KEMBARAN ANJI

1391 Kata
Pertemuan kita, adalah awal bagiku menyambut luka yang baru. Awal yang baik, bukan berarti akan memiliki akhir yang baik. *** Sahira turun dari motor Julian dengan wajah lega. Setelah Julian tawar-menawar dengan Pak Arya selaku satpam SMA Venus, akhirnya mereka diperbolehkan masuk. Tangan Sahira kesulitan membuka helm karena dia tidak terbiasa. Hal itu tentu membuat Julian geleng-geleng kepala karena kebodohan Sahira. Refleks, tangan Julian bergerak membukakan helm Sahira, membuat cewek itu bengong dengan pipi merah karena malu. Helm berwarna biru muda itu, sudah berada di tangan Julian. "Makasih banyak, ya." kata Sahira tulus. Jujur saja, jika bukan karena Julian, Sahira tidak mungkin berdiri di dalam parkiran sekolah. Julian hanya anggukan kepala singkat, bergegas meninggalkan Sahira. Langkah kecil Sahira buru-buru menuju ke kelas, berharap kebaikan akan menghampiri dia kedua kalinya. Jika dia bisa lolos masuk gerbang, dia harus bisa lolos dari omelan Bu Lani yang merupakan wali kelasnya. Lagi-lagi, napas Sahira berembus lega. Dia melihat kelasnya sedang riuh dengan kegilaan murid karena tidak ada guru. Tubuh Sahira agak berjalan lambat, menatap seseorang duduk di bangkunya yang entah siapa. Cewek berwajah imut dengan rambut sebahu itu, menatap Sahira dengan seulas senyuman. "Hai," sapanya begitu mereka berdekatan. Sahira terdiam, dia tidak terlalu mendengar jelas perkataan cewek itu karena kelas yang berisik. Sahira duduk, menatap cewek itu asing. "Murid baru?" tanyanya. Cewek itu mengangguk. "Kanza," kenalnya sambil menjulurkan tangan. Sahira membalasnya dengan senang hati. "Sahira," senyumnya. "Boleh kan, gu-gue duduk di sini?" tanyanya ragu. "Boleh, kok. Lagian aku emang duduk sendiri." Akhirnya, setelah Sahira duduk sendirian sejak berjauhan dengan Violet, dia punya teman baru lagi. Duduk di sampingnya, dan dia terlihat menyenangkan. Selama jam pelajaran kosong, Sahira dan Kanza mengobrol banyak hal. Bahkan, hobi dan pacar pun sampai dibicarakan sangking asyiknya mereka mengobrol. •||• Pukul 09:30 AM, saatnya bel SMA Venus berbunyi untuk mengumumkan waktu surganya para murid. Apalagi jika bukan jam istirahat yang sangat dinantikan walau hanya berlangsung sekitar 30 menit. Kelas XII IPS 1, berhamburan keluar kelas setelah bersenang-senang dengan jam kosong. Sahira dan Kanza berdiri dari kursi, keluar kelas paling belakangan karena malas berdesakan di koridor. "Jam istirahat biasanya ke mana?" "Paling kantin. Ngisi perut aja, sih. Kan laper," kekeh Sahira. "Haha, iya juga. Pasti kantin jam istirahat penuh." "Banget. Sampai ngantri, tauk!" "O iya, di sini ada ekskul musik?" tanya Kanza tiba-tiba. "Ada. Minat, ya?" "Iya. Soalnya gue udah lama banget nggak main biola. Mau ikutan," jawab Kanza semangat. "Daftar aja ke Cakra, dia ketua ekskul musik," usul Sahira. Kanza mangut-mangut, walaupun dia belum tahu siapa itu Cakra yang di maksud teman barunya ini. Keduanya belok ke koridor kanan, jalan yang menuntun mereka menuju kantin. Sahira dan Kanza terkejut ketika melihat Riola sedang duduk bersimpuh di lantai koridor. Sahira menghampiri, merasa kasihan. "La, kamu kenapa?" tanyanya. Riola menoleh Sahira dan murid baru di kelasnya itu. "Rivan. Masa dia tega ninggalin Ola kabur, sih. Kalau Rivan kabur harusnya juga Ola ikut," rengeknya sebal. Sahira dan Kanza saling lirik, tidak mau ikut campur tapi merasa kasihan kepada Riola. "Mending kantin aja, yuk? Barengan aja sama kita," ajaknya. Riola akhirnya berdiri, merapikan seragamnya yang sedikit keluar. "Ini siapa? Tadi Ola belum sempet tanya-tanya pas di kelas," ucap Riola kepada Kanza. "Gue Kanza," kenal Kanza. Mereka kemudian bersalaman. Dari kejauhan, terlihat seorang cowok berjalan menghampiri. Tangannya memeggang minuman cappucino ekstra pisang. Riola tersenyum sumringah saat menyadari kalau cowok itu adalah pacarnya sendiri. "Rivannnnn," teriaknya. Rivano tersenyum, menyerahkan minuman ke tangan Riola. "Lo ngapain masih di sini? Gue kira tadi lo udah ke pagar duluan," ujar Rivano. "Rivan tadi jalannya cepet banget, sih!" "Tadi kan gue ke kantin dulu beli minum. Yaudah buruan kita pulang." Rivano memeggang tangan Riola, membawanya berjalan bersampingan menuju pagar belakang untuk kabur. "Maaf ya Sahira, Ola mau pulang aja," teriak Riola menoleh Sahira dan Kanza yang bengong di tempat. Hari ini memang kabarnya kelas akan kosong sampai pulang, makanya banyak murid membolos karena merasa percuma berada di sekolah. Sahira dan Kanza lanjut berjalan, memasuki kantin yang ternyata tidak terlalu ramai karena sebagian sudah pulang. "Ini serius bisa pulang, ya? Kok gak ada siapa-siapa?" tanya Kanza. Mereka saat ini duduk di meja paling belakang dekat pilar. Sahira mengangkat bahu. "Gak tahu. Tapi kalau boleh, pasti gerbang utama di buka. Yang pulang itu lewat belakang, artinya bolos," jelas cewek keturunan Amerika itu. Sahira dan Kanza memesan nasi goreng dengan es teh manis. Jauh dari meja mereka, ada tiga orang cowok memasuki kantin dengan sorakan kencang membuat keributan. "Permisi-permisi, kembaran Anji mau nyanyi, nih," teriaknya. Beberapa murid yang sedang makan menoleh Julian, cowok jago gitar dengan suara yang begitu antik. "Yo, siapkan uang kalian. Ada hiburan, ada selembaran," ujar Alda. "Mulai, Jul!" teriak Taksa, cowok bertopi merah yang hitam manis. Ketiganya sama-sama ganteng, tetapi yang hampir sempurna adalah Julian, cowok yang tadi pagi mengantar Sahira ke sekolah. Sementara Alda, dia tampan tetapi sedikit lebay. Julian memetik gitar, memberikan intro dengan begitu apik. "Di suatu hari tanpa sengaja.... Kita bertemu," ucapnya dengan nada asli tetapi sedikit di lebih-lebihkan. Sahira ikut-ikutan menoleh ketika suara tepuk tangan menggema di kantin diiringi dengan sorakan antusias para gadis. Kanza tampak terpaku dengan suara indah milik Julian, dia bahkan tidak bisa berkedip saat ini. "Oh Tuhan.... Kucinta dia... Kusayang dia... Rindu dia.... Inginkan dia...." Julian telah sampai di reff, Taksa menjalankan tugasnya dengan membuka topi di kepala dan menyusuri tiap meja untuk meminta sumbangan berupa uang. Sahira terdiam tak habis pikir, dia baru pertama kali melihat Julian bernyanyi di kantin seperti ini. Mungkin, setiap cewek itu ke kantin, mereka tidak pernah dalam waktu yang