Permintaan Nirmala

1254 Kata
Aku mematut diri di cermin. Menatap bayangan sendiri. Kulepas kacamata yang sudah bertengger manis di pangkal hidung. Mengamati sebentar wajah ini tanpa kaca berbingkai dua tersebut, lalu memasangnya kembali. Perkataan Nirmala terngiang kembali di telinga. Apa hubungannya dengan kacamata ini? Aku hanya menggunakannya saat ke sekolah saja. Lagian pergi ke sana buat ngajar, bukan buat narik perhatian kaum Adam. Heh! Saranmu tidak perlu kuturuti, Nir. Gaya pakaian seharianku juga tidak kuno, apalagi ketinggalan jaman. Penampilanku masih modis. Tidak kampungan. Masih enak dipandang. Lebih baik jadi diri sendiri. Tidak ingin juga jadi orang lain, apalagi jadi kamu, Nir. Kita berbeda. Kepalaku menoleh ke suara pintu yang berderit saat dibuka. Ada yang membukanya tanpa mengetuk pintu dulu, apalagi meminta izin dariku. Nirmala. Siapa lagi. Untuk apa lagi dia masuk ke kamarku sepagi ini? Apa gegara dia barusan muncul di benakku, lalu tiba-tiba hadir begitu saja seakan kami saling terhubung? Ajaib. Itu tidak mungkin karena kami bukan saudara kembar ataupun kandung. Sepertinya mulai hari ini aku harus memasang alarm di ponsel, sebagai pengingat untuk selalu mengunci pintu kamar. Kuperhatikan wajahnya sembab. Di tangannya ada lembaran tisu yang sudah lecek dan basah. Aku bergidik sendiri melihat rupanya. Mungkin itu digunakan berkali-kali untuk menyeka antara mata atau hidung, karena kedua indra tersebut tampak merah dan berair. "Kamu bisa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk?" Setelah mengamatinya sekilas, kembali fokusku ke depan cermin. "Salah sendiri nggak pernah ngunci?" Nirmala mengelak. Alisku bertaut mendengar ucapannya. Selalu aku yang salah. Ia berjalan sampai depan ranjang dan duduk di atasnya. "Kamu tidak kerja?" Aku bertanya kembali setelah dia hanya sibuk dengan tisu yang masih di tangannya. "Izin nggak masuk." Ia menjawab sangat ketus. Aku berpaling menghadapnya. "Ada apa?" Mungkin dengan menanyakan maksud kedatangannya secara to the loint, Nirmala akan segera pergi. "Kak May yakin mau nikah sama Pak Biru?" "Biru?" Aku membeo ucapannya. "Pak Biru Samudera," jawabnya kesal. Kukulum senyum melihatnya merengut. Padahal sengaja bertanya seolah tidak tahu siapa itu Biru. Nama yang unik. Biru Samudera. Nama anaknya Bulan. Penasaran siapa nama mantan istrinya yang telah tiada itu, seunik nama mereka kah? Jauh sekali bila disandingkan denganku--Maysarah--seperti tidak terhubung. Apa mungkin jodoh? "Kak!" "Kak May!" Kuhembuskan napas kasar. "Apa?" sahutku. Pikiranku melayang. Tadi sempat melamun memikirkan nama si Biru. "Kakak beneran mau nikah sama Pak Biru?" Diulangnya lagi pertanyaan tadi. "Memang kenapa?" Kucoba tidak menatapnya dan berpura sibuk. Terlalu malas untuk melayani pertanyaannya barusan. "Batalkan saja Kak, Pak Biru itu nggak pantas buat Kakak." "Oh ya? Terus yang pantas siapa, Kamu?" Satu alisku terangkat. "Eh, nggak Kak. Maksud Mala, Pak Biru itu kan duda, punya anak satu lagi. Masa Kakak mau nikah sama lelaki seperti itu. Kakak kan gadis, masa' dapat duda?" Aku tersenyum kecut mendengarnya. Memangnya ia kira aku bodoh sampai tidak tahu kalau ia sangat menginginkan Samudra. Pembicaraan dengan ibunya kemarin malam masih kuingat jelas dan tertanam di benakku. Mata bengkak itu juga menjadi bukti nyatanya. *** "Ayolah Bu, bujuk Ayah biar batalkan rencana pernikahan Kak May dengan Pak Biru." Entah ini keberuntungan atau memang jalan Tuhan, aku selalu mendengar hal tidak terduga seperti ini. Saat ingin pergi ke arah dapur, tidak sengaja mendengar pembicaraan Nirmala dengan ibunya di depan kamar. Kumundurkan dua langkah ke belakang, dan mendekatkan Indra pendengaran sampai menyentuh daun pintu kamar Nirmala. "Pak Biru? Siapa?" "Aduh Ibu, itu Pak Samudra. Di kantor ia dipanggil Pak Biru." Nirmala mencoba menjelaskan siapa Pak Biru yang dimaksud. "Oh, Biru. Lucu ya, nama warna. Memang kenapa?" "Ibu pake nanya lagi. Coba Ibu bandingkan Kak May dengan Pak Biru, mereka itu beda jauh. Cocoknya kan sama Mala, Bu." Kugelengkan kepala saat mendengar kalimat ini. "Sudahlah, mau gimana lagi. Ayahmu yang punya kuasa. Lagipula dia itu duda, Mala. Memang kamu mau sama dia. Udah gitu, ada anak satu. Umurmu masih muda. Pantasnya cari yang masih single, dan belum nikah." "Nggak mau. Pokoknya Mala pengennya Pak Biru yang jadi suami Mala. Ibu juga kemarin kenapa nggak cerita jelas siapa calon Kak May. Cuma nyebut namanya doang, Samudera." "Lah, memang ibunya bilang namanya cuma Samudra, nggak nyebut nama lengkap. Mana Ibu tahu. Lagian ya, Ibu malas nanya-nanya siapa calonnya May, suka gagal juga kan. Kayak dikutuk ya." Terdengar Ibu mengelak tidak mau disalahkan Nirmala. Dasar adik tiri keras kepala, ingin maunya sendiri. Ibunya juga, malah sempat menyindirku yang dianggapnya selalu sial. "Kenapa nggak dikorek lebih dalam siapa Samudra itu. Terus, Ibu juga cuma bilang waktu itu orangnya biasa aja." "Hussstttt! Kecilkan suaramu. Nanti ada yang dengar." Aku memalingkan muka dan dengan cepat bersandar di tembok kamarnya dengan tubuh menegang takut ketahuan. "Habisnya Ibu ngasih info nggak lengkap, cuma setengah, itu pun nggak nyampe. Apalagi soal foto itu." "Astaga, Mala. Namanya juga lihat dari foto, bisa saja kan dia pake apa itu namanya …." Ibu mencoba menerka. "filter itu ya. Biar wajah kelihatan cakep, putih, mulus. Kadang Ibu juga make buat majang foto ibu di Ige. Biar kelihatan lebih muda dan tetap cantik. Makanya Ibu bilang biasa aja, takut ketipu." Aku sampai menutup mulut dengan tangan buat meredam bunyi ketawaku yang ingin mencuat keluar mendengar penjelasan Ibu. Wanita paruh baya itu tetap tidak mau disalahkan dengan alasan yang cukup masuk akal. Lucu juga kalau dua beranak ini berdebat. Yang menang sepertinya si anak karena dia selalu diutamakan. Anak kesayangan. Terkadang melihat keakraban mereka membuatku merindukan almarhumah Bunda. "Sudahlah, kamu cari yang lain aja. Masih banyak kok cowok ganteng yang lebih dari Samudera ini. Yang penting bukan duda." "Ih, nggak mau. Ibu tahu tidak. Pak Biru itu incaran banyak wanita di kantor Mala. Dari yang kelas teri sampai kelas kakap. Kalau Mala bisa mendapatkan Pak Biru, maka bakal naik derajat Mala." "Hah? Teri? Kakap? Itu kantor apa pasar ikan?" Kocak, aku sampai menahan napas biar nggak ketawa. Ibu benar, aku malah meragukan Nirmala kerja dimana? Beneran kantoran apa pasar? "Ibu …! Mala serius. Maksudnya dari tingkat bawah kayak Mala, sampai tingkat eksekutif. Malahan saingan terberat Mala itu Bu Hanin." Bu Hanin? Siapa? Aku ikut bertanya walau dalam hati. "Segitunya ya Samudera itu? Iya emang ganteng sih. Sayang duda." "Astaga …! Ibu buka mata selebar-lebarnya. Jangan lihat dudanya, tapi lihat sosok Pak Biru baik-baik. Sudah ganteng, kaya, eksekutif muda, dan CEO lagi. Terus Ibu lihat lebih dekat, asal Ibu tahu, Pak Biru itu kalau lewat di divisi Mala, semua cewek meleleh. Gayanya memang cool, justru itu yang bikin kami kesemsem." Oh, gitu. Baru tahu pesona Samudera segitunya. Hm … artinya aku beruntung bisa menikah dengan lelaki seperti yang disebutkan Nirmala. Cool? Dingin? Iya sih, sikapnya memang dingin, datar atau kaku. Tidak ada senyum sedikitpun. Apa ke semua cewek juga begitu? Astaga! Hampir saja. Untung vas bunga yang terletak di antara kamarku dengan kamar Nirmala tidak terjatuh akibat kesenggol pinggulku. Aku terkaget saat mendengar rengekan diikuti suara tangisannya. Begitulah Nirmala, dia mulai menunjukkan kekuatannya dengan cara menangis. Merengek paksa biar keinginannya tercapai. Sudahlah. Cukup mendengarkan pembicaraan yang berujung tangisan Nirmala. Lebih baik aku fokus ke diriku sendiri. Siapkah aku menjadi nyonya Biru Samudera? *** "Kak, Kak May!" "Apalagi?" Aku sudah bersiap dengan tas tersampir di bahu. "Tolong bilangin Ayah buat batalin rencana pernikahan Kak May dengan Pak Biru." "Oh, itu. Minta sendiri sama Ayah. Kan kamu yang mau," jawabku sekenanya. "Nggak mungkin Kak. Kan keputusan di tangan Kak May. Kalau Kak May menolak, maka Ayah pasti akan membatalkan perjodohan kalian." Nirmala masih ngotot memintaku membatalkan perjodohan dengan Samudera. "Sudahlah Nir, aku mau berangkat ngajar dulu. Cus, pergi!"Kukibaskan tangan ke arahnya. Nirmala mencebik kesal. Ia melangkah keluar kamar dengan menghentakkan kaki. Ckckckkk! Merajuk. Maaf, Nir. Kali ini aku tidak mau menuruti kemauanmu. Tidak akan. Kecuali ... Samudranya sendiri yang menginginkannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN