Pesona Monika

1224 Kata
"Nona Monika, saya harap Anda bisa bekerja sama." Leo berjongkok di sisi Monika sembari menyodorkan stop map merah di tangan. Dia tahu benar stok kesabaran tuannya tak tersisa cukup banyak. "Silakan." Keraguan kembali menyergap. Gadis itu berpikir cepat. Di sisa napas Jonathan Wu, beliau masih ingin melindunginya. Terlepas dari sikap buruknya di masa lalu pada sang ibu. Dengan tangan gemetar, Monika terpaksa mengambil pena yang Leo berikan. Dia menandatangani perjanjian itu dengan air mata berlinang. Hatinya sakit, perih, seperti ribuan sembilu tertancap di sana. Cita-citanya untuk menikah dengan Devan pupus sudah. Dia justru akan menjadi istri kontrak CEO gila yang kasar dan arogan ini. "Urus sisanya! Aku tidak mau tahu." Rio pergi, membanting pintu di belakangnya tepat setelah perjanjian itu ditandatangani oleh Monika. Tubuh tegapnya tak lagi terlihat, menghilang begitu saja. "Nona, mari ikut saya. Kita urus dokumen pernikahan Anda dengan Tuan Muda." Leo mengulurkan tangannya, berniat membantu Monika untuk berdiri. Tapi, Monika menggeleng. Ada hal lain yang lebih penting dibandingkan pernikahan. "Tolong urus pemakaman papa dengan layak," pinta wanita rambut panjang dengan air mata yang tak henti membasahi wajahnya. "Nona tenang saja. Akan ada orang yang mengurusnya nanti," bujuk Leo menyabarkan diri. Meski wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi suaranya terdengar lembut, bisa menenangkan hati Monika yang bergemuruh menahan tangis dan marah di saat yang bersamaan. "Tidak!" Monika menggeleng. Dia cukup keras kepala. "Urus papa dulu, baru aku akan mengikutimu." Leo mengembuskan napasnya. Dia harus menambah stok kesabaran untuk mengurus wanita ini. Jika menggunakan paksaan seperti sebelumnya, mungkin Monika akan kabur lagi. Itu akan menjadi masalah baru untuknya. "Kalian masuk! Urus mayat tuan Jonathan dengan layak," ucap Leo, berbicara sambil menekan tombol mungil yang melekat pada earpiece di telinganya. Tak lama kemudian, beberapa orang masuk ke ruangan. Mereka mengamankan tubuh Jonathan Wu yang semakin pucat. Mayat itu segera dibawa pergi. "Bisa kita berangkat sekarang, Nona?" Monika menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati, dia harus mengikuti aturan suami kontraknya. Hanya dalam sekejap mata, statusnya berubah menjadi istri seorang Rio Dirgantara. * Matahari mulai kembali ke peraduannya saat Monika keluar dari balik tirai. Gaun putih melekat di tubuh rampingnya, lengkap dengan mahkota di atas kepala. Wajahnya yang tadinya sembap, kini telah dirias sedemikian rupa, membuatnya begitu memesona. Urusan dokumen sudah terselesaikan. Kini hanya perlu pengambilan foto pernikahan seperti yang Leo jelaskan sebelumnya. "Tu ... Tuan ..." Leo sedikit tergagap, terpesona akan keindahan wanita yang tertangkap mata. Rio mengerutkan kening, menatap asisten pribadinya dengan tatapan heran. Ini pertama kalinya Leo tergagap. Apa yang membuatnya sampai seperti itu? Detik berikutnya, Rio menolehkan wajah, mengabaikan majalah otomotif yang sedari tadi menjadi perhatiannya. Tatap matanya mengikuti arah pandang Leo. Sepersekian detik, jantung Rio berhenti berdetak. Matanya terpaku pada ciptaan Tuhan di depan sana yang terlihat begitu menawan. Wajahnya yang cantik, selaras dengan gaun pengantin yang dipenuhi intan berlian nan menawan. Kasir minimarket yang Rio lihat sebelumnya, kini berubah menjadi bidadari yang membelalakkan mata. Sempurna. Sungguh kecantikan yang tiada tara. "Mari silakan, Nona." Seorang wanita yang tampaknya pemilik butik ini, meminta Monika untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Dia tak segan meraih jemari lentik pengantin wanita dan mengajaknya mendekat ke arah dua pria di depan sana. Kecantikan Monika berhasil menyihir mereka, membuat keduanya mematung dan hampir melupakan napasnya. "Tuan Dirgantara, ini calon istri Anda." Wanita itu mengulurkan tangan Monika, berharap Rio menyambutnya. Hening. Rio masih terpukau akan keindahan yang tak pernah dilihatnya. Dia kehilangan kendali atas tubuhnya, terlena di dalam pesona Monika. "Tuan ...." Wanita pemilik butik memanggil untuk kedua kalinya. "Cantik," puji Rio tanpa sadar. Wanita paruh baya itu beradu pandang dengan gadis cantik di sebelahnya, kemudian tersenyum. Monika menundukkan wajah, malu melihat suaminya yang diam di tempatnya dengan mulut menganga. "Tuan, air liur Anda menetes," canda wanita penata rias itu sambil menutup mulutnya, menyembunyikan tawa agar tidak menyinggung perasaan kliennya. Rio tergagap. Dia segera menutup mulutnya, bahkan mengusap ujung bibirnya. Tak ada liur atau apa pun di sana, membuat wajah tampan itu merah merona. Di saat yang sama, Leo juga mendapatkan kembali akal sehatnya. Dia segera menundukkan kepala, merasa bersalah telah jatuh dalam pesona Monika, istri sah tuannya. "Ini pengantin Anda." Wanita itu kembali mengingatkan. Rio berdeham. "Bawa dia ke ruangan sebelah!" Rio menetralkan perasaannya. Jujur saja, dia gugup sekarang. Ini pertama kalinya seorang wanita membuatnya kehilangan fokus. Berbahaya! CEO arogan itu kembali memasang wajah angkuh, kemudian berbalik menuju pintu yang menghubungkannya dengan ruangan pemotretan. Tangannya mengepal erat, berusaha menenangkan jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Dengan gugup dia membenahi dasi yang terasa mencekik lehernya. "Silakan, Nona." Leo mempersilakan gadis ini untuk menyusul Rio. Dia meraih tangan Monika dan membimbingnya berjalan agar tidak terjatuh. Di belakang mereka, dua orang pegawai butik membantu mengangkat pakaian pengantin yang terhampar di lantai. "Nyonya, ponsel Anda terus berdering." Seorang pegawai butik mendekat, menyerahkan benda pipih di tangannya pada wanita yang tengah membantu Monika berjalan di atas karpet merah. "Ah, maaf saya permisi." Monika terenyak saat wanita itu pergi begitu saja, membuatnya hampir terjerembap ke lantai. Dia tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, langkahnya oleng saat kehilangan pegangan. "Hati-hati, Nona." Leo dengan sigap menangkap tubuh ramping Monika, mendekapnya dengan erat. Tubuh mereka bersentuhan, menimbulkan getaran luar biasa di dalam diri pria berwajah datar ini, seolah listrik ribuan volt menyambarnya. Tatap matanya tertuju pada wajah ayu Monika, kemudian turun memerhatikan bibir tipisnya yang merah merona. "Manis." Bisikan itu tersimpan rapat-rapat di dalam hati Leo, pria dewasa yang hingga kini masih sendiri. "Ma ... maaf." Leo melepaskan diri, menarik tangannya dari pinggang ramping yang sesaat lalu didekapnya. Dia segera menjauh begitu Monika bisa berdiri stabil di tempatnya. Pria ini berusaha menguasai diri, menekan iblis yang hampir saja menggodanya. "Tolong ambilkan sepatu yang lain. Nona tidak nyaman." Leo memalingkan wajah, menyembunyikan rona kemerahan yang tampak di pipinya. Dia malu karena hampir berpikiran yang tidak-tidak pada istri tuannya. Monika Alexandra telah resmi menjadi nyonya Dirgantara. Petugas pencatatan sipil bekerja dengan cepat, seolah dunia mereka akan tamat jika tidak menuruti kemauan crazy rich man sekelas Rio Dirgantara. Sepatah kata dari mulutnya, setara dengan titah seorang raja yang begitu berkuasa. Tak lama kemudian, Monika sampai di ruang pemotretan. Di sana tampak Rio berdiri menghadap dinding kaca yang menjadi penyekat ruangan ini dengan ruang hampa di luar sana. Tubuh tegapnya terlihat bersinar, terkena bias cahaya matahari yang berwarna kekuningan. "Tuan, kita bisa memulai pemotretannya sekarang." Leo mendekat ke arah tuannya dan melapor situasi terkini. "Umm. Lakukan dengan baik. Jika hasilnya buruk, ini akan jadi hari terakhirmu bekerja untukku!" "Saya mengerti, Tuan." Leo menundukkan kepala. Dia tahu konsekuensi pekerjaannya. Gajinya yang lima kali lipat dibandingkan rekan-rekan yang lain, tentu saja memiliki risiko yang setimpal. Salah sedikit saja, pekerjaannya hilang. Bahkan, nyawanya bisa saja melayang. Monika dan Leo berdiri di tempat yang sudah disediakan. Dekorasi bunga-bunga kering tersusun rapi sebagai background-nya, menampilkan sisi estetik yang mengagumkan. "Lebih dekat lagi." Fotografer mengarahkan Rio dan Monika, meminta pasangan pengantin baru itu agar tidak menyisakan jarak satu sama lain. Namun, keduanya tetap terlihat renggang. Tak ada kedekatan sama sekali. Rio gugup bersanding dengan Monika. Untung saja dia berdiri satu langkah di belakang gadis itu, jadi tak harus menanggung malu karena wajah tegangnya. "Tuan, buang kekhawatiran Anda. Rileks saja," ucap pria yang terus mengambil gambar tanpa henti. Mendengar arahan tersebut, membuat Monika menoleh. Dia penasaran seperti apa ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh suami kontraknya. Dia khawatir? "Ap ... apa yang kamu lihat?" Rio tergagap saat matanya beradu pandang dengan Monika. Dia memalingkan wajah dengan sengaja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN