Seperti malam minggu sebelum-sebelumnya, aku hanya menikmati kebersamaan dengan keluarga baruku. Bercanda di depan televisi, bercengkrama dengan Sulis atau Euis di teras belakang. Sesuai dugaanku, sangat menyenangkan berdiam diri di teras belakang. Aku bisa menatap bintang di langit gelap dengan puas. Menikmati angin malam berhembus kencang membelai rambutku yang ikut mengurai semua kenangan dan perlakuan manis Rony sepanjang seharian. Aku sudah tegaskan, tak bisa dan tak ingin pacaran. Tapi cowok tengil itu bersikukuh tetap ingin menungguku. Pedahal ya, bisa aja kan dia berkelana dulu gitu! Hiks, sedih amat aku dapet yang bekas. "Hayoo ngapain?" Ibu Dina menangkap bahuku dari arah belakang. Tau betul kalau bahu ini akan terjingkat dengan hebohnya. "Eh, Ibu. Lagi menikmati malam sen

