Aira nampak tersenyum-senyum menuju ke kamarnya. Ia tidak sadar bahwa Adrian tengah memperhatikannya sedari tadi. "Apa yang membuatmu senyum-senyum sendiri seperti orang gila itu?" Tanya Adrian penasaran. "Oh! Itu. Aku sangat senang sekali. Barusan aku bertemu Tuan Devan dan dia memberiku ucapan selamat." Aira nampak berbunga-bunga. "Hanya ucapan selamat. Aku bisa memberimu lebih dari itu." Adrian tidak menyangka hal sepele seperti itu bisa membuat Aira seperti ketiban durian runtuh. Aira tidak terima dengan ucapan Aryan. "Hanya katamu. Mendapatkan ucapan selamat dari Tuan Devan itu seperti anugerah bagiku. Dan tadi apa katamu? Kamu bisa memberiku apa? Kamu saja kesusahan sampai meminta bantuan dariku agar kamu tinggal disini." Aira nampak kesal. Kini giliran Adrian yang tidak terima

