Brak! Tanpa basa-basi dan sopan santun Jaka mendobrak pintu kepala sekolah. Dari parkiran ia berlari menuju ruangan ini di mana semua guru menatap nya penasaran apalagi wajahnya kini di penuhi oleh lebam. "Jaka!" teriak Kaira yang kebetulan di sana. Kakaknya itu seperti habis menangis tanpa ada Kayla di sisi mereka. Jaka menghela napas dengan tertatih-tatih berjalan mendekati Eko. Setidaknya ia harus menyelesaikan ini karena sudah berjanji dengan Puspa. "Menakjubkan!" ujar Eko langsung memandang Kaira dan Jaka secara bergantian. "Kalian sudah janjinya akan ke sini barengan?" tanyanya kemudian. Jaka mendecih sinis. "Jelaskan!" Hanya satu kalimat itu keluar kentara ia sudah muak akan hal ini. Ia pikir Eko baik karena kerap kali menolongnya di masa sulit. Hingga di mana Jaka yang belum m

