Tok tok tok ....
Tok tok tok ....
Suara ketukan pintu yang terdengar heboh itu berhasil membuat laki-laki bermuka bantal terbangun dari tidurnya. Walau sekarang masih pukul delapan malam, tetapi ia sudah nyaman berbaring di ranjangnya sejak tadi siang. Bukannya pemalas, dirinya hanya sedang tidak enak badan akibat seringnya begadang untuk mengolah nilai akhir mahasiswanya sebanyak empat kelas, yang kalau dihitung-hitung berjumlah 120 mahasiswa. Doyi Adisaputra Dipura, hanya bangun saat dirinya ingin ke toilet atau sudah memasuki waktu untuk beribadah.
Tok tok tok ....
Tok tok tok ....
Ketukan pintu terdengar semakin ribut saja, memekakan telinga, dan akan membuat siapa saja merasa terganggu.
"Doy! Buka, woy!"
Suara nyaring itu bahkan terdengar jelas dari lantai dua. Sedikit cempereng dan bernada penuh emosi. Sepertinya ada seseorang yang sedang marah-marah di luar sana. Yang pasti, sepertinya orang itu akan marah-marah pada Doyi jika ia muncul di hadapannya.
Doyi tidak mau ambil pusing. Karena dirinya sudah pusing sejak kemarin. Alih-alih bangkit dan menemui orang itu, Doyi justru memilih mengambil ponsel yang terletak di atas nakas dan mencari sebuah nama, lalu menekan tombol panggilan berwarna hijau yang tersedia di sana.
Ketukan pintu tidak lagi terdengar, karena sang pelaku merasakan ponsel yang ada di tangan kirinya bergetar.
"Woy, anjir. Buka pintunya!" ucapnya tepat di lubang mic ponselnya. Ia berucap dengan menggebu dan nadanya terdengar meluap-luap penuh emosi.
"Ngapain malam-malam gedor pintu rumah orang? Gue pusing."
Ia hanya mendengus mendengar balasan di seberang sana, lalu kembali beralih menggedor pintu alih-alih pergi dari tempat itu.
"Gue nggak bakal pergi sebelum lo bukain pintu!"
Lagi-lagi Bina menggedor pintu rumah Doyi. Sampai akhirnya seorang tetangga muncul menampakkan wajar tidak senang dan menegurnya. "Mbak Bina ngapain gedor-gedor pintu rumah Mas Doyi?"
Bina menoleh, ia langsung kikuk ditanya seperti itu oleh tetangganya.
"Doyi nyulik kucing saya, Pakdhe," ucap Bina asal saja. Tetangga itu hanya menggeleng tidak percaya dengan tingkah konyol mereka.
"Jangan keras-keras ya, Mbak Bina. Cucu saya lagi belajar ngaji."
"Ehe maaf, Pakdhe."
Belum. Telepon belum terputus. Doyi masih bisa mendengar perkataan Bina melalui sambungan telepon. Bahkan samar-samar perkataan Bina dapat di dengar olehnya. Ketahuan 'kan, seberapa kerasnya Bina berkata, seperti berteriak.
Bina masih berdiri di depan pintu rumah orang tua Doyi. Ia tidak bisa lagi menggedor-gedor pintu rumahnya karena nanti pasti Pakdhe Suman akan menegurnya lagi. Kali ini ia hanya bisa mendengus dengan sumpah serapah yang ia tujukan pada laki-laki bernama Doyi.
Tidak lama pintu akhirnya terbuka. Doyi dengan tampilan yang sama sekali tidak rapih itu menyapa Bina dengan senyum mengembangnya yang juga berhasil menampakkan deretan gusinya yang merah muda. "Hai, Bin," ucapnya nyengir.
"Berantakan banget, lo." Bina menelusuri penampilan Doyi dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia mengrenyit ngeri melihat penampilan laki-laki itu. "Udah kayak mayat hidup aja."
"Masuk dulu." Doyi mempersilakan masuk. Ia membuka pintu Bu itu lebih lebar.
"Ogah." Bina berdecih. "Nggak usah pake masuk segala. Gue cuma mau protes. Kenapa gue bisa dapet D, ha?" Perempuan itu berkata sedemikian kasar tepat di depan Doyi.
"Maksud lo apaan?" tanya Doyi dengan santai, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Padahal dirinya sangat paham apa yang dimaksud oleh Bina.
"Nggak usah sok b**o, anjir. SMP-SMA lo itu akselerasi. Nggak bakat lo sok b**o begitu."
"Ya gue mana paham kalo lo ngomongnya sambil marah-marah?" Kini Doyi balik berucap dengan ketus. Ia juga sempat memutar bola mata malas.
"Ck. Nilai AKM 3 gue kenapa D, sedangkan temen-temen yang lain lulus semua!"
"Kenapa lo protes nilai lo yang jelek itu ke gue? Protes aja ke dosen AKM 3 lo!"
"Dosen AKM 3 gue itu ya elo, anjir!"
Wajah Bina semakin memerah karena marah. Jika Doyi sudah bersikap seperti itu, ingin rasanya ia mencekik lehernya sampai tewas, lalu membuang jasadnya ke sumur tua yang ada di belakang komplek.
Kontras dengan Bina yang memerah, Doyi masih bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia masih berdiri diam menunggu apa yang akan dilakukan Bina selanjutnya. Bahkan ia beralih menatap perempuan itu dengan tenang.
"Doy, lo itu ya ...." Perkataan Bina terhenti beberapa saat. Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam dan menunjuk Doyi dengan wajahnya yang merah padam. "Lo itu nyebelin, tau nggak sih!" Dirinya langsung berbalik memunggungi Doyi dan melangkah pergi dari sana.
Tetapi, belum sampai ia keluar dari halaman rumah Doyi, langkahnya terhenti karena sebuah sedan putih memasuki halaman.
Bina masih berdiri di sana. Tidak mungkin ia melanjutkan langkahnya tanpa menyapa orang yang ada di dalam mobil tersebut.
"Malam, Pakdhe," ucap Bina dengan senyumnya saat pria paruh paya keluar dari mobil, disusul sang istri yang langsung melemparinya senyum sumringah. "Hallo, Budhe." Bina menyalimi keduanya.
"Habis main sama Doyi, ya?" tanya Ayah Doyi sambil menatap Bina dan Doyi secara bergantian.
Bina menggeleng. Ia tidak mungkin berkata yang sesungguhnya jika dirinya kemari untuk protes masalah nilai. Bisa-bisa dirinya malah ditertawakan oleh orang tua Doyi karena dirinya mendapat nilai D di mata kuliah yang bahkan anaknya selalu menjuarai kejuaraan mata kuliah tersebut.
"Doyi nyulik Krucil."
Krucil adalah kucing kesayangan Bina. Lagi-lagi, makhluk menggemaskan tidak bersalah itu dijadikan alibi oleh tuannya.
"Lhoh, terus mana Krucilnya?" Kini giliran Ibu Doyi yang bertanya.
"Udah lari duluan pulang ke rumah."
Ayah dan Ibu Doyi mengangguk paham.
"Yaudah, Pakdhe sama Budhe. Bina pulang dulu, ya?"
"Sendiri?"
Bina mengangguk.
Doyi yang masih berada di depan pintu itu mendengar percakapan diantara mereka. Sampai akhirnya Doyi mengembuskan napas malas. Ia yakin Ayah dan Ibunya akan menyuruh dirinya untuk mengantar Bina pulang.
"Biar diantar Doyi, ya?"
Nah kan, benar apa tebakan Doyi. Laki-laki itu bergegas masuk ke dalam, berpura-pura tidak mendengar semuanya. Tetapi ibunya keburu berteriak memanggil namanya.
"Doyi! Anterin Bina, gih!" teriak Ibu Doyi sampai berhasil menghentikan langkahnya. Doyi kemudian berbalik dan mendengus mengisyaratkan kepada Ibunya bahwa ia menolak perintahnya.
"Nggak usah, Budhe. Nanti yang ada Doyi malah nyulik Krucil lagi." Bina mencari alasan. Tak lupa wajahnya ia manyunkan.
Doyi dan Bina memang bertetangga. Namun mereka adalah tetangga belakang rumah, beda blok. Dimana rumah mereka saling membelakangi. Dan untuk sampai di rumah Bina dari rumah Doyi, perlu melewati dua puluh rumah yang sepuluh masing-masingnya menghadap selatan seperti rumah Doyi dan utara seperti rumah Bina.
"Ayok. Jalan." Tiba-tiba saja Doyi sudah berjalan melewati Bina dan kedua orang tuanya.
"Jalan kaki?" tanya Ayahnya.
Doyi berbalik. "Kan motor Doyi alergi malam, Yah." Alergi malam yang dimaksud adalah ketika Doyi sedang malas mengeluarkan motornya yang sudah terparkir di dalam garasi dengan rolling door yang sudah terkunci.
Lain lagi, Bina ber-hah bingung dalam hati. Bagaimana motor bisa alergi dingin. Ada-ada saja si Doyi. Bilang saja jika dirinya tidak mau kalau motornya dibonceng Bina. Batinnya seperti itu.
"Yasudah. Naik mobil ayah. Kayaknya juga mau gerimis. Nih!" Sang Ayah melemparkan kunci mobilnya yang tepat ditangkap Doyi. "Salamin ke Papa sama Mama kamu, ya!"
Bina mengangguk dan kembali menyalami orang tua Doyi.
Setelah mereka masuk ke dalam rumah, Doyi baru mau melangkah masuk ke dalam mobil. "Cepet masuk!"
"Iya!" jawab Bina tak kalah ketus.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Hening. Doyi juga tidak berniat menyalakan radio. Ia memilih fokus pada jalanan komplek yang sudah sepi.
"Doy, plis lah. Lo tega apa ngasih gue nilai D?" Bina mulai lagi. Ia masih tidak terima dengan nilai D yang didapatnya.
"Apaan sih lo ngomongin nilai. Kalau mau ngomongin nilai, sama dosen lo sana."
"Doyi ... kan elo dosen gue." Bina mengulangi perkataannya tadi. Namun kini nada bicaranya ia rendahkan.
"Mana ada mahasiswa ngomong gue-elo sama dosennya."
Bina memutar bola mata. "Pak Doyi Adisaputra Dipura, mohon maaf. Kenapa nilai saya D padahal teman-teman yang lain yang juga tidak paham dengan materi Bapak bisa lulus?"
Doyi diam saja masih berfokus pada jalanan komplek yang sepi. Ia tidak mau menjawab sampai tidak terasa mobil sudah berhenti di depan rumah Bina.
"Udah, turun."
"Doy, jawab dulu pertanyaan gue!" Bina merengek frustrasi.
Doyi menoleh sebentar untuk memperhatikan wajah masam Bina. Ia lalu terkekeh.
"Ngapa lo ketawa?"
Wajah Doyi kembali datar. "Sono, turun."
"Ih."
Bina menyerah. Lebih baik urusan ini ia lanjutkan esok saja. Daripada kepalanya makin panas dan membuatnya sebal semalaman.
"Biasain kalo keluar malam tuh pake jaket. Dingin, ntar masuk angin."
"Terserah gue, lah."
Setelah Bina keluar, Doyi menurunkan kaca jendelanya. "Bina!" panggilnya.
Bina berbalik dan masih dengan wajah masam. "Apa lagi?"
"Johnny udah tau belum kalo lo dapet D?"
Mata Bina membulat mendengar perkataan itu. Apalagi, Doyi berucap sambil cengengesan.
"Jangan bagi tahu Mas Johnny!" Teriak Bina namun seperti berbisik. Doyi malah terkekeh melihat tingkah Bina. "Awas aja lo!" Bina mengepalkan tangan di udara siap menonjok Doyi. Namun laki-laki itu sudah kabur begitu saja.
Saat Bina berbalik berniat untuk memasuki rumah, betapa terkejutnya dia saat melihat Johnny berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
Dengan perasaan takut-takut, Bina berjalan sambil menunduk. Ia juga berdoa, jangan sampai Johnny mendengar apa yang tadi diteriakkan Doyi masalah nilainya.
Bina sudah dekat dengan pintu. Ia memberanikan diri untuk menatap Kakanya itu. "Hallo, Mas," ucapnya pelan. Ia langsung bergegas masuk.
"Dek."
Langkahnya terhenti. Namun Bina enggan berbalik.
"Lo ngapain dianter Doyi? Dari mana?"
Vhuih ...
Bina mengembuskan napasnya lega. Ia lalu berbalik menghadap Johnny. "Mas, temen lo itu tadi nyulik Krucil. Terus gue ke rumahnya deh buat ambil Krucil."
"Terus, mana Krucilnya?"
"Loh, iya. Tadi ada kok gue gendong. Mana ya Krucil?" Bina bersikap sok khawatir karena kehilangan Krucil. "Mas, lo tadi liat Krucil masuk nggak?"
"Padahal dari sore si Krucil ada di kandang. Lo sama gue yang masukin."
Bina melebarkan senyumnya saat ketahuan bahwa ia hanya berakting.
"Ngapain bohong?"
Bina diam. Ia sudah tidak bisa bersuara saat Kakaknya itu sudah berwajah dingin.
"Ngapain pakai bohong segala?" tanya Johnny lagi. Ia sedikit menyentak.
"Maaf, Mas."
"Maaf kenapa?"
"Maaf gue udah bohong."
Johnny langsung mendekati adiknya itu. Ia mengusap puncak kepala Bina. Rasanya ia tidak tega jika melihat wajah adiknya yang terlihat ketakutan karenanya. "Kalau gitu, sekarang jujur."
Bina menggeleng. "Nggak mau."
"Kok nggak mau?"
"Nanti Mas Johnny marah-marah."
"Kalau lo nggak salah, kenapa gue mesti marah?"
"Tapi gue salah, Mas." Bina semakin merendahkan nada bicaranya. Ia semakin menunduk lesu berharap-harap cemas dalam hatinya.
Bukan Mas Johnny jika tidak pandai menghangatkan hati. Mas Johnny lalu merangkul adik semata wayangnya itu. "Lo cerita deh, Dek. Siapa tahu Masmu yang ganteng ini bisa ngebantu."
Spontan Bina langsung mendorong tubuh Johnny yang jauh lebih jangkung darinya. Kecil-kecil begitu, Johnny berhasil tersungkur dibuatnya. Untung saja tubuh Johnny jatuh di atas sofa dan tidak sampai terlatuk ujung meja.
"Mas Johnny sok ganteng!"
Johnny terkekeh. "Ada apa sih, Dek?"
"Janji jangan bilang Mama sama Papa, ya?" Bina sudah mengacungkan kelingking di depan wajah Johnny dan kelingking Johnny langsung terkait dengan kelingkingnya.
"Janji."
"Jadi gini, Mas ...."
Johnny beralih duduk tegap mendengarkan cerita Bina yang sepertinya sangat serius.
"Gue tadi ke rumah Doyi."
"Eh, Dek. Biasain panggilnya pake Mas atau Kak, deh. Doyi itukan lebih tua dari lo. Dia juga dosen lo, kan?"
Aish. Bina berdecih sebal. Baru saja ia akan menceritakan bagaimana menyebalkannya sosok Doyi, Mas Johnny malah memintanya untuk memanggilnya dengan sopan.
"Udah kebiasaan manggilnya langsung Doyi. Nggak usah tambahin embel-embel."
"Nggak sopan, Dek."
"Udahlah, Mas. Nggak jadi cerita! Males!" Bina bangkit dari sofa. Sekali lagi ia berdecak sebal dan meninggalkan Johnny yang geleng-geleng kepala di sana.