"Ayo pergi ke rumahmu!" Rony melepaskan pelukan. Menyambar pergelangan tangan. Kembali memintaku untuk mengikuti langkahnya. Aku mengeraskan badan, tak ingin hal yang tidak-tidak membuat masa depanku luluh lantak. Maksudku, tidak bisakah kita bersabar untuk beberapa tahun ke depan. Toh kita masih belum masanya serius-seriusan. Rony menatap tajam, seolah tau kenapa aku enggan. "Kita temui orang tua angkatmu. Bilang sama mereka, kamu tidak ikut. Kamu tetap disini, bersamaku." "Tt–Tapi, Ron!" "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal lain, aku akan mengurus semuanya. Kamu tetap disini, tidak ikut pergi!" Argh, aku tidak mengerti lagi. Apa yang harus aku lakukan. Haruskah kembali kugadaikan masa depan? "Jangan Ron, aku mohon jangan gegabah." "Kenapa? Kamu benar-benar ingin meninggalkanku?

