ABBY
--
Satu hal terburuk yang tidak pernah kuimpikan adalah melahirkan bayi dari laki-laki itu. Aku menatap diriku di cermin, dengan sebuah alat pengukur tes kehamilan di satu tanganku dan melihat wajahku benar-benar pucat. Aku bisa merasakan darah mengairi tubuhku, kedua tangan dan kakiku bergetar dan aku akan terjatuh seandainya tanganku tidak berpegangan pada tepi wastafel.
Itu adalah sebuah kesalahan. Aku bisa membayangkan Emily menatapku marah, wanita itu bersiap mencekikku. Ia bisa melakukan apapun jika mengetahui hal ini. Tiba-tiba rasa takut itu seakan mencekikku. Aku tidak punya alasan, aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menghadapinya. Apa yang akan kuperbuat setelah ini? Apa sebaiknya kuhubungi pria itu dan mengatakan yang sebenarnya? Tapi aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya: gugurkan saja!
Aku harus menyeret tubuhku secara paksa menuju ruang duduk. Selama berjam-jam aku meringkuk di atas sofa. Kedua kakiku menekuk dengan lutut menekan d**a. Seisi pikiranku seakan telah dikosongkan, yang tersisa hanya prasangka-prasangka buruk tentang bagaimana Emily akan menghukumku atau bagaimana pria itu menanggapi hal ini. Tapi apa pilihan yang lebih baik selain mengatakannya? Aku bisa saja mengancam pria itu, memintanya untuk bertanggungjawab kecuali ia memilih agar aku membeberkan perbuatannya. Tapi apakah itu keputusan terbaik? Bagaimana dengan Emily? Membeberkannya sama artinya dengan membiarkan Emily mengetahui rahasia itu.
Tiba-tiba seisi ruangan terasa sesak. Yang mampu kupikirkan hanyalah bagaimana aku akan melahirkan bayi ini. Aku menatap ke arah tangga kosong yang melingkar menuju lantai atas, sejenak membayangkan Emily berdiri di sana. Kedua tangannya kosong, ekspresinya memperlihatkan ketidaksukaan yang jelas.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya. Kini kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. “Apa yang kau lakukan disini, Abby!”
Aku gelagapan, bingung untuk menanggapi pertanyaannya.
“Sudah kukatakan padamu, jangan pernah menemuiku lagi! Kau tidak diterima disini!”
“Tidak, Emily.. dengarkan aku..”
Tapi wanita itu sudah melangkah menuruni tangga. Suara bedebum langkah kakinya terdengar kasar. Ia berjalan ke arahku, kedua tangannya terjulur seakan wanita itu berusaha meraihku. Aku bisa melihat wajahnya memerah ketika ia berjalan semakin dekat dan semakin dekat. Tubuhku beringsut menjauh di atas sofa. Aku dilanda kepanikan ketika wanita itu mencengkram lenganku dengan kasar, menekannya begitu keras kemudian melingkari jari-jarinya di seputar leherku. Emily mencekikku begitu kerasnya hingga aku kesulitan bernafas. Aku berusaha mengehentikannya, namun sesuatu seakan mencegah tanganku untuk menggapainya.
“Kau pantas menerimanya! Kau pantas menerimanya!”
Di sela-sela kalimatnya itu, aku pikir aku mulai berhalusinasi, tapi aku melihatnya menyeringai. Dia menikmati saat-saat ketika menyiksaku dan ketika kupikir aku akan mati, udara segera mengisi paru-paruku. Aku terbangun dengan kuku-kuku jariku mencakar sofa dan mimpi buruk itu perlahan sirna. Benakku dibanjiri oleh kelegaan dan rasa takut di saat yang bersamaan. Aku menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Ruang tengah itu tampak gelap tanpa penerangan. Api di perapian mulai padam dan udara dinginnya menjalar di sudut-sudut dinding dan lantai kayu.
Rupanya aku tertidur dan kupikir kehamilan itu adalah bagian dari mimpi burukku, nyatanya tidak. Aku menatap alat tes yang kugeletakkan di atas meja, tidak ada yang berubah. Dengan pikiran kosong, aku berjalan menyusuri lorong yang mengarah ke dapur. Dua botol anggur yang tersisa di lemari pendingin akan menemaniku malam ini.
Ketika aku sedang duduk diam di belakang jendela, samar-samar aku mendengar suara telepon dari ruang tengah. Aku tertegun, berpikir bahwa mungkin saja itu Emily. Tapi aku tidak yakin untuk berbicara dengannya saat ini. Aku tidak siap untuk yang terburuk dan aku sedang tidak ingin membayangkannya, jadi kuputuskan untuk mengabaikan panggilan itu.
..
- LAST WITNESS -