Keputusan Bodoh

1003 Kata

Sebuah taksi berhenti di depan gedung pencakar langit bertuliskan Dirgantara Artha Graha. Lampu taman berpendar dengan indah, menerangi deretan bunga memanjang di sisi kiri pintu masuk. Sebuah lampu sorot menyinari maskot perusahaan ini, yakni sebuah miniatur pesawat terbang yang seolah melayang di udara. Monika turun dari pintu belakang taksi setelah membayar tagihannya. Dia sedikit ragu dan mempertanyakan keputusannya kali ini. Karena marah, dia justru berpikir ingin minta bantuan pada Rio. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sungguh keputusan yang bodoh. "Kenapa aku datang ke tempat ini?" Monika berbalik, enggan meneruskan langkahnya untuk mencari suami kontraknya di perusahaan ini. Lagi pula sudah larut malam, mana mungkin Rio masih ada di tepat kerjanya. "Dasar bodoh!"

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN