TUYUL MILENIAL BAGIAN 1

1056 Kata
Di Kota Surabaya terjadi sebuah kericuhan yang disinyalir diakibatkan oleh bobolnya data bank. Banyak nasabah yang melaporkan telah kehilangan uang bahkan sampai Rp. 0. Namun pihak bank tidak bersedia mengganti uang mereka, sebab dilihat dari laporan ternyata uang tersebut ditarik dan bukan hilang begitu saja. Tidak hanya terjadi pada satu bank saja, melainkan hampir semua bank mengalami hal yang serupa. Para nasabah yang kesal dan kecewa pun meminta pihak bank bertanggung jawab. Hal ini mnyebabkan terjadinya kepanikan dan kericuhan di beberapa bank sekaligus. Semua nasabah bersaksi bahwa mereka tidak melakukan penarikan dana apalagi sampai mengosongkan isi rekening seperti yang terjadi pada rekening para korban. Ratusan nasabah melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib. Mereka juga membuat sebuah himpunan yang berisi nasabah yang telah menjadi korban hilangnya uang dari rekening mereka. Polisi masih melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. *** Peter menonton berita di TV sambil menikmati sarapan nasi pecel dan secangkir kopi. Aku duduk di depannya, ikut meliat layar TV 32 inch yang menempel di dinding. “Hari ini Ki Mengkis pindah kesini,” ujarku. Ki Mengkis yang awalnya nggak mau pindah dari rumah yang ada di desa pun memilih pindah ke kota setelah merasa kalau karir paranormalnya akan lebih berkembang disini. Awalnya kami berpikir kalau orang kota itu realistis. Nggak kenal klenik, ghoib, supranatural atau semacamnya. Ternyata kami semua salah. Orang kota pun sebagian masih bahkan ikut memanfaatkan ilmu itu untuk kepentingan mereka. “Biar Rascal yang bantu Ki Mengkis,” ucap Peter sambil terus mengikuti berita di TV. “Kita juga harus bantu.” Sebagai anak angkat, tentu saja aku harus membantu Ki Mengkis mengatur barang-barangnya di rumah ini. Sementara itu, Peter juga harus bantu karena dia suamiku –menantu angkatnya—. “Aku sibuk. Ngomong-ngomong apa jin botolmu sudah terkumpul semua?” tanya Peter membuatku menggeleng. “Tinggal satu, tapi kompasnya mendadak nggak jalan,” ujarku membuatku sedih. Meskipun Ki Mengkis nggak memintaku cepat mengumpulkan semua jin dalam botol itu, tapi sebagai murid sekaligus anak angkat tentunya aku ingin masalah ini cepat selesai. Biar nggak membebani pikiranku. “Aku mau buka rekening. Ayo ikut aku dan bawa kompasmu,” ujarnya membuatku heran. Ngapain bawa kompas ke bank dan siang hari pula. Eksistensi para jin botol hanya pada malam hari. Jadi kompasnya nggak mungkin bekerja di siang hari seperti ini. Tapi sebagai istri yang baik, aku mengikuti saja permintaannya. Aku langsung ganti baju, kemeja kotak-kotak dan celana panjang. Rambutku sengaja kuurai biar kelihatan agak kota sedikit. Berada di bank, aku dan Peter harus mengantri panjang di ruang tunggu. Sebagian besar orang-orang datang untuk komplain karena mendadak uang mereka di bank raib begitu saja. “Itu uang buat pernikahan anak saya. Kok bisa ilang begitu saja. Saya nggak merasa menarik uang itu. Tapi kenapa dari tadi dibilang sudah saya Tarik uangnya,” ujar seorang ibu-ibu yang badannya gemuk dan pendek. Ia menangis meraung-raung sambil menjelaskan ke petugas. Sesekali menangis dan terisak. Aku melirik Peter yang sedang melihat para korban yang sedang panik , ada yang menangis meraung-raung bahkan ada yang pingsan. Kondisi bank menjadi gempar. “Kamu yakin mau nabung? Sudah bener duit kita disimpan di balik kasur juga,” ujarku membuat Peter memandangku sambil menyipitkan