Keinarra Love Story - 4

2313 Kata
"Butek banget sih, muka lo, Kei. Kenapa lagi? Sesi galau lo belum selesai? Katanya udah ketemu sama orangnya." Mengembuskan napas panjang, Kei yang sedari tadi hanya menonton tanpa minat film yang di putar dalam home theater karena ia tengah malas keluar, saat Citra mendatangi rumahnya dan merengek ingin di temani menonton film, mengingat pacar gadis itu tengah pulang ke Jerman selama satu minggu. Dan itu bukan kabar yang baik untuk Kei, karena Citra akan menempel padanya dengan alasan bosan. Seperti sekarang contohnya, ia tak berminat untuk keluar, tapi sahabatnya itu tiba-tiba memekik riang sembari mengatakan ingin menginap. Dan tak butuh persetujuan, Citra sudah menggelayuti lengan kanannya dan berjalan memasuki home theater dikediaman orangtuanya. Jadi, di sinilah mereka sekarang. Nyaris setengah jam Kei hanya diam sembari menatap layar yang tengah menayangkan sebuah film komedi romantis, tanpa minat. Berbeda dengan Citra yang tertawa-tawa, lalu tak lama menangis tersedu-sedu. "Lagian penolong lo itu kaya apa sih bentuknya? Sampai membuat seorang Keinarra Mahawira dibuat GeGaNa, alias, Gelisah, Galau, Merana. Duh, jadi pengen nyanyi," gelak Citra yang hanya ditanggapi dengan dengkusan dari Kei, sebelum melemparinya dengan popcorn yang berada dalam dekapan. Merebut mangkuk berukuran cukup besar berisi popcorn dari pelukan Kei, Citra kembali buka suara meski matanya berada pada layar lebar di depannya, "ya lo, tumben banget galau soal cowok. Biasanya mereka yang galau sampai patah hati karena lo tolak sebelum ditembak. Baru di deketin udah pasang tembok tinggi, bikin cowok-cowok frustasi." "Ck, bentuk? Enak aja! Lo pikir dia semacam adonan?" Sewot Kei yang tak terima sekaligus sebal pada Citra. Tapi sahabatnya itu hanya mengedikkan bahu tak acuh dengan tatapan yang tetap bertahan pada film yang kini tengah mereka tonton. "Apa sih yang nggak bisa lo dapat? Bahkan data diri pria itu udah ada di tangan lo, kan? Yaudah, tinggal atur strategi buat dapetin dia." "Dia beda," ucap Kei dengan nada gusar. "Beda gimana?" Tanya Citra yang kali ini meletakan atensi pada sahabatnya yang berwajah muram. Meski penerangan saat ini sedikit remang dan hanya cahaya dari layar yang bisa membuatnya melihat kemuraman dalam diri Kei. Tak ada lagi sosok ceria yang biasanya mampu mengimbangi kegilaannya, meski Kei masih bisa kalem bahkan berubah menjadi sosok yang tampak angkuh pada mereka yang gadis itu tak suka.  "Gue awalnya cuma mau lihat tempat kerja dia," mulai Kei bercerita, mereka bahkan melupakan film yang masih terputar dilayar, "tapi akhirnya nekat buat temuin dia saat itu juga." "Ya, itu sangat Kei sekali," cibir Citra yang membuat Kei mencebik sebal, "tak sabaran jika sudah menginginkan sesuatu," tambahnya yang dengan berat hati Kei setujui. "Ya, lo bayangin aja sendiri. Galau berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Terus tiap malam otak gue ngebayangin sosoknya yang ... Uh! Keren banget pas nolong gue waktu itu. Dan kemudian, keberadaannya berhasil gue temukan. Jadi yaudah, gue langsung temui aja orangnya." "Terus?" Tanya Citra sembari memasukkan popcorn ke dalam mulutnya. Menyaksikan kegalauan sahabatnya ternyata tak kalah seru dengan film yang tadi ia saksikan. "Dia dingin gila," keluh