Malam pertama memang biasa saja. Tidak apa, karena setiap manusia mempuanyai lelahnya masing-masing. Riyah tidak pernah berharap jika malam pertamanya dengan Doyi akan menjadi sebuah malam yang romantis. Karena Riyah diam-diam sangat memahami, bahawa malam pertamanya bukanlah sebenar-benarnya malam pertama. Bisa dibilang malam kedua. Riyah sudah terbangun sebelum subuh. Ia kira Doyi masih tertidur lelap, rupanya suaminya itu sudah duduk di atas sajadah menghadap kiblat. Riyah termenung menatap suaminya yang menengadahkan tangan. Entah apa yang sedang diminta oleh laki-laki itu, ia tidak tahu. Riyah hanya tersenyum mengetahui betapa romantisnya Doyi ketika sedang berkomunikasi dengan Tuhan. Punggungnya terlihat tegar dengan aura menenangkan yang terpancar dalam remangnya kamar tanpa banyak

