Susi: Hallo, apakah kalian masih di sana?
Irana: Tidak, Sus. Kami sedang dalam perjalanan pulang. Ada apa, Sus? Apa kalian ingin ke mari?
Susi: Tidak, Kak. Kami tidak mungkin ke sana. Di balik rasa trauma yang kami miliki dan juga yang sangat melekat di hati Sinta, kami baru saja mengalami kecelakaan saat hendak pulang dari rumah kalian, dan kami baru saja kembali dari rumah sakit.
Irana: Apa? Lalu bagaimana keadaan kalian?
Susi: Kami baik-baik saja, Kak. Hanya saja, kami bertiga mengalami luka ringan.
Irana: Yasudah kalauu begitu, kami akan segera ke sana.
Sambungan telepon terputus, berat hati Irana untuk menjawab panggilan telepon dari Susi, namun ia tetap melakukannya. Bahkan, untuk mengatakan pergi ke sana pun sebenarnya ia tak ingin.
Irana adalah tipekal orang yang sangat peduli terhadap orang di sekitarnya, terutama terhadap orang yang sudah ia anggap sahabat dan juga keluarga. Tapi ia juga akan sangat membenci orang yang sudah mengkhianati dirinya melebihi Fajrin, baginya kata maaf dan ampun adalah sesuatu yang sangat sulit ia berikan jika sudah sangat membenci.
“Ada apa, Ma” tanya Fajrin.
“Farhan dan keluarganya kecelakaan” jawab Irana singkat.
“Apa? Bagaimana bisa?” tanya Fajrin terkejut.
“Mama juga nggak tau, Pa. Susi bilang itu terjadi saat mereka akan pergi jalan-jalan, lebih tepatnya saat mereka pergi dari rumah kita” jawab Irana lagi.
“Lalu bagaimana, Ma” tanya Fajrin lagi, ia juga sebenarnya tidak begitu ingin untuk berurusan dengan keluarga Farhan.
“Mau gimana lagi? seperti yang sudah mama katakan kepada Susi, kita akan ke sana untuk menemui mereka. sebenarnya mama tidak ingin pergi ke sana, tapi mama tidak ingin kalau mereka tahu yang sebenarnya, mama tidak ingin mereka bisa menebak dari sikap kita terhadap mereka kalau kita tahu kejadian beberapa tahun yang lalu. Biar hanya kita saja yang tau, Pa. Bagi mama, setidaknya kita tau dan kita bisa menghindari kejadian yang akan terjadi seperti sebelum-sebelumnya” kata Irana. Fajrin hanya bisa mengangguk karena hal itulah yang ia lakukan selama ini. meskipun ia memiliki kebencian kepada Farhan, ia berusaha untuk tidak menunjukkannya, ia hanya perlu berhati-hati supaya ia tidak kecolongan lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Fajrin melirik ke belakang, ia pandangi wajah Ares dari balik spion yang sedang asyik mendengarkan perbincangan kedua orangtuanya itu.
"Ares, kita ke rumah om Farhan ya sayang. Om Farhan dan keluarganya baru saja kecelakaan, jadi kita ke sana dulu untuk melihat keadaan mereka" ucap Fajrin.
"Ares mendengarnya" jawab Ares singkat, seolah ia juga tak menginginkan untuk pergi ke sana.
Apa yang sebenarnya telah di lakukan oleh om Farhan terhadap mama dan papa? Kenapa mama dan papa terlihat marah sekali kepada mereka? Kami baru saja bertemu dengan mereka, dan papa sudsh sebenci ini kepada mereka. Apakah ada kejadian di masa lalu yang membuat mama dan papa seperti ini? Tapi dari apa yang mama ceritakan, mereka adalah sahabat yang sangat dekat, papa dan om Farhan. Kalau hubungan jadi renggang seperti ini, pasti ada masalah yang terjadi di antara mereka yang tidak aku ketahui, batin Ares.
Dengan sangat malas, Irana turun dari mobil setelah mereka itba di depan rumah Farhan. Hal yang sama di lakukan oleh Fajrin dan juga Ares, namun ketiganya tetap berusaha untuk menutupiinya.
“Ma, jangan lama-lama, Ares capek, ingin segera istirahat” ucap ares.
‘Iya sayang, mama juga capek dan ingin segera beristirahat” jawab Irana.
Ting… tong
Ting… tong
Irana menekan bel rumah Farhan, namun penghuni rumah itu tak kunjung membukakan pintu untuk mereka.
Di dalam rumah, Susi, Farhan dan juga Sinta sedang duduk di sebuah sofa, hal yang selalu mereka lakukan setiap kali mereka sedang di rumah jika Farhan tidak sibuk dengan laptopnya.
“Ma, sepertinya Fajrin sudah datang” ucap Farhan.
“Iya, Pa. mama lihat dulu, ya. Semoga saja mereka akan mengerti dan iba melihat kita seperti ini, pokoknya kita harus kembali menjalin hubungan kita yang pernah terjalin sangat erat beberapa tahun lalu” ucap Susi sebelum pergi membukakan pintu.
Mungkinkah hubungan itu akan terjalin seperti apa yang di katakan oleh istri ku? Mengingat begitu banyak kejadian yang terjadi karena ulah ku, mengingat begitu banyak kesalahan yang aku perbuat kepada Fajrin. Tapi sepertinya mungkin saja jika Fajrin tidak tahu kalau akulah dalang di balik semua kejadian ini. aku yakin kalau Fajrin tidak mengetahuinya, buktinya dia dan juga keluarganya masih tetpa menerima kami meskipun tidak seperti dulu, dan aku mengerti itu karena sudah pasti dia kecewa ketika aku tiba-tiba meninggalkannya sementara kami sudah berjanji untuk tetap bersama dan melalakukan penelitian bersama. Kalau saja dia tahu semuanya, aku yakin dia tidak akan pernah memaafkan ku dan dia tidak akan pernah mau lagi menerima kami seperti ini. sebelum Fajrin mengetahuinya, aku harus berusaha keras untuk tetap dekat dengan mereka, batin Farhan.
Susi melemparkan senyum andalannya saat melihat Irana yang tengah berdiri di hadapannya bersama dengan Fajrin dan juga Ares yang sedang berdiri di belakang Irana. Hal yang samapun Irana lakukan, ia melemparkan senyuman andalannya, senyum yang selalu ia lemparkan terhadap semua orang, senyum yang tidak Susi ketahui kalau di balik itu ada emosi yang berapi-api dan dendam kesumat.
“Silahkan masuk, Kak” ucap Susi.
“Iya,Sus. Ternyata luka mu lumayan juga, ya. Kamu bilang kepada ku kalau kalian hanya luka ringan saja, tapi itu jidat mu” ucap Irana sambil menunjuk jidat Susi.
“Bukankah ini masih terhitung ringan, Kak? Setidaknya kami harus tetap bersyukur dengan apa yang kami terima mengingat beberapa kejadian yang justru mengalami luka berat” jawab Susi sambil berjalan menuju ruang tamu. “Sebentar ya, Kak. Aku panggilkan mas Farhan dan Sinta dulu” ucap Susi lagi, lalu ia pergi berlalu meninggalkan mereka.
Tak lama, Farhan muncul bersama dengan Sinta, Sementara Susi sedang pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman.
“Terima kasih sudah bersedia untuk datang ke mari, Kak” ucap Farhan.
“Jangan seperti itu, jangan bertingkah seolah kita adalah orang asing” ucap Fajrin yang membuat Farhan tertawa kecil, mendengar kalimat itu, ia sangat yakin kalau Fajrin masih menganggapnya seperti dulu. “Atau mungkin kau ingin membuat kita seperti orang asing yang saling sungkan satu sama lain?” lanjutnya.
Deg…
Jangtung Farhan selah berhenti berdetak, baru saja ia di angkat terbang tinggi, baru saja ia merasa bahagia dengan ucapan Fajrin, namun tiba-tiba ia harus di kejutkan dengan kalimat Fajrin yang terakhir yang ia anggap sangat menyakiti hatinya, kalimat yang seolah menggambarkan kalau Fajrin sedang mengulitinya hidup-hidup.
Bukan hanya farhan, Susi yang tengah berjalan ke arah mereka dengan minuman dan beberapa makanan ringan di tangannyapun tak kalah terkejutnya. Ada setitik tanya di hati Susi saat mendengar hal itu, namun ia berharap apa yang ia takutkan tidak terjadi dan itu hanyalah sebuah ketakutan belaka.