambungku bahkan tidak siap mengolah setelah beberapa hari diistirahatkan total. Setelah menghabiskan setengah piring, aku tak mampu melanjutkan kegiatan makan itu. Biarlah perlahan kuisi lambungku nanti di jalan. Hanya air minum saja yang kuhabiskan dengan brutal.
Gegas mengganti pakaian yang basah dan tak berbentuk di tubuhku. Menyambar tas yang telah Ibu Dina siapkan.
Akh, wanita itu benar-benar bersayap malaikat hingga akhir.
Aku keluar kamar, mencari sosok Ibu angkatku. Ingin berpamitan dengannya secara baik-baik untuk yang terakhir kalinya.
"Ibu langsung keluar!" Pekerja rumah menerangkan. Ada segurat rasa iba dan ketakutan di wajahnya.
"Tolong sampaikan pamitku pada Ibu, katakan permintaan maafku!" pesanku pada pasang mata yang mengantarkan kepergianku ke balik pagar.
Gegas kuhentikan angkot yang lewat di depan rumah.
Keuntungan tersendiri tinggal di pinggir jalan raya kota. Transportasi umum masih berlalu-lalang hingga jam sepuluh malam nanti.
"Terminal ya, Pak!" pesanku sebelum duduk di kursi tepat disampingnya. Kebetulan kursi itu kosong, dan aku bisa menyandarkan tubuh lelahku dengan nyaman disana.
Aku menatap setiap jalan yang kulalui dengan mata yang terus basah. Kupalingkan wajahku ke jendela samping, kedua tangan menahan dadaku erat-erat, agar suara isak tangis tak terdengar orang.
Di terminal, tanpa melihat tujuan, segera kunaiki Bus sembarang. Yang kuinginkan hanyalah segera pergi dari kota ini. Kota tempat menghabiskan masa kuliah yang singkat karena prestasiku.
Entah berapa jam aku terlelap di kursi Bus, hingga satu tangan menyentuh bahuku. Membuatku terjaga, dan waspada.
"Turun dimana, Mbak?" Dia adalah kondektur Bus.
"Di tujuan akhir Bus Pak." jawabku lemah. Tubuh ini belum mampu kukendalikan sepenuhnya.
"Ini sudah tujuan akhir. Terminal sudah dilewati beberapa menit yang lalu."
"Tolong berhenti di halte terdekat saja Pak! Atau dimana saja sebelum bus ini berhenti atau kembali."
Sang kondektur menatapku keheranan, tapi mengangguk mengiyakan.
Aku turun di sebuah halte yang entah dimana. Mataku mulai berkunang-kunang, menatap seseorang yang duduk sendirian di kursi halte.
Aku bisa menanyakan lokasi kepadanya. Setidaknya aku harus tau, di kota mana kini aku berada.
Hhhh, kenapa tubuhku tidak dapat berkompromi sekali ini saja! Rasanya lelah sekali, sepertinya makanan tadi tidak cukup menyuplai tubuhku yang tak menyentuh makanan beberapa hari.
Aku terus berusaha mendekati seseorang yang masih duduk di kursi halte. Meskipun tatapanku mulai kabur, berkabut tak jelas.
"Mas, Maaf..," hanya itu yang mampu kuucapkan saat tubuh ini benar-benar berada di hadapannya. Karena pada detik berikutnya, tubuhku ambruk tak berdaya.
Entah tubuhku terantuk apa, kerasnya lantai halte yang kotor, atau sambutan tangan orang itu yang entah siap atau tidak, melihat orang asing tiba-tiba terkulai di hadapannya.
Tapi aku benar-benar ikhlas jika saat ini jiwaku benar-benar terlepas. Biar kucari cinta pertamaku dengan jalan lain. Tak perlu bersama dengannya, menyaksikan dia bahagia dari alam lain saja rasanya sudah cukup.
Gelap, hening, sunyi, hanya itu yang kurasakan kini. Sungguh aku ingin waktu terlempar ke awal kembali. Agar aku dapat melewati jalan yang berbeda. Jalan yang tidak menyakiti siapapun. Jalan yang hanya ada aku dan Ronny, cinta sejatiku.
Jalan itu, apakah hanya khayalku saja?