Leo Chandra

1552 Kata
Sepasang mata Leo menatap intens pada sepasang pengantin yang sedang berbahagia, berdansa mesra, menjadi pusat perhatian semua tamu yang hadir malam ini. Pengantin wanita itu adalah Saujana, wanita yang sudah seperti adiknya meski mereka tidak ada hubungan darah. Tidak hanya adik, Leo pernah menyusupkan perasaan pada Saujana. Perasaan lebih dari sekedar adik. Selayaknya ketertarikan pria pada wanita. Sayangnya, Leo harus mencecap getir saat Saujana tidak pernah punya perasaan sama. Saujana melihatnya tetap tulus sebagai seorang saudara yang besar bersama di panti. Saujana jatuh cinta pada Nata, pria yang kini jadi suaminya. Perasaannya itu sempat menghancurkan hubungan baik yang mereka bangun berpuluh tahun. Huft! Leo menarik napas dalam, ia sempat pergi lama. Ia mengasingkan diri. Keluar dari studio milik Nata dan ia lolos untuk bisa bekerja sebagai fotografer national geographic. Leo perlahan bisa mengendalikan hati, belajar merelakan Saujana. Ia kembali setelah egonya berhasil mengalah, dan memperbaiki hubungan dengan Saujana sebagaimana mestinya. Leo berbalik setelah lama berdiri, namun langkahnya tertahan dan cepat-cepat ia memegang tangan wanita yang hampir bertubrukan dengannya. “Sorry..” ujarnya lembut sambil mengangkat wajah. Memperlihatkan senyum yang khas sejak pertama kali Leo bertemu yaitu di depan kos Saujana beberapa tahun lalu. Rambutnya tergerai cantik, gaun malam coklat tampak sangat pas di pakainya. Dia tak lain adik dari Nata. Di bawah pencahayaan yang sedang sedikit di redupkan agar bisa menyorot pada raja dan ratu sehari yang berbahagia sedang berdansa, membuat siapa pun bisa bertubrukan jika terburu-buru seperti yang baru saja terjadi dengan mereka. Tiba-tiba lampu hidup, tangan Leo masih memegangi tangan Naura bersamaan menyadari posisi yang begitu dekat, seketika Leo termenung seolah tersesat oleh netra indah milik Naura yang besar terbingkai bulu mata lentik tanpa tambahan bulu mata palsu. Mata Leo turun menatap bibir gadis itu yang terus tersenyum, rasanya hangat berhasil menyelinap masuk menyentuh hati yang telah lama dingin dan hampa. “Hai..” panggil gadis itu. Leo tersentak segera menarik tangan dan tindakan itu membuat Naura tak siap hampir terjatuh, impulsif sekali lagi tangan Leo meraihnya kini memeluk pinggangnya sementara Naura berpegangan pada bagian depan kemeja yang Leo pakai. “Oh, ya ampun!” Gadis itu terkejut. “Maaf, aku tidak bermaksud mendorong kamu.” Ujarnya seiring membenarkan posisi. Kembali berdiri dengan tegap. “Tidak apa. Aku duluan kok yang salah, udah tabrak kamu.” “Kalau begitu kita impas.” Naura mengangguk semangat. Tatapan mata mereka masih saling beradu, “kenapa tidak ikut dansa?” Leo menggeleng kecil, “berdansa butuh dua orang. Aku datang sendiri.” Sudut bibir Naura kembali tertarik, “kalau begitu aku mau jadi pasangan dansamu.” Kening Leo seketika mengernyit, “ya?” Naura tidak menjawab selain meraih tangan Leo kemudian begitu saja menariknya bergabung dengan yang lain. “Aku tidak pernah melakukannya, Naura!” Leo hendak berbalik dan kabur. Tetapi, Naura mencekal lengannya. “Ini mudah. Kau cukup ikuti musiknya dan pasanganmu.” “Aku—“ Tangan Naura terangkat, jemarinya menyentuh permukaan bibir Leo. Dia menyengir, sangat ceria. “Coba dulu, jangan menyerah sebelum mencoba. Letakan tanganmu di pinggangku.” Saat Leo diam kaku, Naura tak sabar segera meraihnya dan meletakan di pinggangnya kemudian Naura sendiri mengalungkan tangan di leher Leo. “Cukup ikuti gerakanku.” Anehnya, jika biasa di film wanita yang tak bisa berdansa dan pria yang mengarahkan justru yang terjadi pada mereka Leo dikendalikan Naura. Perlahan sangat kaku sampai terbiasa dan mereka bergerak sembari tak lepas menatap satu sama lain. Leo menemukan jika Naura punya sesuatu dalam dirinya, seperti energi positif pada siapa pun yang bersamanya. Mereka memang sudah kenal lama, tetapi malam itu menjadi interaksi terlama mereka, harusnya terasa asing tetapi seperti sudah lama kenal. “Kamu menyenangkan.” Ucap jujur Leo. “Aku?” Leo mengangguk. “Orang-orang bilang begitu jika di awal dekat. Lama kelamaan akan mengatakan jika aku membosankan.” Keluhnya tetapi selanjutnya ekspresi Naura berubah menjadi seperti semula penuh senyum. Mereka bergerak beberapa saat lagi sampai selesai. “Thank Naura.” “Semoga itu cukup menghibur hatimu.” Ungkapnya. “Apa maksudmu?” tanya Leo tidak mengerti. “Saujana, aku tahu dari Nata jika kamu pernah menyukainya—“ “Dulu. Aku sudah berdamai dengan perasaan itu. Hubungan kami membaik sekarang. Aku mungkin tidak berhasil mendapatkan cintanya tetapi aku tidak mau bodoh dengan kehilangan saudari sepertinya.” Ujar Leo. Naura tersenyum. “Naura!” sebuah seruan memanggil namanya di tengah perbincangan mereka, sama-sama menatap ke sumber suara. Seorang pria yang tidak Leo kenali mendekat. “Dia, Irwan. Kekasihku, aku pamit dulu.” Jika Naura bersama kekasihnya mengapa ia mengajakku berdansa? Batin Leo. Kali itu pandangannya tak mau lepas dari punggung Naura yang menghampiri Irwan. Kemudian mereka bicara, melirik Leo sekilas dan Naura terlihat tersenyum kecil serta mengangguk sebelum di tarik pergi oleh Irwan. Leo kembali sendiri di tengah keramaian. Ia memutuskan mencari salah seorang teman yang dikenali, beberapa orang dari panti Mentari pun diundang. Leo di sana sampai acara selesai. *** Tinggal sendiri di apartemen sudah Leo pilih sejak ia punya penghasilan cukup dari pekerjaannya sebagai fotografer hingga bergabung di studio milik Nata. Kini ia masih bekerja dengan national geographic, Leo hanya sedang mengambil cuti setelah yang terjadi pada Saujana. Turut bahagia karena akhirnya Saujana menikah dengan Nata sekaligus menemukan keluarganya yang tidak pernah ia temui selama puluhan tahun lebih. Saujana beruntung ada keluarga yang mencarinya, sementara Leo tahu jika itu tidak akan terjadi padanya. Ia tak pernah menyesali garis kehidupan yang telah Tuhan berikan padanya. Kasih sayang yang tak Leo dapatkan dari keluarga, justru bisa ia dapatkan dari Ibu Panti dan anggota lainnya termasuk Saujana. Dia didik sebisa mungkin untuk mandiri, hingga Leo bisa hidup seperti sekarang di atas kedua kakinya sendiri. Jatah cuti Leo tinggal beberapa hari, sebelum ia terbang ke Afrika selatan, bekerja di sana untuk waktu hampir satu tahun. Leo belum perpanjang kontrak untuk ke depannya. Dia mencintai pekerjaannya, kamera dan alam. Dua sisi yang menjadi bagian dari hidup seorang Leo Chandra. Leo topless, hanya memakai celana pendeknya. Ia berdiri di depan pintu menuju balkon yang di biarkan terbuka. Tangannya memegang lensa, lembut dan hati-hati Leo membersihkannya. Di atas meja berjajar rapi semua peralatan yang selalu ia bawa, kamera, lensa berbagai jenis lensa dan ukuran, penyanggah kamera, memori sampai sarung tangan yang ia suka gunakan. Semua persiapan yang harus Leo perhatikan sebelum kembali bertualang di alam. Leo mencoba lensa kamera yang baru ia bersihkan, kemudian melangkah keluar dan mulai membidik sasaran potretnya. Ia tersenyum melihat hasilnya. Gedung-gedung di sekitar apartemen. Keseruan Leo terganggu dengan suara dering ponsel yang memekakkan telinga. Ia menurunkan kamera dari hadapan matanya kemudian Leo segera berbalik dan melangkah. Mengambil ponsel yang ia letakan di meja yang sama. Ia melihat nama Nata, suami dari Saujana yang menelepon. Leo segera menggeser tanda hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. “Ya, Nata?” “Bisa ke studio? Ada yang mau aku bicarakan sebelum kamu berangkat.” Entah sejak kapan mereka terdengar akrab begitu, padahal dulu sempat memanas hingga baku hantam yang memalukan terjadi. Leo menyesali kekerasan yang ada antara mereka, hingga membuat hari itu menjadi hari paling Leo benci karena harus menjauh dari Saujana. “Masih minggu depan aku berangkat.” “Ya, tetap saja. Selagi kamu punya waktu.” “Oke, aku akan sampai pas lunch.” “Ya, tepat. Sekalian saja, Saujana pun akan lunch bersama kita.” Beritahu Nata. Dulu situasi bertiga akan sangat canggung, panas di bagian Leo melihat kedekatan Nata dan Saujana, tetapi kini sudah terlalu biasa. Panggilan berakhir, Leo segera melanjutkan aktivitasnya lalu menyusun barang-barang yang seperti nyawanya itu ke tempatnya dengan rapi dan benar. Jam sebelas, Leo mengendarai mobilnya menuju studio milik Nata. Tempat kerjanya dulu sebelum memutuskan Resign dan bergabung dengan pekerjaannya sekarang. Leo mendapat sapaan dari teman-teman lama yang masih bekerja di sana. Ia kemudian segera naik lift menuju lantai teratas tempat Nata berada. Pintu lift baru akan tertutup tetapi kembali terbuka bersamaan dengan seorang gadis yang masuk, sama-sama menatap dan keduanya tersenyum. “Hai.. kita bertemu lagi.” Sapanya dengan aura positif, ditambah senyum yang terpatri begitu hangat menjadi khas seorang Naura. “Mau menemui Nata? Sama dong, bareng kalau begitu!” Leo mengangguk, ia bergeser memberi tempat Naura. Tidak menyangka jika ada beberapa orang lagi yang masuk dan membuat posisi mereka berdesakan. Posisi yang membuatnya dengan Naura saling berhadapan. Mereka menjadi dua orang terakhir yang keluar. Leo dan Naura sama-sama bersikap santai, mereka mengobrol lagi, Naura terlihat tertarik dengan pekerjaan Leo. Sejak hari itu, Leo selalu mengenal Naura adalah gadis ceria yang memiliki senyum hangat. Nata mengajak Leo bertemu, membawa penawaran, yakni mengajak Leo kembali bergabung di studionya. Di tambah studio Nata sedang di bangun di beberapa kota besar, Nata butuh Leo. “Tolong pertimbangkan, Leo.” Pinta Nata. Sementara Leo belum bisa mengambil keputusan. “Aku akan pertimbangkan.” Angguknya, meski tidak tahu ke depan nanti akan seperti apa, tetapi Leo mulai membangun rencana-rencana masa depannya. Umur bertambah, pencapaian yang ia ingin pun kian besar. Tetapi, untuk menemukan pasangan dan menikah, Leo tak yakin akan masuk dalam rencananya ke depan sampai ia bisa menemukan seorang gadis yang bisa membuatnya mendapatkan cinta yang Ia mau. Setelah Sujana, Leo tidak pernah lagi menemukan gadis yang bisa membuat hatinya berdebar saat melihatnya. Saat memikirkan itu ia menoleh mendengar tawa Naura yang begitu renyah. Naura duduk di sofa lainnya yang ada di ruang itu sedang bersama Saujana. Tatapan Leo terpaku beberapa detik pada wajah Naura yang sedang tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN