Itu adalah pertama kalinya aku memasuki tempat seperti ini. Beberapa penjaga keamanan berjas dan sepatu kulit berpatroli di aula, wanita-wanita dengan dandanan glamor dan berpakaian terbuka, menunggu para tamu untuk memilih kapan saja.
Kak Sairah langsung menemui resepsionis dan meminta untuk bertemu dengan seseorang yang bernama Arif. Aku tidak tahu siapa Arif, tetapi dari nada bicara Kak Sairah, aku tebak orang itu pasti memiliki latar belakang yang hebat. Kak Sairah yang sebelumnya ikut dengan Pak Efendi, sedikit banyak telah memiliki pengalaman dan beberapa kenalan, sepertinya Arif ini adalah salah satunya.
Benar saja, Arif muncul setengah jam kemudian.
Dia tidak muda, dia memiliki rambut yang tipis yang di sisir ke belakang kepala, sebelah kupingnya memakai anting, di lehernya juga memakai kalung emas, dia berbeda dengan Pak Efendi, posturnya kurus, cara berpakaiannya juga lebih modern, kelihatan jelas dia jenis orang yang aktif di lapangan.
“Bukankah ini Sairah? Angin apa yang membawamu ke sini?” Arif menyapa Kak Sairah, tampaknya hanya sekedar basa-basi. Dia pasti telah tahu tentang perselisihan antara Pak Efendi dan Kak Sairah.
"Ini adalah... Gadis yang lumayan cantik." Arif berkata sambil melepaskan kacamatanya dan mulai menilaiku dengan teliti.
Beberapa tahun hidup bersama Kak Sairah, dia menjagaku dengan baik, kulitku putih mulus, postur tubuhku langsing, sebelum keluar rumah Kak Sairah mendandaniku sedikit untuk menutupi bagian dari diriku yang terlihat kekanak-kanakan, membuatku terlihat lebih dewasa dan menawan. Wajahku mirip dengan Ibuku, bagaimanapun aku masih muda, diberi riasan wajah yang tipis saja sudah jadi seorang gadis yang cantik.
Kak Sairah menyalakan sebatang rokok, bersandar di sofa, melirikku, dan kemudian melirik Arif. "Aku pikir kamu juga sudah tahu tentang masalah di antara aku dan Pak Efendi. Aku tidak akan berbelit-belit denganmu, ini adik perempuanku, kami berdua ingin bekerja di sini."
Kak Sairah menjelaskan niatnya, mata Arif masih tertuju padaku, aku sangat malu, tetapi ketika aku melangkah masuk ke pintu ini, aku sudah tidak punya jalan untuk kembali.
Arif tertawa. Dia mengeluarkan cerutu, tetapi hanya menggoyangkan kedua kakinya, Kak Sairah memberi sebuah isyarat mata padaku, aku menerima korek api dan maju untuk membantunya menyalakan api, pria itu kembali melirikku sekali.
"Sekarang hidup ini sangat susah, wanitanya Pak Efendi tidak ingin melepaskanku, aku juga sudah tidak punya jalan lain, sehingga datang kemari mencarimu ....." Perkataan Kak Sairah belum selesai, Arif menggerak-gerakkan tangannya, menyuruhnya untuk tidak usah bicara lagi.
Dia mengarahkan jarinya ke arahku, "Dia tinggal di sini dulu, kamu ... Tempat kecilku ini, aku sungguh tidak berani merendahkanmu." Maksud Arif sangat jelas, artinya tidak bersedia membantu.
“Aku boleh tinggal, tapi Kak Sairah juga mesti tinggal." Aku tidak tahu darimana datangnya keberanianku, sebelum datang Kak Sairah telah berpesan padaku untuk tidak berbicara sembarangan, tapi aku tidak bisa menahan diri.
Dibandingkan dengan ketidakpeduliannya terhadap Kak Sairah, Arif terlihat baik kepadaku, "Apakah kamu membuat persyaratan untukku?" Dia menjentikkan abu cerutunya, tidak kelihatan sedang marah.
Kak Sairah ketakutan. Aku tidak mengenal situasi dengan baik, jadi tentu saja aku tidak mengerti seluk beluk bidang ini. Hanya mengandalkan pikiran konyolku, pada saatnya nanti pasti akan menimbulkan banyak masalah.
"Pak Arif, Carmina belum mengerti, Anda jangan mempersoalkan hal ini dengannya, bagaimanapun aku sudah belasan tahun di bidang ini, aku tinggal, tidak penting apa yang bisa kulakukan disini, tapi setidaknya bisa membantu Anda mengajari Carmina bukan? Selama ini dia selalu mengikutiku, dan juga hanya mendengarku seorang ..."
“Kak Sairah tinggal, aku akan tinggal.” Khawatir Arif akan menolak lagi, aku kembali berkata dengan tegas. Arif tidak mengatakan apa-apa, dia tersenyum tipis, lalu bangkit dan mematikan cerutu di tangannya.
"Biarkan Warisa ke sini sebentar."
Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi Kak Sairah sepertinya sangat bergejolak, kurang dari dua menit, Warisa yang memakan gaun merah anggur tua datang di depan kami, postur tubuhnya ramping, tapi dibagian yang seharusnya berisi tetap kelihatan berisi, walaupun kelihatan usianya juga tidak muda lagi, begitu masuk ruangan, dia menyapa Arif dengan ramah.
“Pak Arif, ada urusan baik apa hingga buru-buru memanggilku?" Nada bicaranya terdengar mesra, untung nada bicara seperti itu digunakan di tempat seperti ini, jadi tidak aneh. Dia melirik sekilas ke arahku dan Kak Sairah, lalu mendengus dingin, seolah sangat jijik melihat kami.
"Teman lama Pak Efendi, sebelumnya kamu sudah pernah bertemu di acara perjamuan, dia sudah putus dengan Pak Efendi, sekarang membawa gadis ini kemari, kamu atur saja!" Arif bicara sekilas, lalu membalikkan badan dan berjalan keluar.
Kak Sairah segera menarikku bangkit dan berseru dengan penuh hormat, "Kak Warisa."
Warisa memutar bola matanya, melipat tangannya di dadanya, sangat arogan, "Kalian sudah tahu aturannya jika ingin datang ke sini? Aku tidak peduli apakah kalian orang lama atau orang baru. Di sini, semua mendengar perintahku. Siapa yang berani melakukan yang tidak-tidak, jangan salahkan aku , Kak Warisa tidak segan-segan terhadap kalian."
Warisa memberitahu kami dengan sikapnya yang arogan, kesan pertamaku padanya tidak terlalu bagus. Arif telah berpesan, dia harus menerima kami, aku dan Kak Sairah mengikutinya berjalan masuk, melewati sebuah koridor yang panjang, banyak wanita sedang menunggu di ruangan istirahat, tak disangka pekerjaan ini begitu popular.
"Nah, segera masuk dan berganti pakaian, jangan berdiri bingung di sini. Karena orang ini kamu yang membawanya ke sini, dia melakukannya dengan baik atau tidak, menjadi tanggung jawabmu. Pak Arif biasanya tidak mengurus semua ini, di sini semua tunduk padaku. Kalian ingat, satu bulan masa percobaan, jika terjadi sesuatu, segera minggat dari sini!"
Warisa kembali memberikan pelajaran dengan galak, Kak Sairah tetap mengiyakannya dengan sikap yang baik, ini pertama kalinya aku masuk ke tempat seperti ini, belum mengerti apa-apa. Namun aku menuruti perkataan Kak Sairah, karena aku ikut dengannya kemari, maka aku tidak boleh membuat masalah untuknya.
Para wanita di Klub Bakham memakai berbagai jenis cheongsam, dan mereka mengikuti gaya lama Shanghai. Hanya saja cheongsam ini telah dimodernisasi, dengan belahan hingga mencapai pangkal paha, dan bagian atas belahan hingga terlihat garis belahan d**a.
Kak Sairah mulai berganti pakaian, aku sedikit malu, dia mulai membertitahuku aturan-aturan di sini dengan suara kecil. Aku baru tahu, ternyata di bidang ini banyak sekali seluk beluknya.
Menemani minum dan bernyanyi adalah hal yang umum, jika bertemu dengan tamu yang baik juga belum tentu akan bersikap baik terhadap hostes, tapi tamu seperti ini sangat jarang. Kebanyakan tamu yang datang ke sini, butuh pelampiasan. Pelecehan fisik terhadap hostes merupakan kasus yang tak terhitung jumlahnya di sini, namun sebagai seorang hostes yang profesional, tentu harus belajar bagaimana menangani tamu dengan cerdik.
Ada peraturan di Klub Bakham bahwa hostes di sini harus menyetor sepertiga dari tips yang mereka dapatkannya, tetapi dia hanya boleh bernyanyi, menari, dan minum-minum dengan tamu di dalam ruangan, jika ingin melakukan hubungan itu dengan tamu, maka harus membuka kamar di luar.
Penghasilan seorang hostes tidak bisa sepenuhnya bergantung dari menemani minum di meja, uang yang sedikit itu tidak cukup untuk menghidupi siapapun, jadi kebanyakan berasal dari ikut tamu keluar, jika bisa melayani tamu hingga puas, sekali diberi tips bisa mencapai jutaan rupiah.
Kak Sairah sangat akrab dengan bidang ini, dan dia tidak merasa malu ketika dia memberitahuku hal ini. "Tapi kamu harus ingat bahwa sebelum kamu memikirkannya dengan jelas, kamu tidak boleh ikut tamu keluar."
Ini adalah aturan yang ditetapkan oleh Kak Sairah, dan aku mengangguk, anggap telah menyetujuinya.
Setelah berganti pakaian, aku dan Kak Sairah pergi ke ruang tunggu menunggu untuk dipanggil. Namun selama beberapa hari, keberuntungan kami tidak begitu bagus. Warisa menganggap kami berdua bagai angin kosong, aku lumayan tenang, bagaimanapun aku belum terlalu siap, namun Kak Sairah sudah tidak bisa bersabar lagi. Oleh karena itu, ketika ketemu dengan tamu yang sudah dilayani dan tidak ada hostes yang mau menerima, Kak Sairah selalu menawarkan dirinya sendiri.
Dia lumayan kuat minum, dia sangat penurut dan cerdik serta pintar membaca ekspresi wajah orang, beberapa tamu itu dilayaninya hingga merasa sangat puas. Aku duduk di pojokan, mendengar wanita-wanita itu membahas para tamu. Katanya ada beberapa tamu yang kurang baik, setiap kali memanggil hostes namun tidak pernah memberi tips.
Hari itu, ketika aku mendengarkan dengan penuh perhatian, Warisa menjulurkan sedikit kepalanya dan memanggilku.
"Carmina, ke sini sebentar."