Aya menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Rasanya masih sama, enak dan nikmat sekali. Lidah Aya langsung menggulung makanan itu dan mengunyah perlahan. Tak terasa air mata Aya turun ke pipi. Ia merindukan masa -masa ini. Kenangan di masa lalu kembali berputar dan memenuhi otaknya. Panji menatap Aya denagn lekat. Lelaki itu berdiri dan mendekati Aya. "Kamu nangis?" tanya Panji lirih. "Ehhh .. Enggak kok ..." jawab Aya singkat. Aya langsung mengusap air matanya dengan tanagn secara asal. "Kamu gak usah bohong sama aku, Ay," jelas panji lagi. Panji menghapus sisa air mata di pipi Aya dengan ibu jarinya. Lalu memegang kedua pipi Aya yang kini terlihat tirus. Rasanya masih sama seperti dulu. Cintanya masih besar seperti awal mereka bertemu dan berkenalan. Hanya saja, ceritanya kin