Kei sembari menyugar rambut coklat panjangnya. "Dia meriang? Kok masuk kerja? Kalau pingsan gimana? Badannya udah dingin gitu," celoteh Citra yang mendapat tatapan sengit dari Kei, hingga membuatnya hanya bisa terkekeh garing, "salah ya?" Tanyanya sebelum kemudian meringis kecil. "Maksud gue itu sikapnya dia ke gue, dingin banget. Bukan badannya yang dingin gara-gara meriang," jelas Kei yang berusaha untuk menambah stok kesabaran yang selalu harus dipertebal saat berbicara dengan Citra. "Oh ... Bilang dong yang jelas! Mana gue tau kan?" Mencondongkan tubuh ke arah Kei yang duduk tepat di sampingnya, Citra menaikan satu alis mata, "tapi boleh juga tuh cowok, bisa imun sama pesona lo." "Mana gue tau?" Jawab Kei mengedikkan bahu tak acuh, "padahal teman-temannya udah heboh pas gue datang," kekehnya saat melihat wajah-wajah penasaran yang kemudian berubah ternganga tak percaya saat ia turun dari mobil. Tapi hatinya seketika muram saat mengingat Adhi, pria yang dicarinya, justru tak memberikan reaksi apa pun selain raut wajah terganggu karena kehadirannya. Astaga, yang benar saja? Untuk pertama kalinya, kehadiran Kei tak diharapkan? Menyebalkan! "Itu berarti, dia bukan tipe pria yang mudah luluh. Lo harus atur strategi, biar bisa dapetin dia." "Caranya?" Menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, Citra berdeham sebelum kembali bersuara, "lo kasih perhatian sampai dia selalu terbayang-bayang." "Ck, boro-boro. Bukannya suka, yang ada dia risih sama gue." "Loh, bagus!" "Kok bagus?" Tanya Kei yang benar-benar tak mengerti dengan isi kepala sahabatnya yang saat ini tengah memberikan saran yang sangat membingungkan. "Gini loh Kei, meskipun awalnya dia nggak suka sama kehadiran lo. Tapi kalau lo terus-menerus absen muka depan dia, lama-lama keberadaan lo terdeteksi dihati dan pikirannya. Percaya sama gue. Lo harus ingat kata pepatah, benci bisa jadi cinta." Ungkap Citra yang membuat Kei terdiam, berusaha mencerna semua saran yang kini berjejal dikepalanya, "lo masih ingat Revan nggak?" "Mantan lo yang kapten basket pas kita SMA?" "Iya, tau sendiri itu cowok sinis gila sama gue. Ngeliat gue udah kaya nemu bakteri yang perlu dijauhi. Padahal kan, nggak semua bakteri jahat ya, ada juga kok bakteri baik." "Hubungannya sama masalah gue apa?" Tanya Kei yang masih kesulitan untuk mengerti di mana benang merah yang bisa menyambungkan persoalannya dengan kisah cinta masa SMA Citra dengan sang kapten basket waktu itu? "Ya ada hubungannya. Lo bisa pakai trik gue," ucap Citra sembari menaik-turunkan alisnya dengan jenaka, "tapi harus tebal muka kuncinya. Ya, namanya juga usaha. Buktinya gue berhasil kan bikin Revan yang tadinya benci, berbalik jadi bucin. Sayang aja dia harus kuliah di Inggris, terus tiba-tiba hilang kontak. Jangan-jangan udah dapat bule sampai lupa sama gue!" Sebal Citra yang membuat Kei tergelak. "Astaga, apa ini? Sahabat gue belum move on sama sang kapten basket itu ternyata ya?" Goda Kei sembari mencolek-colek dagu Citra yang ditepis kasar dengan wajah bersungut kesal. "Dih, mohon maaf ya, itu cowok udah gue lupain dari dulu." "Masa? Ini buktinya masih terbayang-bayang kenangan yang dulu. Kangen pasti, ngelapin keringat Revan di pinggir lapangan yang habis tanding." "Iya, abis itu di sinisin sama hampir setengah populasi siswi di sekolah kita." Sebal Citra yang memasukan banyak popcorn ke dalam mulutnya hingga kedua pipinya menggembung lucu, "dh sna, gh mu nton hi," ucapnya tak jelas dengan mulut penuh. "Lo ngomong apa kumur-kumur? Telen dulu makanya." Omel Kei yang tak memedulikan delikan sebal yang Citra layangkan padanya. Mengunyah cepat, sebelum kemudian menelan popcorn yang belum terlalu halus dimulutnya. Citra menoleh kearah Kei yang tengah menatapnya dengan satu alis terangkat, "udah sana," usirnya yang berhasil membuat Kei kebingungan. "Kemana?" "Ck, gimana sih? Katanya mau memulai strategi supaya bisa dapat pria yang bikin lo galau berkepanjangan." "Caranya?" Tanya Kei meringis sembari menggaruk pelipis saat mendapati wajah sebal dari sahabatnya. "Astaga Kei, lo kok jadi payah gini soal cowok? Biasanya ahli." "Mana ada? Lo ngarang ya, kapan gue ahli soal cowok. Itu sih lo!" Sewot Kei yang membuat Citra tergelak puas. "Oh, gue ya?" Tunjuknya pada diri sendiri, "lupa gue, kalau lo belum pernah pacaran sama sekali. Padahal ada banyak cowok yang deketin. Gue sampai takut sebenarnya lo cinta sama gue, Kei—aduh! Kok bar-bar sih, lo?!" Sungut Citra yang mencebik sebal karena rambutnya baru saja dijambak sepenuh hati oleh sahabatnya sendiri. "Makanya jangan sembarangan." "Ya kan gue bilang ini dugaan, ya habisnya lo nggak pernah dekat sama cowok. Apalagi sampai punya status hubungan sampai saat ini. Kan gue ngeri." "Ck, itu karena gue belum menemukan yang cocok." "Sekalinya ketemu, tapi cowoknya nggak mau ya? Eh, maaf, ampun nyonya, nggak lagi-lagi." Citra segera menghindar saat melihat pergerakan Kei yang berusaha menjambaknya untuk yang kedua kali. Astaga, bisa habis rambutnya dicabuti sama Kei.   "Makanya jangan ngeselin!" "Iye, maaf, udah sana telepon." "Telepon siapa?" "Cowok lo lah! Eh, maksud gue calon cowok lo. Kan punya data diri tentang dia, termasuk nomor telepon kan pasti? Sana pendekatan secara perlahan. Ajak basa-basi aja dulu, lama-lama juga nanti berubah jadi resmi." Goda Citra dengan menaik-turunkan alis matanya hingga membuat Kei mendengkus sebal, sebelum bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dengan tergesa-gesa. Meski sebenarnya, ia tengah menyembunyikan rona merah yang menjalari wajah, leher, hingga telinga. Beruntung, ruangan dalam keadaan remang. Jika tidak, bisa habis dia jadi bahan ledekan Citra yang bisa berubah menjadi sangat menyebalkan. Setelah kepergian Kei, Citra kembali bersandar nyaman dalam duduknya, bersiap untuk melanjutkan acara menonton yang sudah tertinggal cukup jauh alur ceritanya. Tapi tetap tak menyurutkan minat gadis itu untuk melanjutkan, meski kali ini hanya seorang diri. Karena sahabatnya tengah berjuang untuk mendapatkan sang pujaan hati. ***  Meninggalkan Citra yang masih betah di home theater, Kei justru tengah berada di dalam kamarnya. Duduk dengan posisi bersila di tengah-tengah kasur, menatap gamang pada ponsel dalam genggaman. Mengembuskan napas, Kei berusaha untuk menyingkirkan ragu yang sedari tadi mengoyak keberaniannya. Oh, ayolah! Sejak kapan seorang Keinarra Mahawira menjadi sepenakut ini? Terlebih, ia sudah terbiasa menghadapi para pria sedari duduk di bangku SD. Ya, SD, bahkan pernah ada bocah laki-laki dengan gigi tanggal di area depan, pernah menyatakan cinta padanya sembari sesekali mengusap ingus dengan lengan seragam sekolah. Pengalaman yang sampai saat ini menjadi bahan olok-olokan Citra untuknya. Beruntung, gadis itu sepertinya tak mengingat peristiwa yang hingga kini membuatnya dongkol. Karena bocah itu menyatakan cinta di lapangan sekolah setelah upacara bendera. Hingga akhirnya di giring ke kantor guru untuk diberi pengertian. Yang menyebalkan, Kei harus ikut serta. Astaga ... Entah seperti apa sosok teman masa kecilnya itu? Semoga saja tak menjadi perayu ulung yang hanya bisa mematahkan hati para wanita. Mengais keberanian yang sebelumnya tercecer, jempol tangan kanan dengan kuku yang berhias kuteks warna pink itu akhirnya menekan nomor ponsel yang tak ia beri nama selain tanda hati berwarna merah. Ya, itu terlihat menggelikan. Apalagi status mereka bukan pasangan kekasih. Lebih parahnya, Adhi memperlakukannya seperti orang asing. Memang masih asing, tapi bukankah mereka bertemu meski dalam suasana yang sangat jauh dari kata baik? Adhi bahkan sampai terluka karena menyelamatkannya. Walaupun pria itu mengatakan, tetap menolong siapa pun yang kala itu dalam keadaan bahaya seperti Kei. "Halo?"  Kei berjengit dan nyaris melempar ponsel yang berada ditangannya. Terlalu sibuk melamun, ia sampai tak sadar jika teleponnya sudah diangkat oleh Adhi. "Astaga ... Gue harus ngomong apa?" Bisik Kei sembari menggigit kuku jempol kanannya, sementara tangan kirinya masih menggenggam ponsel yang menghubungkan dengan Adhi. Semua ucapan yang sudah Kei susun di dalam kepala. Seketika bubar hanya dengan mendengar suara berat Adhi melalui sambungan telepon. Kei terlalu gugup hingga kepayahan menenangkan degup jantungnya. Ah, andai saja Citra berada di sini. Meski kadang bersikap menyebalkan, tapi tak bisa Kei pungkiri, jika sahabatnya itu bisa diandalkan. Terutama masalah seperti ini. "Halo?" Suara Adhi kembali terdengar, membuat Kei menyeka keringat yang membasahi lehernya dengan punggung tangan. Seharusnya Kei menelpon Adhi saat berada di dekat Citra. Setidaknya ia tak kelimpungan karena rasa gugup dan bingung seperti ini. Tapi ia tadi berpikir jika sahabatnya itu pasti akan mengolok-oloknya, jadi Kei berinisiatif menelpon Adhi di saat Citra masih sibuk menonton film. Ah! Kenapa sesulit ini hanya untuk berbicara dengan Adhi? Mereka bahkan tak sedang saling bertatap muka. Hanya terhubung melalui sambungan telepon. Tapi mendengar suara maskulin Adhi saja, sudah berhasil membuat Kei mati kutu. "jangan pernah hubungi gue, hanya untuk lelucon menyedihkan seperti ini. Siapa pun lo di sana, tolong ingat itu baik-baik, mengerti?!" Mampus!  Adhi marah? Astaga ... Bagaimana ini?! "T—tunggu!" Seru Kei lantang karena takut Adhi akan menutup sambungan teleponnya. "Lo siapa? Dan buat apa telepon gue malam-malam begini?" Meremas bantal guling yang berada di pangkuan untuk menyalurkan rasa gugup yang tengah menggelayuti, Kei akhirnya memberanikan diri untuk menjawab, "A—aku, minta maaf sudah mengganggu. Dan, nggak ada niat buat mengerjai kamu. Tadi itu, aku masih terlalu gugup." akunya jujur. "Anda siapa?"  Kei mengernyitkan kening bingung karena Adhi tiba-tiba saja lebih kalem, tak lagi ketus seperti sebelumnya. Bahkan sekarang, berbicara dengan bahasa yang begitu formal. "A—aku, Kei," jawab Kei yang kemudian segera memeluk lebih erat bantal guling dalam dekapannya, lalu menggigit guling itu yang ia jadikan pelampiasan, karena saat ini perasaannya seperti tengah diaduk-aduk. "Kei?" Tanya Adhi dengan nada bingung, tapi berhasil membuat Kei ingin berteriak karena namanya yang diucapkan oleh Adhi begitu merdu dalam pendengarannya. "Ya?" Jawab Kei malu-malu dan berusaha untuk tak menjerit kesenangan. "Kei siapa?" Tanya Adhi kemudian, yang berhasil meredupkan semua gegap gempita penuh rasa bahagia yang sebelumnya meledak-ledak di hati Kei. "Kamu ... Lupa lagi?" Tanya Kei sembari mencebik, tak peduli jika Adhi tak bisa melihat wajahnya yang tengah merengut masam. "Maaf sebelumnya, apa kita pernah bertemu?" A—apa dia bilang? Astaga ... Kei benar-benar tak percaya sekaligus dibuat takjub dalam waktu bersamaan. Bagaimana bisa pertanyaan itu terucap? Apa mereka pernah bertemu? Yang benar saja?!  Tentu saja mereka pernah bertemu. Dua kali bahkan! Dan yang terbaru adalah tadi siang! Benar, apa yang Citra katakan padanya. Adhi adalah pria pertama yang berhasil imun terhadap pesonanya. Maaf, Kei tak bermaksud menyombongkan diri. Tapi selama ini, para pria yang selalu mengaku pernah berjumpa dengannya di waktu atau acara tertentu, yang sayangnya tak Kei ingat sama sekali. Entah karena ia lupa, atau pria itu yang membual hanya untuk mencari perhatiannya. Tapi yang jelas, dalam hal ini. Kei tak membual pada perasannya pada Adhi.  Menelan dongkol, Kei mengela napas demi mengais sisa ketenangan yang hanya segenggam tangan, sebelum kemudian kembali berbicara, "Kan tadi siang kita ketemu. Kamu kenapa lupa terus? Biasanya muka cantik aku susah untuk dilupakan!" ucapnya menggebu-gebu karena ternyata tak bisa mengendapkan rasa kesal pada Adhi yang seolah begitu sulit untuk mengingat sosoknya. Hening meraja, keduanya sama-sama bungkam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya suara Adhi kembali tertangkap pendengaran Kei yang sudah bersiap sedari tadi. Penasaran akan respon yang pria itu berikan. "Oh," jawab Adhi yang terlampau singkat. Kei ternganga tak percaya. Apa ia tak salah dengar? Tapi pria itu memang hanya mengatakan 'oh' untuk merespon ucapannya. "Kenapa 'oh' doang?!" Protes Kei yang kali ini tak bisa menahan rasa kesalnya. Tak ada lagi sosok malu-malu sekaligus gugup. Kini sudah berganti menjadi Kei yang garang. "Memangnya gue harus jawab apa?" "Ck, lupakan, aku mau langsung ke inti pembicaraan. Kamu ternyata ngeselin," keluhnya yang hanya ditanggapi dengan gumaman tak jelas oleh Adhi, "aku mau ketemu sama kamu. Ada hal yang ingin dibicarakan." Terdengar helaan napas panjang, yang tak lama disusul oleh suara Adhi, menjawab ucapan Kei yang telah menunggu dalam harap-harap cemas, "maaf, tapi gue rasa, nggak ada yang perlu dibicarakan. Urusan kita sudah selesai sejak gue pulang dari rumah sakit waktu itu. Semoga anda mengerti, Nona Kei. Selamat malam." Tut ... Tut ... Tut .... Meneguk ludah kelu, ponsel yang sebelumnya tertempel ditelinga kanannya meluncur jatuh. Membuat Kei tertawa hambar, sementara tangannya mulai sibuk menyeka air mata yang entah sejak kapan sudah berjatuhan. Ini sudah yang kedua kali, seorang Adhitama Pradana. Berhasil mematahkan hatinya hingga begitu menyedihkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN