Empat

1098 Kata
Hasil yang di harapkan, sesuatu yang di impikan yang akan bisa mengubah nasib dan mengubah dunia, harus hilang dalam sekejap mata. Fajrin masih berusaha untuk mendapatkan petunjuk, petunjuk siapa yang telah mengambil hasil penelitiannya. Seketika Fajrim terpikir akan sesuatu, sesuatu yang menurutnya bisa jadi petunjuk. Dengan cepat Fajrin berlari kembali ke kamarnya, lalu ia merogoh laptopnya dan mengutak-atiknya dengan cepat. Irana yang melihat itu hanya bisa bingung, ingin rasanya ia bertanya apa yang sedang di lakukan suaminya itu, namun ia takut kalau Fajrin justru marah karena ia terlalu banyak bertanya tanpa sedikitpun bisa membantunya. Irana mengarahkan pandangannya ke layar laptop Fajrin, kini ia mengerti mengapa suaminya langsung buru-buru kembali ke kamar dan membuka laptopnya. Sejak awal ia tak pernah berpikir kalau Fajrin akan melihat CCTV, karena ia sama sekali tak berpikir ke sana. "Tidak ada orang yang masuk dari depan rumah kita, sementara dari belakang siapapun tidak ada yang bisa masuk. Aku yakin, dia sudah memantau kita sejak lama, dia bahkan tahu kalau kita memiliki CCTV. Yang tidak terpikirkan oleh ku, bagaimana dia masuk tanpa meninggalkan setitik jejakpun? Bagaimana dia bisa menerobos rumah ini tanpa ada kerusakan, dan bahkan dia tak terlihat di CCTV?" ucap Fajrin bertanya-tanya. "Mungkinkah orang itu adalah orang terdekat kita?" tebak Irana. Seketika itu juga Fajrin dan Irana saling pandang, mereka mulai memikirkan kalimat yang Irana lontarkan, meski sebenarnya Fajrin tidak yakin akan hal itu. "Maksud mama?" tanya Hasil yang di harapkan, sesuatu yang di impikan yang akan bisa mengubah nasib dan mengubah dunia, harus hilang dalam sekejap mata. Fajrin masih berusaha untuk mendapatkan petunjuk, petunjuk siapa yang telah mengambil hasil penelitiannya. Seketika Fajrim terpikir akan sesuatu, sesuatu yang menurutnya bisa jadi petunjuk. Dengan cepat Fajrin berlari kembali ke kamarnya, lalu ia merogoh laptopnya dan mengutak-atiknya dengan cepat. Irana yang melihat itu hanya bisa bingung, ingin rasanya ia bertanya apa yang sedang di lakukan suaminya itu, namun ia takut kalau Fajrin justru marah karena ia terlalu banyak bertanya tanpa sedikitpun bisa membantunya. Irana mengarahkan pandangannya ke layar laptop Fajrin, kini ia mengerti mengapa suaminya langsung buru-buru kembali ke kamar dan membuka laptopnya. Sejak awal ia tak pernah berpikir kalau Fajrin akan melihat CCTV, karena ia sama sekali tak berpikir ke sana. "Tidak ada orang yang masuk dari depan rumah kita, sementara dari belakang siapapun tidak ada yang bisa masuk. Aku yakin, dia sudah memantau kita sejak lama, dia bahkan tahu kalau kita memiliki CCTV. Yang tidak terpikirkan oleh ku, bagaimana dia masuk tanpa meninggalkan setitik jejakpun? Bagaimana dia bisa menerobos rumah ini tanpa ada kerusakan, dan bahkan dia tak terlihat di CCTV?" ucap Fajrin bertanya-tanya. "Mungkinkah orang itu adalah orang terdekat kita?" tebak Irana. Seketika itu juga Fajrin dan Irana saling pandang, mereka mulai memikirkan kalimat yang Irana lontarkan, meski sebenarnya Fajrin tidak yakin akan hal itu. "Maksud mama?" tanya Fajrin. "Apakah papa lupa? Tidak ada yang mengetahui tentang keluarga kita kecuali teman dekat papa dan juga keluarga kita. Bahkan di luar sana tidak ada yang mengetahui kalau kita memiliki seorang anak kecuali tetangga dekat kita juga tempat Ares bersekolah. Jadi mama merasa kalau ini adalah perbuatan orang yang dekat dengan kita” ucap Irana. Fajrin berpikir, namun ia sama sekali tak bisa menebak siapa kira-kira yang melakukan hal itu. Ia akui kalau keluarganya tertutup, namun ia juga tak pernah lagi