Delapan

1085 Kata
Semua pengunjung mulai meneriakinya, bahkan para petugas dan juga Susi. Semua semakin panik, tidak ada tanda-tanda kalau Farhan akan keluar dari sana. Ingin rasanya Susi melompat dari atas sana untuk memastikan keadaan suami dan juga anaknya, namun petugas berusaha untuk menghalangi dirinya. "Papa, hiks... hiks. Apa yang terjadi, Pa? Kenapa papa tidak keluar? Tolong keluar Pa, waktunya tidak banyak, hiks... hiks" teriak Susi menangis. "Ayo keluar, jangan sampai obat biusnya habis dan Gorila itu tersadar kembali" ucap salah satu pengunjung. "Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak keluar? Apakah dia tidak tau kalau orang-orang yang ada di sini sedang menunggunya?" ucap salah seorang pengunjung. "Mungkinkah terjadi sesuatu padanya? Saat dia akan masuk ke dalam lubang itu, Gorila itu sempat menarik kakinya, mungkin saja terjadi sesuatu di kakinya yang membuatnya tidak bisa keluar" kata pengunjung lain. "Seharusnya dia menjawab, kalaupun terjadi sesuatu dengan kakinya, setidaknya kita bisa tau kalau tidak terjadi apa-apa kepadanya" kata pengunjung itu lagi. "Itulah yang tidak kita ketahui, mungkin saja karena rasa sakit di kakinya sehingga dia tidak sadarkan diri dan tidak mendengar teriakan kita" jawabnya. "Kalau seperti ini, akan sulit untuk membawanya keluar kecuali Gorila itu di tembak mati". "Kasihan Gorila itu, padahal dia tidak bersalah. Tapi tidak ada pilihan lain untuk bisa menyelamatkan mereka, meskipun kita tidak tau apakah mereka masih hidup atau tidak". Kalimat demi kalimat yang di lontarkan para pengunjung igu membuat Susi kembali merasa lemas, ia membayangkan semua yang mereka katakan hingga ia tak mampu menopang kakinya dan kembali tak sadarkan diri. Hanya beberapa saat, Susi kembali tersadar dan langsung menghampiri para petugas. "Apakah kalian tidak akan turun ke bawah sana? Kita harus memastikan keadaan mereka? Kalau kalian tidak mau turun ke bawa sana, aku akan turun sendiri" ucap Susi setengah berteriak. "Mohon untuk tetap tenang, buk. Petugas dan saya akan turun ke bawah sana, tapi setelah Gorila itu benar-benar di lumpuhkan oleh obat bius. Ini masih proses, jadi tolong bersabar" ucap sang dokter, sementara di depan pintu di bawah sana sudah ada banyak petugas. Susi kembali melihat ke bawah, berharap Farhan akan ke luar dari lubang itu, namun ia tak kunjung keluar. Ayo, Pa. Keluarlah, jangan membuat mama khawatir. Mama yakin papa dan Sinta adalah orang yang kuat, mama yakin kalian pasti bisa bertahan. Keluarlah, ku mohon, batin Susi. Apa yang Susi harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, seseorang yang ia inginkan untuk keluar dari sana bersama dengan putrinya justru tak kunjung keluar hingga sang Gorila ambruk. "Papa keluarlah, Gorila sudah di lumpuhkan, ku mohon keluarlah Pa hiks... hiks" teriak Susi sambil menangis, ia masih saja terus berharap. Petugas yang ada di atas sana mulai memberikan aba-aba kepada petugas yang ada di bawah sana untuk segera masuk bersamaan dengan turunnya sang dokter, namun dengan cepat petugas kembali melarang mereka karena sang dokter menghentikan langkahnya saat melihat sesuatu di bawah sana. "Tunggu, tahan dulu" ucap sang dokter, lalu ia semakin memperjelas penglihatannya. Bukan hanya sang dokter saja yang melihat hal itu, namun juga para pengunjung yang sedang berada di sana. Hal itu juga tak luput dari penglihatan Susi, seketika ia terjatuh lemas saat melihat apa yang keluar dari sana. "Tidak, hiks... hiks. Tidak mungkin, hiks... hiks". ucap Susi, ia menangis sejadi-jadinya saat melihat seekor ular kobra berukuran lumayan besar keluar dari lubang tempat di mana Farhan dan Sinta berada. "Pantas saja dia tidak keluar, ternyata dia sedang bertarung dengan ular kobra di dalam sana, dan harapan untuk selamat sangat kecil" ucap salah seorang pengunjung. "Mungkin saja dia sudah mati, sangat tisak mungkin untuk mereka bisa bertahan di sana bersama dengan seekor ular. Hanya sebuah mujizat yang mampu membawa mereka keluar dari sana dalam keadaan selamat" ucap pengunjung lain. Lagi-lagi kalimat itu di ucapkan oleh orang yanv hanya berjarak beberapa meter dari Susi, dan ucapan mereka tak luput dari pendengarannya yang membuatnya semakin lemas. Hanya dalam hitungan menit, saat di mana ular kobra itu pergi dari sana, saat itu pula para petugas masuk ke dalam sana. Hal yang tak terdugapun terjadi, sesuatu yang tak pernah di duga oleh siapapun yang ada di sana, di mana Farhan keluar dari lubang dengan perlahan bersamaan dengan masuknya para petugas. "Lihat, dia masih hidup" teriak salah satu pengunjung. Mendengar ucapan salah satu pengunjung itu, Susi langsung bangkit dan melihat ke bawah. Betapa terkejut dan bersyukurnya ia saat melihat suami dan anaknya yang berada di bawah sana. "Papa! hiks... hiks" teriak Susi. "Mujizat nyata, sangat mustahil untuk mereka bisa bertahan hidup di sana, tapi kenyataannya mereka bisa bertahan tanpa sentuhan kobra itu" kata seorang pengunjung. "Mereka masih di lindungi sang Kuasa, tidak ada yang mustahil bagi-Nya" timpal pengunjung lain. Farhan hanya bisa tersenyum,ia berusaha untuk keluar dari sana sambil menggendong Sinta meskipun kakinya terasa sakit. Dengan cepat para petugas membantu Farhan dan dan mengambil Sinta dari gendongannya. Awalnya Farhan ingin keluar dari sana saat mendengar suara tembakan, ia juga mendengar teriakan Susi memanggilnya. Ia berusaha untuk tetap bangkit meski pergelangan kakinya terasa sakit, karena ia tak ingin benar-benar mati konyol di dalam sana. Baru saja Farhan akan bangkit, tiba-tiba ia di kejutkan oleh seekor ular yang datangnya entah dari mana. Ia sangat terkejut, bahkan ia tak tau harus berbuat apa. Ya Allah, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada hamba ya Allah. Pintu keselamatan sudah sangat dekat dengan kamu, tapi kami tidak bisa keluar dari sini karena cobaan mu yang masih saja ada pada kami. Hamba moho ya Allah, singkirkanlah binatang melata ini dari hadapan ku, batin Farhan. Farhan berusaha untuk tetap tenang, berusaha untuk tetap tak bergerak bahkan ia berusaha untuk menahan napasnya sesekali. Sang ular semakin mendekat, menatap Farhan seolah Farhan adalah makanan lezat. Sang ular semakin mendekati Farhan dan berjalan di atas kaki Farhan. Ingin rasanya berteriak dan menarik kakinya, namun ia tak ingin melakukan itu karena ia yakin kalau hal itu akan mengundang amarah sang ular. Farhan mencoba untuk menahan napas untuk sejenak, hingga ia tak tahan lagi dan ingin terbatuk, beruntung ular itu sudah pergi dan para petugas berhasil menyelamatkan dirinya. Mereka segera melarikan Sinta ke rumah sakit, sementara Farhan mencoba untuk menahan sakit di sekujur tubuhnya. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan Sinta, putri semata wayangnta itu. Mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya, Farhan teringat dengan apa yang telah ia teliti bersama Fajrin, membuatnya kembali ingin melakukan penelitian itu bersama dengan Fajrin. Mungkinkah kami akan kembali melakukan penelitian itu? Mengingat apa yang telah aku katakan kepada Fajrin kala itu, mungkinkah dia masih menerima ku kembali bersamanya untuk melakukan penelitian ini? Tapi aku harus mencoba, aku tidak ingin kalau sampai hal itu terjadi dua kali, batin Farhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN