GRACE -- Nafasku tersengal ketika aku terbangun pagi itu. Mimpi itu masih terus membayangiku seperti setan yang mengganggu tidurku. Aku memimpikan Ben duduk di depan hakim, wajah memerah dan matanya yang gelap menatapku tajam. Jari-jarinya bergetar, aku bisa merasakan hal itu. Kemudian, begitu hakim baru saja membacakan keputusannya, sebuah suara memanggilku dari belakang. Aku berbalik untuk memastikannya, namun tidak ada siapapun disana. Kemudian, dalam sekejap mata, ruangan itu menjadi kosong. Tidak ada sidang yang sedang digelar, tidak ada polisi yang berdiri di dekat pintu, hanya ada Ben di ujung sana: berdiri dengan pakaian yang belumuran darah dan laki-laki itu menggarahkan sebuah senapan ke kepalaku. Aku bergerak mundur hanya untuk mendapati kedua kakiku terikat rantai. Goresan