bersamaan. Suara indah Julian, tiba-tiba terhenti saat melihat Kanza. Dia bahkan menghentikan petikan gitar yang membuat murid-murid bernapas kecewa. Julian mendekati Kanza, membuat cewek itu berdiri senang dengan senyum merekah. "Lo... Lo siapa?" tanya Julian. "Nama gue, Kanza." "Kanza?" "I-iya. Kenapa?" Kanza terus tersenyum bahagia melihat bola mata Julian yang seolah terpana padanya. "Lo cantik," kata Julian. Pekikan iri dari Siswi di kantin terdengar riuh. Tidak percaya karena seorang Julian mengatakan hal itu kepada Kanza si murid baru yang baru pertama kalinya ada di SMA Venus. Teman-teman Julian bingung, mengapa temannya yang telah lama tidak menyukai perempuan, kini mengatakan cantik kepada seorang gadis. Julian mengedipkan mata tersadar, dia keluar dari kantin dengan pikiran yang kacau. Kedua temannya mengekor, semakin tidak paham dengan sikap Julian yang mendadak berubah yang awalnya begitu ceria bernyanyi. Sahira memeggang tangan Kanza, menyadarkan cewek itu. "Kamu kenapa bengong?" tanyanya. "Ra.... Lo denger itu, kan? Dia.... Si ganteng itu, dia bilang gue cantik," girangnya. Sahira tersenyum ikut senang. "Kamu emang cantik, Za." "Dia namanya siapa, sih? Gemesin banget!" "Julian Hardika. Dia salah satu most wanted di sekolah ini," jawab Sahira. "Julian, lo punya gue!" pekik Kanza. •||• Langkah Julian menuju ke kelas XII IPA 3, kedua temannya masih setia mengikuti. Julian duduk di bangku guru yang kosong, sementara Taksa dan Alda hanya berdiri saja di dekat papan tulis. "Aneh, bro, dia mirip banget sama Tera," ucap Julian pelan. Taksa dan Alda saling lirik. "Serius?" serempaknya. Julian mengangguk. "Gue jadi inget adek gue, makanya gue bilang dia cantik." Julian mengusap wajahnya kasar, merasa kembali teringat akan Tera yang telah meninggalkan dia selamanya. Pintu kelas tiba-tiba terbuka lebar, memunculkan seseorang yang begitu disegani di sekolah Venus. Cowok berbadan tegap itu, berjalan mendekati Julian dan kedua temannya dengan selembar foto di tangan. "Jul, gue dapet foto Bara. Mau kasih apa lo?" angkuh cowok itu. Julian berdiri serius, merebut kasar foto di tangan lawan bicaranya. "Lo gak bohong kan, Fad?" yakin Julian dengan menatap foto itu lekat. "Gak, Jul. Gue berhasil nemuin i********: dia, dan itu real." Fadlan, cowok yang Julian tugaskan untuk mencari tahu siapa Bara, akhirnya menjalankan tugas dengan baik dan membuat Julian merasa puas. "Thanks, Fad. Malam ini kalian bertiga ke rumah gue, kita party," ujar Julian. "Siap, bro!" semangat ketiganya. Julian kembali menatap foto di tangannya, foto Bara yang sedang berdiri di depan mobil Sedan memakai kaus oblong abu-abu dipadu celana jeans hitam. "Fad, kirim nama i********: si berengsek ini ke nomer gue, ya." Julian menepuk bahu Fadlan sekali, membuat targetnya mengangguk patuh. Julian melangkah keluar kelas, meninggalkan teman-temannya. •||• To be continued. Terima kasih sudah membaca:* Tuh, kan, Kanza udah geer duluan, kan Juli cuman deketin karena dia mirip Tera adeknya :( Kanza dibaca Kansa O iya, Julian akhirnya udah tau wajah Bara, saatnya pencarian>_<
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN