"Pake uangnya buat beli obat pembesar d**a, ya!" Ondeng tergesa-gesa menyambangi pintu. Secepat kilat dia menyambar gagangnya seolah benda itu terbuat dari berlian yang bisa dilepas, dibawa pulang dan dijual. Namun, sebelum pintu itu terbuka, Ayap mencegatnya dengan sebuah teriakan yang tak terlalu nyaring. "Mau ke mana lo, d**a Rata?" Ondeng menoleh sinis. "Eh, cowok botol s**u karatan, gue udah nggak ada urusan lagi sama lo, ya! Gue bakal datangin lo lagi nanti kalau uang hasil penjualan 100 biji botol s**u gue udah ada. Paham?!" Ayap mengeluarkan bahasa telapak tangan yang melambai pelan, bibirnya sedikit membentuk huruf 'n' lebar, matanya disipit-sipitkan, dan kepalanya sedikit tertekuk ke belakang. Sebuah gaya cool yang mendekati gerakan sakit jiwa. "Iya, gue tahu, dan gue juga