mata. Aku langsung merapatkan bibir karena kalau Peter sudah seperti itu artinya aku sudah salah omong. Setelah Peter buka rekening, kami segera keluar dari bank. Melewati ruang khusus ATM dimana ada beberapa orang yang sedang melakukan transaksi. “Kita ke ATM dulu,” ujar Peter sambil menggandeng tanganku masuk ke ruangan itu. Seorang bapak-bapak sedang mengambil uang yang bikin mataku hijau karena melihat tumpukan uang di ransel yang diletakkan di dekat kakinya. Bapak-bapak itu sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Ia memandangku dengan matanya yang nggak ada sorot kehidupannya. Hal itu membuatku merasa aneh. Baru kali ini aku melihat orang yang matanya nggak bercahaya. Apalagi gerakan tubuhnya yang lebih lambat dari orang biasa. Lebih kaku pula, seperti robot yang dijalankan oleh orang lain. Hanya saja aku nggak berani bertanya atau bertindak macam-macam. Takutnya kalau ternyata aku yang salah menilainya. Bisa jadi orang itu memang seperti itu kan. Setelah dari ATM, kami segera masuk mobil yang diparkir di depan bank. Aku segera memakai sabuk pengaman. “Peter, ayo jalan!” ujarku karena Peter masih duduk sambil memandangi gedung bank. “Kamu sudah lihat kan tadi?” tanyanya yang bikin aku mengerutkan kening karena nggak paham apa yang dia bahas. “Soal lelaki yang kamu perhatiin tadi. Dia kerasukan,” ujarnya membuat mataku membulat. Pantesan aja aku merasa aneh sama orang itu. Hanya saja aku nggak yakin karena lagi-lagi situasinya siang, dengan banyak orang dan tingkahnya nggak seperti orang yang kerasukan pada umumnya. Setahuku orang yang kerasukan akan menggila, bisa menjerit, menangis, marah dan melakukan hal-hal diluar kebiasaan manusia normal. “Tapi aneh sekali. Kok orang itu bisa ambil duit di ATM ya?” Aku agak menelengkan kepala dengan arah mata tertuju pada ruang ATM. Di ruang ATM itu, ada seorang wanita yang membawa tote bag besar. Gayanya sama seperti bapak-bapak tadi. Dia berjalan pelan, nggak menengok ke kanan dan nggak menengok ke kiri sampai sering menabrak orang-orang yang kebetulan melintas. Aku dan Peter saling berpandangan karena kami sama-sama heran dengan sikapnya. “Aku akan ngikuti dia,” ujarku sambil melepas sabuk pengaman lalu keluar mobil. Orang itu membawa tote bagnya di pundak dengan santai. Jalannya seperti robot dan kedua kakinya agak diseret. Aku ada beberapa langkah di belakangnya dan sepertinya ia sadar kalau sedang diikuti. Tiba-tiba ia berbalik badan, beruntung karena sangat lambat jadi aku bisa memutar badan ke kanan seakan mau jalan ke kanan. Setelah beberapa saat pelan-pelan aku kembali memutar badan, melihatnya yang kembali melangkah dengan pelan lalu masuk ke sebuah angkutan umum akhirnya melewatiku. Di dalam mobil angkutan berwarna biru itu penuh dengan orang-orang yang membawa tas-tas besar. Wah ini bukan masalah yang sepele. Aku harus menyelidiki kasus ini lebih lanjut. “Honey, ayo masuk!” Waktu aku sibuk melihat angkutan umum berisi orang yang membuatku teringat film zombie walau nggak semengerikan itu, ternyata Peter sudah ada di sampingku. Aku pun segera masuk ke mobil dan memakai sabuk pengaman. Peter memacu mobilnya dengan cepat untuk membuntuti mobil angkutan yang membawa orang-orang tadi. “Menurutmu mereka kenapa? Kena gendam?” tanyaku masih sulit memikirkan masalah ini. “Gendam nggak seperti in ikan?” Peter malah balik bertanya. Aku juga berpikir begitu, tapi alasan apalagi yang bisa dipakai selain gendam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN