“Lama sekali buka pintunya,” ujar pria tinggi berbadan tegap itu. Clarissa menatapnya sejenak lalu menutup pintu sepelan mungkin. Papa mertuanya berjalan mendahului sembari melihat-lihat rumah yang ditempati keluarga putranya. Tatapan pria itu terkunci pada foto keluarga berukuran kecil yang menggantung di tembok. Foto itu diambil saat Jack masih kecil. Bahkan sebagian foto itu sudah rusak. “Maaf, Pa, kami gak punya ART jadi—” “Gak ada hubungannya ART dengan lamanya buka pintu. Kamu gak senang saya datang ke sini?” Tatapan papa mertuanya membuat langkah kaki Clarissa terhenti. Papa mertuanya lalu duduk sembari merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa. Nampak ia begitu menikmati kenyamanan sofa berwarna hitam itu. “Aku buatkan minum dulu,ya,Pa.” Clarissa ingin beranjak, tapi papa m
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


