Empat belas

1130 Kata
Pikiran Farhan masih saja tertuju kepada apa yang terjadi di masa lalu, ia bahkan tak pernah berpikir semua akan kacau balau seperti ini. Satu hal yang menyakitkan bagi Farhan, semua yang ia lakukan adalah demi kebahagiaan keluarga kecilnya, namun ia merasa sangat tersayat saat istrinya seolah membela Fajrin daripada dirinya. Kesal, marah dan adanya sedikit rasa cemburu bercampur aduk hingga membawa Farhan hilang kendali, ia menancap gas dan menaikkan kecepatan melebihi biasanya. Ada sedikit rasa takut di hati Susi, firasatnya mengatakan kalau mereka sedang tidak baik-baik saja saat ini atau mungkin setelah ini. Susi hanya bisa berdoa, ia berharap tidak akan terjadi apa-apa kepada mereka setelah ini. "Pa, pelan-pelan dong, Pa. Jangan ngebut seperti itu, mama takut. Lihat Sinta, dia juga sangat takut kalau kecepatan papa meningkat seperti ini. Kontrol emosi papa, jangan seperti ini. Mama minta maaf kalau mama ada salah, mama tidak bermaksud untuk membuat papa marah" ucap Susi mencoba untuk menenangkan Farhan berharap suaminya yang kini semakin keras kepala itu mau mendengarkan ucapannya. Nol, nihil. Apa yang Susi ucapkan sama sekali tak di indahkan oleh Farhan. Ia justru semakin menaikkan kecepatannya, bahkan ia sama sekali tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia bak orang kesurupin yang sama sekali tidak punya hati terhadap kedua orang yang sedang bersamanya itu. Apa yang Susi takutkan terjadi, hanya dalan seper-sekian detik, mobil mereka menabrak sebuah pohon yang ada di depannya. Citttt... Brak... Tak sempat mengelak, di tengan gerimis yang sedikit mengganggu penglihatan Farhan, membuatnya sama sekali tak memiliki waktu untuk menghindarinya. "Ya Allah, aw..." Ucap Susi meringis kesakitan. Degan cepat ia bangkit, lalu ia keluar dan membuka pintu belakang. Dengan sangat takut ia mengeluarkan Sinta dari sana, Sinta yang kini tengah tak sadarkan diri. Sementara Farhan, ia berisaha untuk bangkit di tengah rasa pusing dan rasa sakit di bagian kepalanya, ia tak bisa menghindari benturan di keningnya hingga mengeluarkan banyak darah. "Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya Farhan. Susi sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Farhan, ia hanya bisa memeluk Sinta yang kini telah sadarkan diri dan meringis kesakitan. "Papa minta maaf, papa benar-benar minta maaf" ucap Farhan. "Setelah semua terjadi, apakah kau pikir kata maaf mi akan berguna? Kenapa sejak awal kau tidak pernah memikirkan sampai ke sini? Kenapa kau sama sekali tidak memikirkan resiko dari keras kepala mu itu? Kenapa kau terlalu egois? Kau bahkan tak menghiraukan ku saat aku meminta mu untuk mengurangi kecepatan mu. Lalu ini, bagaimana kalau aku sama sekali tak menghiraukan mu saat kamu meminta maaf?" ucap Susi setengah berteriak, namun Farhan hanya bisa tertunduk dan terdiam. Ingin rasanya Susi meluapkan apa yang kini ada di dalam hatinya, namun ia memilih diam karena sudah ada beberapa orang yang menghampiri mereka untuk membantu dan membawa mereka ke rumah sakit. Farhan duduk di tepi ranjang, ranjang di mana ia sedang bersama dengan Susi dan juga Sinta. Ia masih saja terus memandangi istrinya yang kini mengusap puncak kepala Sinta, lagi-lagi ia menyesal karena tak medengar ucapan Susi. "Maaf kan aku sayang, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Farhan memohon. "Apa kau menyayangi kamu? Sekarang aku berpikir, kau menyayangi kami atau hanya memikirkan diri mi saja. Dengan melakukan ini, apa yang sebenarnya kamu dapatkan? Dengan emosi yang berkobar-kobar, apakah kau bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan? Tidak, bukan? Kau justru mencelakai diri mi sendiri, keluarga kecil mu. Keras kepala mi justru membuat keluarga kita ke dalam kehancuran. Andai sekali saja kau mendengarkan apa yang aku katakan, semua tidak akan pernah seperti ini dan kita tidak akan sulit untuk bisa kembali menjalin hubungan seperti dulu dengan merekam tapi kau lebih menggunakan emosional mu daripada akal sehat dan hati nurani mu" ucap Susi. "Sebaiknya kau pergi dari sini, pergilah entah ke mana yang bisa membuat mi tenang juga membuat ku tenang. Dengan kepergian mi dari sini, akan membuat kami lebih baik dan tak di penuhi rasa amarah karena keegoisan mu" ucap Susi. Tak ingin istrinya semakin hilang kendali, Farhan memilih untuk menurut saja. Ia keluar dari kamar Sinta dan langsung pergi ke kamarnya. "Sial... Lagi-lagi aki gagal dalam mengabulkan rencana ku. Andai saja semua berhasil, andai saja kerja keras ku selama ini sudah sempurna, aku tidak perlu repot-repot untuk memohon kepadanya dan aku pasti akan bisa menghindari apa yang akan terjadi hari ini dan juga kejadian di kebun binatang itu, tapi sayangnya semua terjadi begitu cepat dan lagi-lagi kegagalan menghampiri kami" ucap Farhan kesal, lalu ia teringat kembali dengan sesuatu yang ia anggap bisa merubah hidupnya. Flashback on Dengan semua rencana yang sudah tersusun dengan matang, bahkan semua berjalan dengan baik tanpa harus membuat Farhan capek-capek untuk lebih bersandiwara. Saat di mana ia tiba di rumah Fajrin untuk menjemput Irana karena Fajrin sedang di rawat, dan saat di mana ponsel Farhan tertinggal di dalam rumah Fajrin. Tak ada yang terjadi secara kebetulan, namun semua sudah di atur dengan matang oleh Farhan. Farhan sengaja meninggalkan ponselnya di dalam sana, dengan begitu is bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk kembali lagi masuk ke dalam. Entah kebaikan sedang berpihak kepadanya, Irana sama sekali tidak curiga dan membuarkan Farhan kembali masuk ke dalam rumah seorang diri. Denan tindakan yang sangat cepat, Farhan masuk ke ruang lab yang biasa ia dan Fajrin gunakan untuk penelitian. Ia mengambil hasil penelitian yang menurut mereka akan selesai, dan berharap ia sudah biaa melakukan seperti apa yang ia harapkan. Dengan sangat licik Farhan memutar balikkan fakta, setelah sukses membuat Fajrin tertinggal, ia juga menuduh Fajrin yang bukan-bukan demi menutupi kesalahannya, sementara Fajrin tidak tahu menau masalah itu. Setibanya di bali, Farhan langsung duduk di sebuah sofa di rumahnya, rumah yang ia dapatkan dari perusahaan. Ia langsung meneguk serum yang ada di dalam botol itu hingga tak ada yang tersisa. Melihat aksi suaminya itu, Susi terkejut bukan main. Kini ia baru mengerti, apa yang di tuduhkan suaminya kepada Fajrin tidaklah benar, sementara ia sudah terlebih dahulu marah kepada keluarga itu. "Apa ini, pa? Jadi serum itu tidak holang? Serum itu tidak di ambil oleh orang lain melainkan papa sendiri?" tanya Farhan. "Kenapa, Ma? Apakah menurut mama papa harus tinggal diam dan membiarkan semuanya? Setelah semua berhasil, aku yakin Fajrin akan lupa dengan apa yang sudah di sepakati dan dia akan berusaha untuk menikmati hasilnya seorang diri. Sebelum hal itu terjadi, kenapa tidak bergerak lebih cepat? Papa juga sudah mencatak semua proses pembuatannya, dengsn begitu papa bisa menjualnya setelah kembali membuatnya, dan kita akan menjadi kaya raya" ucap Farhan dengan bangga. Hampir satu hari ia menunggu reaksi dari serum itu, namun ia justru tak mendapatkan reaksi apa-apa sama sekali. Hingga ia menjadi murka, ia kesal dengan segala usahanya yang sia-sia. Namun demian, ia tak pernah menyerah untuk mendapatkan hasil, ia terus menerus membuat serum melalui step-step yang ia tuliskan setiap kali mereka membuatnya di lab Fajrin, sayangnya kegagalan yang selalu menghampiri dirinya hingga ia lelah dan memilih untuk menghentikannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN