Jack menggenggam erat tangan Clarissa saat melangkah mendekati pintu masuk. Satu tangannya lagi menggendong putranya. Pintu terbuka membuat Clarissa menunduk. Ia takut menatap orang yang ada di depannya. “Kalau kamu pulang dengan wanita ini lebih baik jangan pulang sekalian,” ucap pria berbadan tegap di depan mereka. Rambutnya sudah memutih, tapi ketegasan dan wibawanya tidak sedikit pun luntur. Clarissa tahu sampai kapan pun dirinya tidak akan pernah diterima walau ia bisa memberikan mereka keturunan. “Pa, aku baru pulang,” kata Jack. “Papa lebih senang kamu tidak pulang dari pada membawa wanita ini ke rumah. Jika kalian minta restu maka kedatangan kalian sia-sia,” jawabnya tegas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Clarissa. Rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan kini kembali

