"Apa dosaku sampai bertemu pria gila sepertimu?!" "Penawaranku lebih baik dari lima juta yang kamu minta, bukan? Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?" "HAH?" Monika memutar bola matanya. "Jika aku menyetujuinya, aku bisa gila!" Monika bersikeras dengan egonya. Dia ingin mempertahankan secuil harga diri yang masih dimilikinya sebagai seorang wanita. "Bukankah kamu ingin kebebasanmu kembali?" "Cih!" Monika menoleh ke samping, enggan menatap wajah rupawan yang didambakan semua wanita. "Persetan dengan kebebasan yang kamu janjikan! Aku tidak akan menyenangkanmu!" Lagi-lagi Rio tersenyum. Jemarinya mengelus dagunya yang bersih, tak ditumbuhi sehelai rambut pun. Dia semakin bersemangat menggoda wanita ini. Jujur saja, hasratnya sudah teredam. Dia tidak lagi menginginkan tubuh Monika sete

