Bab 1 | Terungkapnya Isi Hati

1520 Kata
Mereka pernah bilang, salah satu cara membuatnya jatuh cinta adalah aku harus sering membuatnya tertawa, tapi, setiap kali dia tertawa, justru aku yang dibuat jatuh cinta.  -Anonim-   "Jadi buat acara terbesar kita di kepengurusan tahun ini, gue mau semuanya berjalan sempurna, semua sie harus siap sama tugas masing-masing, jangan sungkan buat tanya pendapat, kalo ada masalah diomongin, jangan kaya cewe yang kalo ada masalah bilangnya ngga papa terus."   Mereka tertawa kecil mendengar ucapan Fares. Forum rapat yang tadi terlihat sangat serius seketika mencair. Begitu juga dengan Ayya, gadis itu tidak tertawa, tapi dia menikmati tawa bahagia Fares yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi pada pria itu.   Orang bilang, untuk membuat dia jatuh cinta, kita harus sering membuatnya tertawa, tapi tiap kali dia tertawa justru kita yang dibuat jatuh cinta, begitulah yang Ayya rasakan.   Sangat jauh rasanya dia bisa dekat dengan Fares apalagi sampai bisa menjadi sumber tawa pria itu. Bahkan saat ini, saat dirinya duduk di lingkaran yang sama bersama pria itu, tetap saja Fares terasa begitu jauh. Dekat, namun terasa jauh. Seperti itu lah Fares dalam hidupnya. Pria itu bukanlah levelnya, Fares terlalu jauh untuk Ayya gapai, jadi dia hanya bisa diam-diam mencintai laki-laki itu.   Ayya tertawa miris dalam hati, diam-diam mencintai Fares? Nyatanya hampir semua teman kampusnya mengetahui bagaimana perasaan dia pada pria itu. Bukan, Ayya bukan wanita bodoh yang akan menjatuhkan harga dirinya untuk mendapat cinta Fares.   Dia tidak pernah sekali pun mencoba untuk mencari perhatian Fares. Dia mencintai pria itu dengan pilihannya, memilih diam dari pada menjadi wanita bodoh yang mengemis cinta.   Sejak pertama kali jatuh hati pada pria itu, tak ada hari yang Ayya lewati tanpa menuliskan surat cinta untuk Fares. Tentu saja dia tidak pernah mengirimkan pada pria itu. Dia menyimpan surat itu di tempat pribadinya. Di laci meja belajar miliknya. Hampir satu tahun lamanya.   Namun, takdir sepertinya tidak setuju dengan pilihan Ayya yang memilih untuk mencintai pria itu diam-diam. Nyatanya, melalui teman dekatnya, Shena, yang tidak sengaja menemukan semua tumpukan surat cinta itu, isi hati yang selama ini ia tutup rapat-rapat, terkuak dengan mudahnya. Shena mengambilnya sebagian, berniat untuk membantu sahabatnya itu menyampaikan perasaannya. Namun, sayang beribu sayang, Fares yang bahkan tidak tahu menahu mengenai Ayya hanya menganggapnya angin lalu.   Esok harinya, saat Ayya datang ke kampus, hampir sepanjang koridor, teman-temannya memegang amplop yang sangat ia kenali. Amplop yang berisi surat-surat cintanya untuk Fares. Berbagai tatapan diterima oleh Ayya sepanjang jalan menuju kelas. Sungguh, dia tidak menyangka jika perasaannya akan terungkap dengan sangat memalukan seperti itu.   Rasa-rasanya dia ingin menghilang dari bumi. Sepanjang hari itu, Ayya berusaha untuk menghindari Fares. Tentu saja harga dirinya sudah mati dengan terungkapnya surat itu, dan dia tidak lagi memiliki nyali untuk bertemu dengan Fares.   Tapi hari itu, memang sepertinya menjadi kesialan Ayya bertubi-tubi. Dia memiliki tiga kelas yang sama dengan Fares, dan dia tidak mungkin membolos hanya untuk menghindari pria itu. Dia masih cinta juga dengan masa depannya, dan tidak akan mengorbankan itu karena kebodohannya.   