GRACE
--
Aku mendengar suara bedebum yang cukup keras dari arah belakang, sekilas aku menyaksikan sebuah siluet hitam yang melintas cepat melalui jendela dapur. Sebuah titik cahaya temaram dari lampu jalanan di luar sana menyorot trotoar kosong dan sejumlah mobil yang terparkir di pinggirannya. Bau tidak sedap tong sampah tercium tajam ketika aku berderap mendekati pintu belakang apartemen Tess. Cat pada dinding tua itu mulai mengelupas dan bau apak tercium di sepanjang lorong. Itu adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di lorong belakang setelah berbulan-bulan lamanya membiarkan sisi tempat itu terbengkalai. Lampu yang menggantung rendah di atap kini tidak berfungsi dan lantai kayunya yang lembab seakan siap roboh kapanpun.
Di ujung lorong, terdapat sebuah jendela kusam yang hampir pecah. Retakkannya terlihat di sepanjang rangka jendela itu. Sementara itu, sebuah pintu besi mengapit di antara dinding dan jendela. Suara bedebum itu terdengar semakin jelas. Aku mengintip melalui jendela kusam dan melihat jalanan kosong di depan. Lantai dasar bangunan-bangunan tua dan apartemen di seberang. Seorang pengendara baru saja melintasi jalur sempit dan berbelok di tikungan, kemudian saat itulah aku melihatnya: Sean dan Jane Foster tengah bergulat di samping tebing pembatas sebuah toko kue dan kediaman Mrs. Wisherman. Keduanya tampak begitu antusias ketika menarik pakaian mereka dan saling mencium satu sama lain. Tangan Sean berada di balik pakaian Jane, dan Jane dengan keahliannya menyusupkan tangan ke dalam celana Sean.
Tubuhku terhuyung menjauh. Nafasku memburu ketika melihat bagaimana wajah pasangan itu memerah. Aku menempelkan satu tanganku di atas kaca, mencondongkan tubuh saat mengumpulkan keberanian untuk melihat lebih jelas. Rasanya begitu dekat. Aku bisa melihatnya, kulit menyentuh kulit, tangan dengan tangan, mulut dengan mulut, lidah dengan lidah. Bahkan, aku merasa bisa mendengar suara desahan nafas keduanya. Aku bisa merasakan hawa panas yang menjalar di sekujur tubuh mereka. Sean memberi Jane sebuah ciuman di bibir, kemudian lebih banyak ciuman di tempat yang sama. Jane membalas laki-laki itu dengan tidak kalah agresifnya, wanita itu dengan berani menggoda Sean menggunakan lututnya. Merapatkan tubuhnya lebih dekat ke arah Sean dan menempatkan satu kakinya persis di antara kaki Sean.
Sekujur tubuhku kaku dan tiba-tiba saja aku berkeringat. Alkohol yang kuteguk belum lama ini mulai bereaksi. Aku bisa merasakannya melumpuhkan otakku. Jalanan di luar sana mulai terlihat berbayang, tiang lampu bergerak ke kanan dan ke kiri. Sean dan Jane masih berdiri di tempat yang sama. Nafas mereka memburu – atau nafasku memburu. Jari-jariku terkepal begitu erat, kepalaku terasa sangat berat sedang kedua kakiku mulai meleleh seperti lilin. Tiba-tiba saja, aku melihat Ben berdiri di tebing pembatas itu. Tubuh besarnya mengapit wanita kecil itu dan ia terus mendesaknya ke dinding. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menjernihkan pikiranku. Namun, Ben tetap berdiri di sana. Bibirnya mencium wanita itu dengan liar, tangannya menggerayangi tubuhnya, kemudian si wanita melakukan hal yang sama.
Jalang k*****t itu!
Nafasku mengap-megap. Aku meraih pintu, mencari-cari gerendel yang menguncinya dan begitu aku menemukannya, pintu itu mengayun terbuka dengan cepat. Udara dingin malam itu langsung menerpa wajahku. Lampu jalanan di ujung sana terlihat seperti sebuah titik keemasan yang mengundangku untuk melangkah mendekatinya, sementara dinding bata di bagian samping seakan mengapitku.
Aku menatap lurus ke arah tebing pembatas, menyaksikan Ben dengan kemarahan yang memuncak. Ketika aku mengambil langkah keluar menjauhi pintu itu, aku nyaris terjatuh. Undakan tangganya di bawah kakiku bergerak-gerak dan aku kesulitan menyeimbangkan langkahku. Tanganku mencengkram susuran besi dengan kuat, kemudian aku menghitung sembari melangkahkan kakiku menuruni tangga.
Aku terpeleset, tubuhku terhuyung ke depan dan aku jatuh berguling di atas aspal. Seseorang dari tebing itu berlari mendekatiku. Tidak! Tidak. Aku berusaha bangkit, namun sebuah klakson dibunyikan keras dan dua cahaya keemasan dari lampu sen mobil menyorot wajahku. Seseorang dari dalam mobil meneriakkan sesuatu dengan tidak jelas. Namun, aku belum sempat membalas tatapannya ketika sepasang tangan besar meraihku, menyeretku masuk kembali ke dalam pintu dan menutup pintu itu dengan kasar.
“Sialan! Kau pikir apa yang kau lakukan?” Laki-laki itu berteriak di depan wajahku. Ben?
Aku mengayunkan tanganku, dengan kasar mengempaskan tubuhnya ke dinding dan berteriak histeris.
“Kau b******n! k*****t!”
“Hei! Hei!”
Laki-laki itu berusaha menghentikanku, tapi aku tidak menyerah. Menggunakan kaki dan kedua tanganku, aku memukulinya, berusaha menyakitinya meskipun itu tidak berpengaruh besar untuk ukuran pria bertubuh besar sepertinya.
“Grace! Tenang! Hei!”
“Kau sialan! Kau meniduri wanita itu! Beraninya kau!”
“Hei! Hei! Ini aku, Sean. Ini Sean! Apa kau mabuk?”
Aku mengangkat wajahku, melihat sepasang mata gelap dengan tampilan yang kacau itu memandangiku. Tubuhku bergetar seketika dan aku merasakan adrenalinku berpacu kuat.
“Kau tidak boleh menyentuh wanita itu, sialan! Apa yang kau perbuat..”
“Aku tidak.. Dengarkan aku! Kau hanya mabuk oke..”
“Tidak!”
Sean mendekatiku, kedua tangannya meraih lenganku dan aku menepisnya dengan cepat.
“Tidak!”
“Sial, apa yang salah denganmu?”
“Pergi saja kau b******n!”
Aku berjalan dengan tergesa-gesa ketika meninggalkan laki-laki itu di lorong. Rasanya seperti tubuhku baru saja mendapatkan sebuah pukulan telak, dan aku tidak benar-benar yakin tentang apa yang membuatku marah. Mungkin karena alkoholnya – mungkin karena aku berpikir bahwa itu Ben dan Abby. Mungkin saja emosiku dipengaruhi akan hal itu, tapi itu tidak benar dan yang membuatku kacau karena aku benar-benar melihat Sean mencumbu si jalang Jane Foster.
..
- LAST WITNESS -