*** Manda menghembuskan napasnya dengan lega setelah ia sampai di depan rumah Dilla. Betapa sebenarnya Manda ingin cepat-cepat angkat kaki dari restoran itu tadi setelah melihat Arfa bersama Vivian namun ia masih cukup waras untuk membawa kakinya berlari dari sana. Lagi pula Manda tidak tega meninggalkan Dafa begitu saja. "Dasar!" ujar Manda. Harinya yang mulai membaik pasca pengusiran yang Arfa lakukan itu terpaksa harus kembali terluka. Pedihnya karena merasa tidak dianggap cukup berarti oleh lelaki itu saja sudah membuat Manda misuh-misuh saat membereskan kopernya hari itu. Sekarang ia harus dihadapkan secara langsung dengan kemesraan sepasang kekasih itu. Astaga!!! Haruskah ia meratapi semua ini?? Padahal perasaannya baru tumbuh dan belum berkembang. Ck. Kenapa Manda merasa semudah

