“Laura ... Apa kau hamil?” tanya Xander menatap Laura penuh selidik. Tingtong ... tingtong .... Bunyi bel pintu seolah menyelamatkan Laura dan mengabaikan pertanyaan Xander dan hendak berjalan menuju pintu, tapi Xander tak akan membiarkan Laura tidak mengatakan apa pun. “Jawab aku!” Xander menahan langkah Laura dengan menarik tangannya. “Tidak! Aku hanya kurang enak badan, bisa kau lepaskan tanganku?” tanya Laura. “Tidak sebelum kau jujur—” Tingtong ... tingtong .... Lagi bunyi bel kembali menghentikan perdebatan mereka. “Damn!” Xander berjalan menuju pintu, membukanya dengan kasar. “Masuk dan temui Liora di kamar. Aku dan Laura akan pergi!” ujar Xander dan berbalik ke hadapan Laura. “Kau ingin ikut aku dengan cara baik-baik atau—” “Lepaskan aku!” Laura menghempaskan genggaman

