DILEMA Naya melangkah gontai dari pelataran parkir rumah sakit menuju persimpangan jalan. Dia sempat tertegun dan menatap ke atas sambil mengedipkan mata beberapa kali untuk menghilangkan kabut bening yang menutupi pandangan. Wajahnya tampak lesu menahan pilu akibat patah hati untuk ke sekian kali. Hari sudah mulai gelap. Naya segera pulang dengan menaiki mobil angkutan umum. Untungnya masih ada penumpang lain dan lalu lintas masih cukup ramai. Saat memasuki unit apartemen, wanita berhijab itu menyalakan lampu-lampu dan menutup tirai jendela. Kesendirian bukan hal yang dia takutkan karena sejak dulu sudah terbiasa seperti itu. Bahkan setelah menikah pun, keadaan tidak banyak berubah. Usai membersihkan diri, Naya masuk ke kamar suaminya. Dia mengambil botol parfum yang biasa dipakai Nar

