"Sentuh aku, Mas Panji ..." pinta Aya dengan suara lirih. Panji masih menatap Aya dengan lekat. Ia memasang telinganya dengan baik. Ia memastikan kata -kata yang Aya ucapkan adalah benar atau tidak. Atau hanay ilusi Panji yang sangat menginginkan Aya. Tapi, kata -kata itu adalah nyata. Berulang kali Aya mengatakan sentuh aku. Panji masih memegang pipi Aya dan ibu jarinya mengusap bibir tipis Aya. Selama ini mereka tidak pernah se -intens ini. Walauun mereka pacara dan akan menikah. Mereka sama sekali tidak memakai nafsu. Bukan karena tidak sayang atau tidak cinta, tetapi mereka pacaran menjalin hubungan secara sehat. Angin dari balkon begitu terasa dingin dan menusuk semua kulit mereka. Pelukan itu semakin erat dan menghangatkan. "Aku mau kamu tetap disini, Mas ..." pinta Aya dengan s

