"Lu sudah denger kabar belum, Ron?" Parmin masuk ke dalam kamar langsung bertanya. Entah ke arah mana pertanyaan yang ia maksudkan. Si Parmin kan emang suka gak jelas. Selepas kejadian pemukulan, kami tidak saling membenci sama sekali. Tidak juga saling menyalahkan. Biasalah, laki-laki! Main adu gundu aja bisa sampe pukul-pukulan. Apalagi main cewek, sampe rebutan. Hahaha. Si Parmin cukup gentle seh. Kenapa aku mengatakan begitu? Karena tidak lama berselang, ia datang kembali meminta maaf dengan penuh penyesalan. Bilangnya seh dia dikuasai amarah. Kambing!! Sudut bibirku sampe pecah karena amarahnya dia. Dia aja gak tau, kalau aku juga sudah lama empet sama dia. Tapi gak ada tuh ceritanya mau gorok lehernya dia! Hehe, Becanda! Daging si Parmin mana enak!? Seharusnya Lidya

