SEDU SEDAN Chandra berlutut lemas dengan napas terengah-engah. Seluruh tubuh terasa sakit, bahkan hampir saja nyawanya melayang. Dia sengaja membiarkan Fahmi dan komplotannya pergi agar bisa selamat dan menyusun rencana baru nantinya. “Gimana keadaan lo, Chan?” tanya Narendra sambil merebahkan tubuhnya di sofa. “Gue baik-baik aja, kok!” Sang adik bangkit dan berjalan menuju tempatnya menyimpan kamera. Keadaan wajahnya yang babak belur ikut direkam. Setelah memastikan video itu tersimpan, dia segera mengamankan kedua kamera tersebut. Saat melihat kondisi sang kakak, dia segera berlari menghampiri. “Mas Naren, lo kenapa?” Wajah Narendra tampak memerah. Tangan kanannya terus memegangi kepala. Deru napasnya terdengar kencang dan tak beraturan. “Sakit banget!” keluhnya. “Kita ke rumah sa

