Fajrin mencoba untuk mencari alasan, melirik jam tangannya dan melihat waktu semakin mepet di mana ia sudah terlambat bekerja.
"Astaga aku sudah terlambat, maaf aku harus segera pergi" ucap Fajrin, lalu ia masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan para preman itu. Ia takut dengan sedikit kepanikan dan melajukan mobilnya, ia berharap para preman itu tidak mengikutinya.
Fajrin bernapa lega karena kini ia sudah tiba di kantor, namun lagi-lagi ia panik dan kebingungan. Bagaimana tidak saat ia tiba di kantor, para staff langsung menatapnya dengan tatapan mengintimidasi seolah ia sedang melakukan korupsi di kantor itu.
Semua tak luput dari pandangan Farhan, dia bahkan sudah menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi, dengan cepat ia menghampiri Fajrin dan langsung membawanya masuk ke dalam ruangan Fajrin.
Kesal, marah, itu yang saat ini Farhan rasakan saat melihat Fajrin. Bagaimana tidak, sudah sejak lama ia meminta untuk bekerjasama dengan Fajrin dalam melakukan penelitian, sayangnya Fajrin selalu menolak dengan alasan yang tidak masuk akal. Dan sekarang, saat ini, ia tahu kalau Fajrin telah melakukan penelitian itu kembali setelah apa yang baru saja dia saksikan melalui sebuah media sosialnya. Ia tahu kalau Fajrin telah berhasil, ia tahu kalau penelitian Fajrin yang Fajrin kerjakan dalam waktu dekat ini telah membuahkan hasil hingga Fajrin bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.
Ia menatap Fajrin dengan tatapan tajam seolah-olah ia meminta penjelasan dari Fajrin tanpa harus bertanya kepada Fajrin, namun sayangnya Fajrin memilih diam dan tak membuka mulut dan juga tak mengatakan sepatah katapun sampai akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.
"Apa yang terjadi? kenapa bisa sampai seperti ini? apakah kau sudah melakukan penelitian kembali? apakah penelitian sudah berhasil maksimal sehingg kau bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan? banyak orang yang menganggap kamu adalah orang gila, tapi pada kenyataannya kamu memiliki kemampuan yang luar biasa setelah melakukan penelitian itu. Jika semua ini karena hasil dari penelitian itu, maka aku sangat kecewa terhadap mu. setiap kali aku bertanya kepada mu, kau selalu mengatakan kau tidak akan melakukan penelitian itu lagi, kalaupun kau akan melakukannya, kau pasti akan menunggu hingga kau menghilangkan rasa trauma itu. Tapi pada kenyataannya kau telah melakukan tanpa aku ketahui. Aku tidak tahu kenapa kamu melakukan hal ini dan menyembunyikannya dari ku, padahal kau bisa saja mengatakannya kepada ku, mengatakan kalau kau tidak ingin bekerja sama dengan ku, dengan begitu aku bisa memilih untuk mundur dan tidak akan melakukan penelitian bersama denganmu" kata Farhan kesal.
"Apa bedanya mengatakan hal itu dan tidak mengatakan hal itu kepada mu? Bukankah hal itu sama saja? Dengan mengatakannya kepada mu, akan membuat mu sangat kesal jika aku tak mau bekerjasama dengan mu. Dari awal seharusnya kamu mengerti kalau aku telah menolak mu. Sebelumnya juga aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku tidak mau bekerja sama dengan mu. Lalu, kenapa sekarang kau permasalahkan semuanya? dulu kau meninggalkan ku saat kita sedang berjuang bersama, saat aku sedang terpuruk dan saat aku merasakan rasa sakit yang teramat dalam. dan kau tiba-tiba kembali dan meminta ku untuk kembali bekerja sama dengan mu, bukankah itu terdengar sangat konyol? coba kamu bayangkan kalau aku berada di posisi mu dan kamu berada di posisi ku, apa kamu akan menerima ku setelah apa yang sudah aku lakukan kepada mu? aku yakin sampai kapan pun kamu tidak akan menerima aku setelah semua yang aku lakukan. Dan aku juga melakukan hal yang sama. Aku tidak mungkin menerima kamu kembali setelah apa yang sudah kamu lakukan kepada ku. dulu kita berjuang bersama, melakukannya bersama dan menerima kekalahan bersama, tapi sekarang aku tidak mau. Setelah semua perjuangan ku, aku justru harus berbagi hasil bersama mu, perjuangan yang aku lakukan mulai dari puluhan tahun yang lalu dan dengan gampangnya kamu datang tanpa rasa bersalah dan tanpa dosa dengan menikmati hasilnya bersama aku. Aku tahu kau sahabat ku, tapi aku tidak tahu apakah kamu menganggap aku sahabat atau tidak karena dari yang aku lihat kau tidak menganggap ku sahabat, tapi kau menganggap ku sebagai ajang menuju kesuksesan yang bisa kau tinggalkan saat kau sudah bosan dan akan tetap tinggal jika kau masih menginginkannya" kata Fajrin tegas.
Seketika Farhan terdiam, ia tak menyangka Fajrin akan mengatakan hal itu kepadanya. ia memberanikan diri untuk seolah marah kepada Fajrin namun pada kenyataannya Fajrin bersikap lebih dari apa yang ia pikirkan. rasa takut semakin menggerogoti Farhan, ia takut kalau sampai Fajrin tahu apa yang sudah dia lakukan puluhan tahun yang lalu. Ia takut kalau Fajrin memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, maka semuanya akan terbongkar di mana dirinya lah yang mencuri serum hasil penelitiannya dahulu bersama dengan Fajrin.
Melihat Farhan tak berkata sepatah katapun, Fajrin memilih untuk duduk di kursinya lalu ia menatap Farhan yang masih berdiri tepat di hadapannya.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, sebaiknya kamu keluar dari sini karena aku ingin melanjutkan pekerjaan ku. Aku tidak ingin kalau sampai pekerjaan ku terkendala karena kamu. jika ada yang ingin kau bahas dan itu di luar dari pekerjaan kantor, sebaiknya kita bahas ini di luar atau mungkin kamu datang ke rumah ku, kita akan bahas semuanya. membahas apa yang sudah terjadi di masa lalu, membahas apa yang sudah kamu lakukan dan membahas rasa sakit yang sudah aku rasakan kepada mu. Bukan hanya itu, tapi membahas ketegan dirimu terhadapku yang bahkan dengan tega membuat ku menjadi orang yang seolah kehilangan jiwa karena perbuatan mu" kata Fajrim semakin membuat Farhan ketakutan.
Tak ada yang mampu Farhan katakan, ia semakin takut kalau sampai Fajrin semakin bongkar apa sudah ia lakukan di masa lalu. Ia tak sanggup mendengar semuanya hari ini, di tempat ini. jika pun Fajrin akan mengatakan hal itu, ia lebih baik menunggu saat di mana mereka telah selesai bekerja dan bertemu di luar jam kerja kantor.
Setelah tiba di meja kerjanya, Farhan mengepalkan tangannya, ia tidak terima apa yang baru saja Fajrin katakan. lagi-lagi hanya rasa takut, hanya itu yang kini Farhan rasakan. ia mulai memikirkan cara supaya ia bisa menghindari hal itu, lebih tepatnya menghindari Fajrin untuk mengetahui apa yang sudah ia lakukan puluhan tahun yang lalu. kali ini ia fokus untuk hal itu dari pada harus mendapatkan hasil yang sama seperti yang kini Fajrin miliki, namun ia juga tak lupa untuk terus berusaha mendapatkan itu dengan cara apapun.
Mungkinkah Fajrin sudah mengetahui semuanya? mungkinkah dia sudah tahu kalau aku lah yang mencuri serum itu? kalau benar dia sudah mengetahuinya, lalu kenapa selama ini dia tidak menanyakan hal itu kepada ku? kenapa selama ini dia bersikap seolah-olah ia tidak tahu? kalau memang benar dia mengetahuinya, kenapa dia tidak pernah marah dan masa menerima ku dalam kehidupannya? seharusnya dia langsung menemui ku dan meminta pertanggung jawaban dari ku, tapi justru memilih untuk diam dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. tapi kalau dia tidak mengetahuinya, tidak mungkin dia berkata seperti ini hari ini, dari apa yang baru saja ia katakan sudah terlihat jelas kalau dia mengetahui hal itu. Aku harus ber hati-hati sekarang, aku yakin dia pasti akan membalaskan dendamnya kepada ku.Aku harus bisa memiliki apa yang ia miliki saat ini dengan, begitu aku bisa menghindari suatu masalah atau bahaya yang akan terjadi pada ku di masa depan, dengan begitu aku bisa mengetahui jika dia akan melakukan sesuatu kepada ku, atau akan membalaskan dendam kepada aku, atau jika dia menyakiti keluarga ku maka aku sudah langsung mengetahuinya. Aku tidak tau apakah penelitian yang aku lakukan selama ini akan berhasil atau tidak, tapi aku harus membuktikannya minggu depan. semoga saja aku bisa melakukannya dan bisa menyaingi Fajrin sekarang semakin sombong dan tamak itu, batin Farhan.