Nyatanya, ketakutan Ayya tidak berarti apa-apa. Fares tetaplah Fares, yang mungkin tidak akan peduli dia hidup atau mati, dia ada atau tidak ada. Pria itu bahkan tidak meliriknya saat mereka berada di deret bangku yang sama, saat Ayya dengan jelas mencuri pandang ke arah pria itu hanya untuk melihat bagaimana ekspresi pria itu bertemu langsung dengan wanita bodoh sepertinya yang menulis surat cinta konyol sedemikian banyak. Bahkan saat kelas berakhir dan tatapan mereka bertemu, Fares tidak menatapnya jijik seperti yang ada di pikiran Ayya.   Sekali lagi, pria itu hanya menatapnya sekilas layaknya orang asing. Ya, memang, Ayya tau mereka hanyalah orang asing.   "Ayya, lo tuh mikir apa si? Lagi rapat juga. Ditanya tuh sama paketu. Ada usul ngga?" tanya Shena, membuat Ayya tersadar dari lamunan akan hal memalukan dalam hidupnya. Ia menatap semua orang dengan senyum kikuknya. Lalu saat tatapannya bertemu dengan Fares ia langsung mengalihkan pandangannya. Bahkan setelah satu semester berlalu, sejak kejadian memalukan itu, Ayya tetap saja canggung untuk menatap Fares.   Sejak kepanitiaan besar ini terbentuk sebulan yang lalu, mereka hanya berbicara saat dalam forum rapat seperti sekarang. Seharusnya, dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk dekat dengan Fares kan? Sayang, nyalinya tidak seberani itu.   "Aku cuma mau usul, untuk sponsor, kan, itu yang paling kita butuhkan, tapi sejauh ini belum ada perusahaan atau brand apapun yang menyanggupi, gimana kalo buat pengumpulan dana kita adain semacam pensi dengan bintang tamu artis lokal, nanti tiket masuknya bisa kita alokasikan buat sumber dana. Si Thata, kan omnya salah satu anggota band lokal yang cukup terkenal di Jakarta, mungkin kita bisa minta bantuan dia, gimana Tha?"   Ayya memberi usulan, berusaha menyembunyikan degup jantungnya yang semakin menggila karena tatapan pria itu yang fokus padanya. Baiklah, Ayya mengakui jika dia berlebihan, karena nyatanya, semua orang di forum itu tengah fokus kepadanya. Tapi teteap saja, fokus Fares padanya, menimbulkan efek yang berbeda. Sangat berbeda hingga membuatnya ingin segera menyudahi rapat malam ini.   "Boleh juga usul Ayya. Gimana, Tha? Kira-kira bisa ngga lo bikin om lo mau manggung di acara kita, Tha?"   "Iya, keuangan kita juga ngga bisa dikatakan aman-aman aja buat sekarang, dari semua list yang dibutuhin, sejauh ini kita masih devisit kalo cuma ngandelin dana usaha dari anak-anak sie danus, kan, lumayan tuh uang tiket yang masuk bisa dipake buat alokasi dana, pasti banyak yang dateng kalo King Crown mau jadi bintang tamu di pensi yang kita buat nanti, Tha." Kini, Ridha, sang bendahara juga memberikan usulan setujunya.   "Oke deh, gue coba tanya ke om dulu, semoga dianya bisa, berarti kita juga harus nyiapin buat acara pensi itu kan,"   "Siap. Kalo buat acara lo serahin aja sama gue dan anak-anak acara, dijamin beres." Melvin, selaku kepala sie acara memberikan jempolnya sebagai kesanggupan dirinya untuk meng-handle hal tersebut.   "Nanti, kalo lo butuh bantuan gue buat ngomong sama om lo, bilang aja," kini Fares menanggapinya dengan senyum, membuat senyum di wajah Thata semakin lebar, gadis yang masih menyimpan rasa pada mantannya itu terlihat bahagia.   Sedang Ayya yang melihatnya hanya meringis melihat interaksi mantan kekasih itu. Membayangkan, kapan Fares akan berbicara dengan lembut dan tersenyum seperti itu padanya.    "Udah jam sembilan nih, bentar lagi satpam kampus patrol buat usir kita. Padahal masih banyak hal yang mau kita bahas." Melvin mengeluh sebal, membuat panitia lain juga mengangguk setuju.   "Res, gimana kalo rapat selanjutnya jangan di gedung UKM, kalo kaya gini waktu kita terbatas padahal bahasan kita rasanya tanpa batas," ujar Aldo sang wakil ketua acara yang diangguki oleh yang lain.   "Ya udah deh, next-nya kita cari kafe yang buka sampe malem aja, atau nanti di rumah gue juga bisa. Karena udah mau jam sembilan, hari ini cukup ya. Next-nya gue kabarin lagi kapan dan di mananya."   Setelah Fares mengucapkan itu, semuanya berkemas, begitu juga dengan Ayya dan Shena. Keduanya memang kos di tempat yang sama namun berbeda kamar. Bahkan selalu dapat dipastikan, jika ada Ayya, maka Shena akan terlihat juga tidak lama kemudian.   "Eh, liat tuh, mantan cinta diem-diem lo, -Ups, belum mantan, kan sampe sekarang masih cinta- yang masih ngejar-ngejar mantan kekasihnya." Shena menunjuk Fares dan Thata dengan dagunya, membuat Ayya langsung menatap pada objek yang dimaksud Shena.   Lalu, perasaan bodoh itu kembali membelenggunya, menciptakan rasa sesak yang tidak bisa ia tolak. Ayya selalu berharap bisa mengendalikan perasaannya pada Fares yang semakin menjadi, bahkan penolakan secara terang-terangan pria itu melalui sikap tidak pedulinya tidak cukup membuat hati sialannya tersakiti dan memilih berpaling. Hatinya justru tetap mengukir satu nama, Faresta Elvan Adinata, dan Ayya benci akan hal itu.   "Oh," Ayya hanya membeo, meneruskan langkah menuju motor matic-nya, Shena yang melihat reaksi Ayya hanya mendengus kesal.   "Dihh, oh doang. Gila. Sebenernya lo naksir beneran ngga si sama si Fares itu? Masa lo ngga keliatan cemburu liat dia jalan sama mantan?"   "Mantan doang kan?" Ayya tersenyum miring, membuat Shena yang melihatnya gemas sendiri. Temannya itu memang sangat sulit ditebak tentang perasaannya. Bahkan, mungkin jika Shena tidak menemukan surat-surat cinta milik Ayya, dia tidak akan pernah tau tentang perasaan sahabatnya itu.    Sedangkan dibalik helmnya, Ayya hanya tersenyum miris. Nyatanya, jawaban yang diberikan pada Shena jauh dari apa yang hatinya rasakan. Dia hanya tidak ingin terlihat semakin menyedihkan setelah ditolak secara terang-terangan melalui sikap Fares yang tetap menjadi asing bahkan di saat mereka dalam satu kepanitiaan yang sama.   Dia tidak mau lagi berakhir konyol seperti nasib-nasib surat cintanya yang berakhir menyedihkan dan tersampaikan dengan begitu memalukan pada orang yang salah. Sudah cukup ia menanggung konsekuensi dari kelakuan konyolnya. Kini yang perlu dia pikirkan adalah, bagaimana cara melupakan cintanya pada Fares di saat hatinya terus menggebu-gebu menginginkan pria itu.   Ayya sadar, Tuhan akan memberi jalan yang tidak mudah untuk melupakan Fares. Melalui kepanitiaan yang sama, tentu ke depannya dia akan semakin sering berhubungan dengan Fares, dan ia tidak tau bagaimana dengan nasib hati dan perasaannya nanti, padahal ada tekad dalam dirinya untuk melupakan pria itu.   "Ya udah, Ayya. Kamu ngga perlu pusing dengan hal yang belum pasti ke depannya. Jalani aja apa adanya." Ayya menggumam, menstarter motornya dan pulang dengan hati yang bimbang memikirkan hal-hal apa yang akan ia lewati selama kepanitiaan yang melibatkan dirinya dan Fares. Haruskah ia menyerah dan memilih berdamai dengan sang hati untuk mendekati Fares? Atau sebaliknya? Dan mungkin dia akan tersiksa karena mengabaikan keinginan sang hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN