GRACE
--
Terowongan yang gelap dan sempit itu menatapku dengan beraninya. Kini, aku bisa merasakan lingkaran gelap genangan air di bawah sepatuku. Udaranya terasa pengap dan dinding-dinding batanya begitu kasar di bawah telapak tanganku. Atap tua dari bagian belakang pabrik kue menggantung rendah di atasnya. Asap mengepul keluar dari jendela belakang pabrik yang rusak dan suara gemuruh mesinnya yang berisik memenuhi seisi gang. Kayu-kayu lapuk yang tak terpakai dibiarkan tergeletak di sudut gang dan bau busuk sampah yang diletakkan secara sembarang tercium tajam.
Tubuhku berkeringat ketika aku akhirnya berhasil melewati gang sempit itu. Kini, aku dapat melihat pohon-pohon tinggi meringkuk ke arah hutan. Dahan-dahannya yang lebat menutupi jalanan. Tanahnya masih basah dan daun-daun kering menutupi jalur sempit yang mengarah ke sungai panjang dan bukit.
Aku melangkah menyusuri tanah yang melandai dan undakan bebatuan itu untuk tiba lebih cepat. Tanganku menggapai-gapai ke udara ketika aku berusaha menyeimbangkan langkah. Udaranya terasa lembab di bawah pohon-pohon tinggi dan hamparan tanah berbatu itu. Awan mulai gelap sore itu dan kabut hitam tebal menutupinya. Ketika aku nyaris saya jatuh karena hilang keseimbangan, aku bisa mendengar suara Abby di kepalaku.
Tolong, bantu aku. Aku mengunjungi perumahan Broodway nomor 11 dan dia melihatku. Aku mengancam akan memberitahu wanita itu tentang perbuatannya, dan dia menjadi marah. Aku rasa dia tidak hanya akan menyakitiku kali ini, tapi juga bayiku. Kau benar, dia bukan pria yang kuinginkan dan aku meyesal karena baru menyadarinya. Tapi Grace.. tolong, tolong aku. Aku terjebak di dalam mobilnya dan aku tidak bisa menghubungi polisi. Aku rasa dia akan menyakitiku.
Aku hendak bertanya bagaimana dia mendapatkan nomor ponselku, tapi kupikir situasinya telah mejadi lebih buruk dan ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya. Aku sempat terpikir untuk menghubungi polisi dan mengatakan situasinya, tapi itu tindakan yang terlalu jauh. Aku ingin menyelamatkan wanita itu, tapi aku akan melakukannya sendirian.
Jadi aku terus mengingat suaranya di telepon. Sebuah suara yang serak dan dalam, penuh dengan rasa putus asa. Aku mengingatnya di sepanjang perjalanan. Aku menebak bahwa kata ‘wanita itu’ yang dimaksud Abby adalah Anna dan Abby selalu menyebut Ben dengan panggilan ‘dia’ atau ‘pria itu’. Jadi, Abby mendatangi rumah mereka – rumah pernikahanku dan Ben, kemudian melihat Ben bersama Anna dan bayi mereka. Kemudian Ben tahu dan menjadi marah, ia menahan Abby di mobilnya dan Abby merasa terancam.
Apa yang bisa kulakukan untuk membantu? Aku tidak berpikir ketika aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku untuk keluar dari pintu apartemen Tess. Yang kutuju hanya Abby. Aku ingin menyelamatkan wanita itu dan aku harap aku dapat meludahi wajah Ben – sudah lama aku ingin melakukannya.
“Abby? Dimana kau? Aku bisa menyelamatkanmu jika kau katakan dimana kau berada.”
“Apa kau akan membawa polisi? Kau berjanji tidak akan melibatkan polisi?” nafasnya tergesa-gesa, dia sedang terburu-buru.
“Tidak. Aku sendirian. Tapi aku perlu tahu dimana kau sekarang?”
“Aku tidak yakin.. di sini gelap. Ada banyak sekali pohon, dan sebuah sungai. Aku rasa hutan. Aku tidak tahu mengapa pria itu membawaku ke tempat ini. “
“Apa kau baik-baik saja? Apa yang dia lakukan.”
“Aku mencoba mengulur waktu, kukatakan kalau aku perlu buang air kecil, jadi aku berhasil menghindarinya, tapi dia terus mengawasiku. Dia terus berbicara. Aku tidak bisa terus menerus mengabaikannya. Kumohon, datanglah. Disini ada terowongan.”
“Baik, tunggu aku. Jangan lakukan tindakan bodoh, dia bisa saja menyakitimu.”
Tidak ada jawaban. Beberapa detik kemudian, aku menjadi resah. Kemudian suaranya kembali muncul tak lama setelah itu.
“Kumohon Grace.. cepatlah! Aku membuatnya marah. Kurasa dia akan menyakitiku lagi.”
“Abby, jangan panik! Cobalah untuk tenang.”
Wanita itu tidak menanggapiku. Kemudian sambungan teleponya diputus. Aku berusaha menghubunginya balik, namun tidak ada jawaban. Detik demi detik, menit ke menit.. kemudian kuputuskan untuk bergegas. Aku tahu sebuah tempat yang akan dituju Ben. Aku tahu persis dimana letak sungai di dekat hutan itu. Hanya ada satu tempat yang gelap: di dekat terowongan. Aku rasa tidak akan sulit menemukan mereka.
..
Awan tipis itu menggantung rendah di antara pepohonan tinggi dan kabut hitam. Langitnya seakan mengepulkan asap ke semak-semak. Dari tempatku berdiri, aku bisa mendengar suara aliran deras sungai dan percikan air di tepiannya. Samar-samar suara anjing melolong terdengar dari kejauhan sana. Sisanya hanyalah keheningan yang merayap di atap sebuah kabin, jalanan kosong yang melandai dan kekosongan yang berdiri di atas tebing bebatuan itu.
Tepat di ujung sana, terowongan gelap itu menatapku. Sebuah papan penanda jalan di sampingnya menunjuk ke arah berlawanan dari hutan. Jembatan tua masih berdiri dengan kokohnya di sana. Tiang-tiangnya yang berusia belasan tahun kini berkarat dan mengeriput, tepiannya tampak hancur dan reruntuhan bebatuan itu jatuh persis di sungai yang mengalir deras di bawahnya.
Dengan hati-hati, aku melangkah melewati jembatan. Seekor burung mangpie yang hinggap di satu pohon baru saja mengepakkan sayap kecilnya dan pergi menghilang ke dalam hutan. Kini, ketika aku berhasil melangkah melewati jalanan terjal itu, dua titik cahaya pucat dari lampu sen sebuah sedan yang terparkir di sana menarik perhatianku. Aku merosot turun di atas tanah dan mengabaikan noda di sepanjang celanaku ketika berguling di tanah basah itu. Seorang wanita dengan jaket biru terlihat baru saja turun dari dalam van. Rambutnya tergerai memanjang di balik rompi hitam yang dikenakannya dan wanita itu sedang berjalan menuju terowongan gelap.
Aku berderap maju, keluar dari persembunyianku di balik pohon besar dan berlari mengejarnya. Aku cukup yakin wanita itu adalah Abby, namun aku tidak melihat Ben bersamanya.
Abby terus melangkah menuju terowongan gelap itu, sesekali berhenti kemudian ia terus melangkah hingga menghilang di telan kegelapan.
"Hei!"
Aku berteriak memanggilnya. Namun, wanita itu tidak menghentikan langkahnya. Kali ini, lebih keras.
"Hei!!"
Wanita itu berhenti, aku nyaris terjatuh ketika tanpa di sengaja kakiku menginjak lubang di atas jalanan beraspal. Sebuah van melintas cepat melewati terowongan gelap itu, kemudian aku melihatnya berbalik. Ia hendak menghampiriku. Aku tidak bisa mengenali wajahnya di tengah kegelapan terowongan, tapi aku tahu ia berlari ke arahku. Kemudian, yang kutahu, sebuah pukulan melesat cepat di belakangku. Permukaan besar yang padat itu mengenai kepalaku hingga aku jatuh tersungkur di atas jalan.
Kemudian, aku bisa merasakan sesuatu seperti jarum suntik menyengat tengkukku. Wajahku memerah, rasa sakit pada kepalaku kian berdenyut-denyut.
"Ben!! Ben hentikan!"
Tangannya mencakar wajahku dengan kasar, membekapku hingga semuanya terlihat gelap.
..
- LAST WITNESS -