membahas tentang penelitiannya itu kepada siapapun kecuali kepada Irana dan juga Ares. “Argh, sudahlah, papa tidak tahu siapa yang melakukan hal itu. Yang jelas, jika papa menemukan orangnya, papa pastikan dia tidak akan pernah hidup lagi di dunia ini, papa akan mengirimnya ke neraka sesegera mungkin” ucap Fajrin smbil mengepalkan tangannya dan meninju cermin yang ada di hadapannya, lalu ia merebahkan tubuhnya ke ranjang seolah ia sangat lelah dan tak bertenaga. Irana hanya bisa terdiam, ia hanya bisa bersabar menghadapi amarah suaminya, lalu ia mendekati Fajrin dan membalut luka di tangan Fajrin yang terkena belingan cermin. Di sebuah kamar yang tak jauh dari kama Fajrin, seorang anak kecil sedang ketakutan, ia bahkan sangat terkejut saat mendengar Fajrin berteriak dan berbocara sedikit kasar kepada Irana. Ingin rasanya ia menemui Irana dan memeluknya karena ketakutan tak bisa ia kuasai, namun ia tak mampu melihat amarah sang papa karena ini kali pertama bagi Ares melihat Fajrin bertindak bak orang gila seperti itu. Ares naik ke atas ranjangnya, iamencoba untuk menenangkan diri. Mendengar papa dan mamanya sedang membicarakan sesuatu yang menakutkan membuatnya tak bisa untuk tidur, bahkan untuk duduk atau sekedar berbaringpun ia merasa tidak tenang. Dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan, Ares memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya setelah ia tak mendengar suara apa-apa lagi. dengan perlahan ia berjalan ke arah kamar kedua orangtuanya hingga kini ia berdiri tepat di depan pintu mereka. Ares melihat ke kiri dan ke kanan, seolah-olah ia sedang di ikuti rasa takut yang sama sekali tidak bisa ia hindari, hingga ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu. Tok… tok… Tok… tok… Irana yang sedang mencoba untuk memejamkan matanya, seketika terkejut mendengar suara ketukan pintu. Ada setitik rasa takut baginya karena ia tahu betul kalau Ares sudah tertidur pulas sejak mereka kembali. Ingin rasanya Irana membangunkan Fajrin yang tengah tidur di sampingnya, namun ia takut kalau amarah Fajrin lagi-lagi memuncak dan melakukan sesuatu di luar kendalinya. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya, tak lupa ia selalu mengucapkan doa kepada Tuhan untuk selalu melindungi dirinya sebelum ia memberanikan diri untuk membuka pintu. Ceklek… Jantung Irana berdetak tak karuan, ia bahkan tak berani untuk melihat siapa yang ada di balik pintu. Dengan napas yang terengah-engah, ia memberanikan diri untuk membuka matanya setelah mendengar suara. “Mama”. Irana bernapas lega, ia langsung memeluk putra semata wayangnya itu. “sayang, kenapa kamu ada di sini?” tanya Irana. “Aku takut, Ma. Aku tidak bisa tidur” ucap Ares. “Yasudah, ayo mama temani kamu tidur” ucap Irana, lalu ia menggenggam tangan Ares dan membawanya kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya, Ares masih saja ketakutan meskipun ia sudah bersama dengan Irana. Ia selalu menggenggam tangan Irana seolah ia tak ingin berpisah dengan Irana. “Hei sayang, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?” tanya Irana. “Ares takut, Ma. Ares takut papa marah, Ares takut mendengar papa marah-marah seperti itu” ucap Ares. “Tidak apa-apa sayang, mama ada di sini bersama kamu. Tidak perlu takut terhadap apapun, karena mama akan terus melindungi kamu” ucap Irana. “Mama janji? Bahkan dari siapapun?” tanya Ares. Irana menatap putranya itu, ia bahkan tak mengerti mengapa putranya seperti itu, namun ia menganggukkan kepalanya demi menenangkan Ares, meski pada kenyataannya ia juga merasa takut dan merasa aneh dengan kalimat-kalimat yang Ares katakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN