Bina, Cinta itu Rumit

4108 Kata
Dari siang hingga sekarang ternyata sudah petang saja, mereka berdua hanya berkeliling kota Malang sembari bernyanyi ria alias carpool karaoke. Tidak ada obrolan yang serius atau sejenisnya. Benar-benar hanya menikmati pemandangan kota Malang dengan sedikit kemacetan yang membuat sebal. Rasanya bisa menghabiskan waktu bersama Doyi adalah suatu hal yang menyenangkan, begitu pula dengan yang dirasakan Doyi, sudah lama memang mereka berdua tidak pergi atau keluar bersama-sama seperti saat ini. Beruntung, tidak ada rasa canggung yang menghiasi keduanya. Bila mungkin ada luka Coba tersenyumlah Bila mungkin tawa Coba bersabarlah Karena air mata tak abadi Akan hilang dan berganti Bina praktis mengecilkan volume. "Kok kita nyanyi lagu sedih gini?" ia bertanya-tanya pada Doyi tanpa menatap wajah lelaki itu. memang, siapa lagi kalau bukan Doyi yang ia tanyai di saat mereka hanya berdua di dalam mobil. "Udah petang. Bentar lagi adzan. Bagus deh lo kecilin." Doyi hanya menjawab dengan singkat dan juga dengan nada datar. Ia masih fokus pada jalanan. Mobil melaju pelan karena memang sepanjang jalan Soekarno-Hatta selalu padat dan ramai lancar. Apalagi kala petang seperti ini, ditambah dengan sisa gerimis hujan, membuat lalu lintas terasa kacau walau sebenarnya biasa saja. Jalanan basah karena air hujan berhasil berkilauan karena cahaya lampu yang memantul, sebenarya hal itulah yang menjadikan suasana terlihat kacau padahal semuanya baik-baik saja. Mereka berdua masih menikmatu lagu dari Opick feat Melly Goeslaw yang sering dijadikan soundtrack sinetron azab di salah satu stasiun televisi. Jika didengar, lagunya memang syarat akan makna. Air mata tidak ada yang abadi, akan hilang dan berganti. Kesedihan tidak akan abadi, pun juga dengan kebahagiaan. Seketika ketka mendengar lagu tersebut,  Bina jadi teringat Haekal. Lagi-lagi kekhawatirannya akan kesepian tidak terbukti. Setelah beberapa jam tidak bersama Haekal, Bina belum merasakan kesepian. Lalu, ia mengambil ponsel di dalam tas selempangnya, mencari nomor telepon Haekal dan berniat menghubunginya. Tetapi niat tersebut ia urungkan ketika ia sadar bahwa saat ini dirinya sedang bersama Doyi. Padahal, sedang bersama siapapun ia saat ini, tidak ada korelasinya juga. Tapi entah mengapa, Bina memilih mengurungkan niatnya untuk menghubungi Haekal. Namun aakhirnya perlu beberapa detik bagi Bina untuk memutuskan apakah dirinya perlu menelfon Haekal atau tidak. Padahal seharusnya perempuan itu sudah menayakan kabar Haekal sejak sore tadi. Tetapi ia terlalu asyik berkeliling kota bersama Doyi dan membuatnya sama sekali tidak kepikiran akan hal itu. Bina sedikit miris dengan dirinya sendiri yang dnegan mudah melupakan bahwa dirinya sempat sangat sedih karena ditinggal Haekal pulang ke kampung halaman. Bina kembali menyadari sesuatu. Agaknya dia bukanlah teman yang baik untuk Haekal. Sepertinya juga ia tidak pernah tulus berharap selalu ada Haekal di sampingnya. Wong saat Haekal pulang dan ada Doyi yang menemani, Bina sudah melupakan laki-laki itu. Padahal ia sempat memohon secara dramatis agar Haekal selalu bersamanya. Benar dan pasti, Bina tidak peduli dengan siapa ia saat ini. Bina hanya takut sendiri, merasa kesepian dalam kesenyapan yang sejatinya tidak pernah abadi. Tidak lama, mobil berhenti tepat di sebuah masjid yang cukup megah dengan berwarna dominan hijau dan dengan banyak anak tangga di sana. Bina sempat terkesima dengan bangunan tersebut. Bukan karena kemegahannya, tetapi nuansa anyem langsung merasuk dalam jiwa. "Magriban dulu, ya. Habis itu makan malam, terus baru kita ke Paralayang," ucap Doyi setelah berhasil memarkirkan mobil. "Katanya ke puncak?" tanya Biaa kemudian. Pasalnya, Doyi meminta izin ke mama dan papa akan membawa dirinya ke puncak, bukan Paralayang. "Ya puncak ya Paralayang. Sama aja,” singkat laki-laki itu yang kemudian memilih untuk segera keluar dari mobil dan melaksanakan sholat magrib di masjid tersebut. Raut wajah laki-laki itu tidak biasa. Ada pancaran rasa ragu saat hendak melangkah ke anak tangga pertama dengan alas kaki yang sudah dilepasnya. Doyi menunduk sebentar. Ia mengatupkan mulutnya dan menarik napas dalam-dalam. Ada perasaan bimbang bersamaan dengan degub jantungnya yang kian terasa. Lebih dari satu menit laki-laki itu tidak kunjung melangkah, hingga akhirnya seorang pria paruh baya berhasil menyadarkan dirinya dari lamunan. "Ayo, Mas. Keburu iqomat," ucap jamaah lain yang melihat Doyi masih terbengong saja dan berhasil menyadarkan dirinya dari lamunan.   Doyi berusaha menampik segala sesuatu yang ada di ingatannya, walau semua itu sia-sia. Setiap langkah yang membawanya lebih dekat ke area sholat, membuatnya semakin ketakutan dan merasakan penyesalan yang sepenuhnya. Seberapa kalipun Doyi memantapkan hatinya, selalu saja hal itu selalu teringat. Walau rambutnya sudah basah karena sisa air wudhu, tetap saja, dirinya belum bisa merasa tenang. Hingga pada akhirnya, iqomat yang berkumandang memecah segala ingatan tersebut. Dan doanya dalam hati adalah, ia hanya ingin kembali bisa khusyuk saat beribadah kepada Tuhannya. Sedangkan Bina, ia berada di dalam mobil dengan kaca yang sedikit turun. Hari ini ia ada tamu, jadi ada larangan untuknya melaksanakan sholat lima waktu dan sholat sunnah lainnya. Tidak sampai dua puluh menit, laki-laki itu kembali dengan rambut yang masih sedikit basah dan ekspresi frustrasi. Ia membanting tubuhnya di punggung jok dan bernapas dengan deru yang dapat dirasakan oleh Bina yang ada di sampingnya. Praktis saja Bina terheran dengan sikap Doyi. Yang harusnya merasa tenang setelah melakukan ibadah, tetapi tidak dengan laki-laki itu. "Habis sholat kok gusar? Lo pasti nggak khusyuk ya?" Pertanyaan itu Bina lemparkan dengan bumbu gurauan. Namun pertanyaan itu tidak Doyi indahkan. Ia mengusap wajahnya beberapa kali. Kemudian kembali menyalakan mesin mobil dan melaju pergi. Tidak ada lagi nyanyian yang keluar dari radio. Suasana senyap berbanding terbalik dengan ramainya jalanan kota. Bina tidak berniat untuk membuka perbincangan ketika wajah Doyi masih terlihat sangat gusar. Perempuan itu mulai cemas. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran laki-laki itu. "Doy, lo nggak papa?" tanyanya kemudian. Doyi masih tidak menjawab. Ia hanya  berfokus pada jalanan dengan dua bola matanya yang memerah tajam. Sesutau sedang berkecamuk, Doyi harus menahannya. Sepinya suasana di dalam mobil membuat deru napas keduanya sangat terasa. Sudah lebih dari satu jam yang lalu Doyi sama sekali tidak membuka mulutnya. Ia hanya diam tanpa sadar jika Bina sedang khawatir dengan kondisi saat ini. Bina memang jarang keluar malam, apalagi sampai ke daerah pegunungan seperti ini. Yang harusnya ia bisa menikmati jalanan naik-turun pada gelapnya malam, ia malah sama sekali tidak berfikir untuk menikmati itu semua. Pikirannya hanya tertuju pada laki-laki di sampingnya. Banyak tanda tanya yang memutari otak, sepadan dengan jalan yang mulai berliku. Jam di monitor dashboard sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Tidak seperti petang tadi yang Doyi langsung melipir ke masjid di pinggir jalan, kali ini Doyi sama sekali tidak berhenti. Mungkin karena waktu sholat isya yang cukup panjang sampai tengah malam, membuat laki-laki itu tidak mampir ke masjid terlebih dahulu. Perlahan hawa dingin terasa menembus dinding mobil, pertanda mereka sudah hampir sampai di puncak atau yang biasa disebut Paralayang. Jalanan di kanan dan kini mulai gelap tanpa rumah. Penerangan juga terbilang sangat minim. Tetapi sekejap kemudian, terlihat lagi bangunan-bangunan semi permanen yang rupanya adalah warung-warung yang berjajar di tepi jalan. Tidak banyak orang di sepanjang jalan maupun yang terlihat di warung. Mungkin gerimis yang sempat datang yang menjadi penyebabnya. Doyi memutuskan untuk berhenti di salah satu warung yang benar-benar tidak ada pengunjung yang datang. "Laper banget gue ...," ucap Doyi dengan hembusan napas panjang sambil melepas seatbeltnya. Hal itu sontak membuat Bina sedikit terkejut. Pasalnya ekspresi laki-laki itu sudah kembali cerah seperti sore tadi. "Yuk, makan dulu!" ucapnya dengan sumringah. Bina masih diam mendapatkan dua perbedaan ekspresi yang singkat. Ia merasa memang ada sesuatu yang sedang dipikirkan laki-laki itu. "Bin. Ayo makan!" ucapnya lagi. "Ah, iya." "Pakai jaketnya, udara udah dingin." Kemudian mereka keluar dengan diiringi gerimis yang sesekali masih turun. Udara yang menyeruak langsung menyambut mereka kala hirupan pertama masuk dalam pernapasan. "Indomie beceknya dua ya, Bu!" kata Doyi sedikit berteriak. Mereka sudah duduk di lesehan beralaskan tikar dengan meja panjang di sana. "Minumnya apa, Bin?" tanyanya kemudian pada Bina. "Es teh," singkatnya. "Es teh dua, Bu." Setelah selesai dengan pesanan, keduanya hanya diam dalam duduknya yang berhadapan. Jaket baseball dengan model dan warna yang sama itu membuat mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bermalam minggu namun terjebak gerimis yang membuat perutnya meringis. "Doy, lo yakin ngajak gue jauh-jauh ke sini cuma buat makan indomie?" bisik Bina sambil memajukan wajahnya. Harap-harap si penjual tidak sampai mendengar. Doyi kembali merekahkan senyumnya. Melihat itu, membuat perasaan Bina sedikit lebih hangat walau udara terasa sangat dingin. "Lo cobain dulu. Ini indomie terkenal banget di sini." "Bilang aja lo mau ngirit gegara duit lo kepake buat beli jaket." Bina masih berbisik, tetapi nada bicaranya sangat terdengar ketus. "Yaiyalah. Tiga juta gue melayang cuma buat nurutin nafsu lo!" Bina memundurkan duduknya. Tangannya sudah ia lipat di depan d**a. "Kalau nggak ikhlas, bilang dong. Kan gue juga nggak bakal maksa." "Nanti yang ada lo nangis-nangis di toko." Mendemgar kenyataan itu, Bina terkekeh. Memang benar dirinya akan merengek jika apa yang ia mau tidak dituruti, hal itu berlaku pada Mas Johnny dan Doyi. "Iya, deh. Sebagai gantinya, lo gue masakin setiap kali lo mau. Tapi selama liburan ini doang!" Doyi langsung mengangguk antusias. Masakan Bina memang tidak seenak masakan restoran, tetapi masakan Bina jauh lebih nikmat dari masakan pembantu rumah tangga yang ada di rumahnya. "Ada satu syarat lagi." "Apa?" tanyanya menantang. "Tahun depan pas lo ngulang AKM3, ambil kelas gue." Matanya langsung membulat. Napasnya tercekat mendengar perkataan Doyi. Ditambah ekspresi laki-laki itu yang menyeringai, membuat Bina tidak bisa berkata-kata lagi. "Gimana? Kalau gue nggak ikhlas, kulit lo budukan pake jaket itu." Jujur, Bina sudah jatuh cinta pada jaket itu sejak pandangan pertama. Sejak seminggu yang lalu saat ia tidak sengaja melihat jaket itu terpampang di etalase toko lain. Dan pada akhirnya hari ini Tuhan telah mengizinkan dirinya memilki jaket unik tersebut melalui perantara Doyi. Setelah berpikir beberapa saat, Bina akhirnya mengangguk, membuat laki-laki itu tersenyum puas. "Tahun depan, gue mau lo belajarnya serius. Kalau ada yang nggak lo tahu, lo bilang sama gue. Jangan kayak kemarin. Lo nyepelein gue banget!" Omelan Doyi praktis membuat Bina teringat akan masa dimana dirinya benar-benar menyepelekan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Mengingat hal itu juga membuat Bina sedih bin sebal. Kalau saja Doyi tahu jika banyak mahasiswanya yang mendapat bocoran saat UTS dan UAS, pasti Doyi akan bersedih juga. "Iya, Pak Doyi yang terhomat. Dosen muda yang cerdasnya luar biasa." Lagi-lagi laki-laki itu kembali terkekeh. Rupanya perkataan Doyi tentang indomie yang terkenal bukanlah main-main. Walau Bina belum sepenuhnya percaya bahwa indomie becek di sini terkenalㅡkarena warung sepi, tetapi aroma yang keluar dari mie dengan sedikit kuah kental itu sungguh berhasil menggoyangkan cacing-cacing dalam perutnya. Asapnya mengepul pertanda indomei baru saja matang. Sayur kol, sawi, dan wortel juga terlihat masih segar. Ditambah sosis dan suwiran ayam, pasti indomie yang seharga dua ribu lima ratus itu berubah harga menjadi sepuluh kali lipatnya. Tanpa aba-aba dan tanpa ucapan selamat makan apalagi jalmokgosebnida, mereka berdua telah larut dalam kenikmatan indomie becek yang sangat cocok bersanding dengan udara dingin. Keduanya diam dalam kunyahan masing-masing, dan sesekali sruputan es dari Bina terdengar. Sungguh tidak sopan, tetapi Doyi hanya melayangkan lirikan yang dibalas cengiran singkat oleh Bina. "Iya, gue akuin indomienya enak. Padahal gue tim mie sedaap." Bina berbisik pada Doyi sembari membalik sendok dan garpunya. Ia masih sungkan jika sang penjual tahu apa yang ia bicarakan, sekalipun itu sebuah bentuk pujian. Doyi hanya mendengus, masih dalam aktivitasnya mengunyah adonan tepung tersebut. Semua orang tahu jika Bina suka makan. Jadi jangan heran kalau ia selalu lebih cepat menghabiskan makanannya ketimbang orang lain. Ia juga tidak pernah menyisakan sedikitpun sisa makanan dalam piringnya, masa bodo dengan ejekan orang, yang penting tidak mubazir. "Mau nambah?" tawar Doyi ketika piringnya sudah kosong. Bina kembali berbisik. "Pengen, tapi ganti mie sedaap aja gimana, sih? Kayaknya bakal lebih nikmat deh." "Buk, ada mie sedaap nggak?" ucap Doyi tiba-tiba pada sang penjual. Langsung saja lengannya dipukul oleh Bina. "Maaf, Mas. Nggak ada. Warung ini juga disponsorin sama indomie." "Tuh, Bin. Warung ini disponsori sama indomie. Kalo mau mie sedaap, suruh mie sedaap sponsorin warung ini." Bina sudah mengumpat dalam hati. Kalau saja tidak ada orang di sini, sudah sejak tadi ia menjitak kepala Doyi yang menyebalkan itu. - Tidak sampai di situ. Tujuan utama Doyi mengajak Bina ke puncak bukan hanya sekadar makan malam indomie becek, melainkan untuk melihat gemilang bintang bersama perempuan yang selama ini memenuhi ruang kosong dalam dadanya. Karena kondisi hujan dan tanah cukup basah, mereka memutuskan tidak pergi ke spot foto. Biasanya di spot foto tersebut biaa dilihat gemerlap lampu-lampu kota dengan bintang-bintang di langit yang indah. Sangat instagramable sebenarnya, beruntung Bina dan Doyi bukan tipikal manusia yang doyan memposting foto di sosial media. Jadi sekalipum becek, ia tidak harus memaksakan diri untuk ke sana. Jika gerimis, otomatis langit mendung dan bintang-bintang tidak muncul. Langit yang membentang terlihat hitam dengan sedikit warna merah terpantul karena lampu-lampu yang ada di kota. Bina dan Doyi sama-sama memandang langit itu dalam diam. Entah karena kekenyangan atau memang keduanya sedang ingin menikmati pemandangan dalam kesunyian. Kung kang kung kang Kung kang kung kang Kung kang kung kang Suara kodok yang tiba-tiba terdengar itu membuat Bina dan Doyi saling tatap. Mereka masih diam. Beberapa saat kemudian tawa mereka pecah hanya karena simphoni merdu dari suara kodok-kodok itu. "Anjir. Bukannya suara jangkring, malah kita dengernya suara kodok." Bina masih tertawa sambil memandang sekeliling sumber suara. "Nggak usah pake anjir-anjiran segala. Nggak baik." Doyi sudah berhenti tertawa. Tangannya ia lipat di depan d**a dan kembali memandang mendung langit bersama merdunya suara kodok. "Just slang." "Slank?" "Itumah boyband." Bina kemudian menjitak kepala Doyi. "Boyband gimana? Slank kan nggak joget-joget!" Doyi berganti menjitak kepala Bina. "Yeu, yang joget-joget itu boy group!" ucapnya mengoreksi perkataan Doyi. Praktis perempuan itu mengambil ponsel pipihnya dari dalam tas, lalu memperlihatkan sebuah video. "Ini nih boygroup." Doyi melirik ponsel Bina. Di sana sedang di putar video dengan beberapa pria yang bernyanyi sambil berjoget ria. "Ganteng, kan?" Doyi berdecih. "Masih gantengan gue." Seketika ia mengalihkan pandangannya pada Bina yang sedang bernyanyi mengikuti video tersebut. "New thangs ... new thangs." Mulut laki-laki itu sampai terbuka melihat Bina yang sangat hapal lirik bahkan gerakannya. "Bruce Lee ... Bruce Lee." "Lah, kenapa Bruce Lee dibawa-bawa?" Bina tidak menanggapi, ia masih asyik berdendang lagu yang memang auto bikin goyang. "Udah, Bin. Malu dilihat orang." Doyi menurunkan ponsel Bina dan mempause video tersebut. Kemudian yang ada tinggal keheningan. Lagi-lagi keheningan. Sebenarnya ada yang ingin Doyi katakan pada Bina. Bukan hanya tentang perasaannya, tetapi juga tentang hal lain yang menurutnya sangat perlu untuk dibicarakan berdua saja. Namun sedari tadi dirinya masih bingung. Dirinya tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan yang menurutnya cukup serius. Doyi membuat siulan dari mulutnya. Ia berusaha menetralkan kegundahannya yang sekian waktu semakin berderu. "Jangan siul malam-malam. Ngundang setan!" Doyi menghentikan siulannya. Ia menatap wajah perempuan itu lekat-lekat. Sedangkan yang ditatapnya sibuk memainkan napas dengan mulutnya. Mengecek apakah udara yang keluar dari mulutnya bisa ia lihat. "Dingin, ya?" ucap Doyi kemudian. Ia mulai mengkahwatirkan perempuan itu. sebenarnya ia juga merasakan bahwa udara semakin dingin saja. Bina menggeleng. "Nggak terlalu dingin. Buktinya napas gue nggak keliatan." Laki-laki itu kemudian melepas jaketnya. Jaket yang sama seperti yang Bina pakai. Kemudian ia menyelimuti punggung perempuan itu dengan jaket. Bina spontan menghentikan aktivitasnya, menatap Doyi yang bertingkah aneh. Ia hendak melepas jaket Doyi yang sudah bertengger di punggungnya. "Ngapain pake jaketin gue segala? Gue pilih jaket yang sama biar kita bisa kembaran. Bukannya malah dipake gue semua." Bina mengedikkan bahunya. "Ambil." Ia memerintah Doyi untuk kembali mengambil jaket itu. Bukannya mengambil dan memakainya kembali, Doyi lebih menangkupkan jaket itu pada tubuh Bina. Praktis saja menghapus jarak diantara mereka. "Doy, gue bilang-" ucapan Bina terhenti ketika ia mendongak menatap laki-laki itu. Wajah Doyi terlihat segar seperti biasanya, tetapi tatapan yang terpasang di sana seolah mengartikan bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran. Tatapan lamat dari Doyi itu ingin Bina artikan, hanya saja ia tidak berhasil menebak isi kepala sahabatnya itu. Ada sedikit keheningan yang terjadi diantara tatapan itu. Sampai pada akhirnya mereka berdua kembali berjarak saat tiba-tiba ponselnya kembali memutar video yang sempat Doyi pause. Baby we go wild (eeh) 127 Squad (eeh) "Lah, suaranya kayak suara Haekal," celetuk Doyi setelah mendengarnya. "Thats why gue ngefans sama grup ini." Bina kemudian tersenyum. Ingatannya tentang Haekal kembali lagi. Dan lagi-lagi ia merasa bersalah pada laki-laki itu. Laki-laki yang ia perjuangkan untuk tidak terburu-buru pulang, tetapi saat laki-laki itu pulang, justru Bina melupakannya tanpa menanyakan kabar. Bina kembali berkutat pada ponselnya. Ia mencari-cari sesuatu. Dan saat sudah menemukannya, ponselnya itu ia arahkan pada Doyi yang spontan memundurkan kepalanya. "Ini video cowok tadi cover lagu Indonesia." "Orang Korea cover lagu Indonesia?" Bina mengangguk. "Namanya Donghyuck, yang suaranya mirip Haekal. Sebelahnya itu si ganteng namanya KDY. Jujur, gue lebih ngefans sama KDY ketimbang Donghyuck. Soalnya Donghyuck lebih muda dari gue. Susah dihaluin. Berasa haluin Haekal juga." Bina menjelaskan panjang lebar. Padahal Doyi tidak menyuruhnya untuk menjelaskan sepanjang itu, apalagi sampai pada kehaluan. "Yang KDY gantengnya mirip gue," ucapnya datar. Ia masih menyimak video tersebut. Walau Bina sudah mendengus dan memutar bola mata, tetapi ia tidak bisa tidak menyetujui perkataan Doyoung. Memang benar Doyi itu ganteng dan sedikit mirip dengan KDY, jika saja Doyi lebih rajin lagi perawatan. Setelah selesai dengan video tersebut, Bina mematikan ponselnya dan kembali menaruh ke dalam tas. Menyadari bahwa jaket Doyi masih bertengger di punggungnya, Bina lalu melepasnya sendiri. Kemudian ia bergeser ke hadapan Doyi. Butuh usaha keras untuk dirinya berjinjit. Pasalnya memasangkan jaket ke tubuh laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu tidaklah mudah. Wajahnya memang terlihat tenang, tetapi jujur, jantungnya sangat berdegub. Sedetik kemudian Bina merasa menyesal. Seharusnya ia tidak usah berlaga memakaikan jaket pada tubuh Doyi, jika yang dipakaikan malah diam menatapnya dengan lekat. "Nggak peka banget. Lo itu tinggi, rada nunduk kenapa sih?" omelnya yang masih sibuk mengancingkan jaket itu mulai dari kerah. "Gue terlalu nyaman." Praktis Bina menghentikan aktivitasnya. Sekejap ia menatap manik Doyi, lalu kembali mengancingkan kancing kedua. "Bin." "Apa?" Tanpa aba-aba, laki-laki itu langsung merengkuh perempuan yang ada di depannya. Jantung Bina terasa seperti berhenti berdetak mendapatkan pelukan yang tiba-tiba tersebut. Bina syok, tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa diam di dalam dekapan Doyi, dan merasakan tubuh hangat laki-laki itu mulai bergetar. Tidak peduli dengan beberapa orang yang melihat mereka berpelukan di sana. Tidak peduli juga dengan aroma matahari pada rambut Bina, bahkan aroma keringat karena keduanya memang belum mandi sore setelah panas-panasan di terminal. Bahu Doyi terasa naik turun, menandakan bahwa napasnya sedang tidak teratur. Ia memeluk Bina sangat erat, bahkan tangannya sempat mencengkeran punggung perempuan itu, hingga urat-uratnya terbentuk. Doyi meringis. Wajahnya berubah merah sejalan dengan emosinya yang semakin panas. Beberapa kali ia merenggangkan pelukannya, tetapi setelah itu kembali merekatkan. "Bin, maafin gue." Doyi berbisik tepat di telinga Bina. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan perempuan itu. "Doy, kenapa?" tanya Bina dengan suara yang tidak jelas, karena dekapan Doyi yang terlalu erat. Perempuan itu agaknya paham. Ia menepuk punggung Doyi perlahan, berusaha membuat laki-laki itu tenang. "Maafin gue, Bin." Bina melepaskan pelukan itu. Dilihatnya wajah laki-laki itu telah penuh emosi. "Doy," ucap Bina memberanikan diri. "Kenapa?" lanjutnya. Ia mendongak karena jarak yang terlalu dekat membuatnya susah menatap wajah Doyi. Doyi bergeming sesaat, membasahi bibirnya, dan sejenak membuang napas dengan kasar. "Gue mau nikah." Hening. Bina mencoba memutar memori tentang perkataan Doyi barusan. Sebisa mungkin ia berusaha agar pendengarannya telah salah menangkap. "Gue mau nikah," ucap Doyi sekali lagi. Wajahnya sudah pucat pasi, penuh dengan kebimbangan dan juga kekhawatiran. "Sama Riyah." Deg Manik perempuan itu masih terpaku pada Doyi. Ia sama sekali tidak bisa berekspresi. Jantungnya mencelus, hatinya berdesir lalu jatuh. Bibirnya bergetar setelah mendengar sebuah ketidakmungkinan. Lalu tangannya bersandar pada mobil untuk mencari keseimbangan sesaat setelah napasanya tersenggal. Bina tidak pernah berkata bahwa ia menyukai Doyi. Dirinya juga tidak pernah yakin pada perasaannya kepada laki-laki itu. Namun mendengar perkataan Doyi yang hanya beberapa potong, berhasil membuatnya kesakitan. Jujur, ia tidak bisa mempercayai pendengarannya. Bina kemudian terkekeh. "Kuping gue salah denger apa gimana? Biasanya di dataran tinggi sering bikin kuping bindeng." Ia terkekeh keras-keras, lalu mengusap kedua telinganya. Dua anak manusia itu sama saja. Mereka tidak pernah berkata bahwa ada perasaan sama diantara mereka. Namun, sepertinya perlahan-lahan semesta menyadarkan mereka akan adanya rasa yang lebih dari sayang sebagai sahabat. "Gue nggak tahu kenapa gue harus minta maaf ke elo. Gue rasa gue perlu banget minta maaf ke elo." Doyi mengedarkan pandangannya pada langit malam tanpa bintang. Sedangkan Bina masih mencoba menetralkan keterkejutannya. Doyi kembali menghadap Bina. Ia meraih kedua tangan perempuan itu. "Bin ...." Ucapannya terjeda oleh tarikan napas panjang. "Gue suka sama lo." Mata Bina telah memanas. Genangan yang ada di sana memberontak agar dapat terjun bebas. Seberapa kalipun perempuan itu menaham air matanya, akhirnya lolos juga. Bina tidak memperdulikan pipinya yang telah basah. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha mengalihkan rasa menyengat yang menyanyat dadanya. "Kenapa nikah sama Bu Riyah, kalau lo suka sama gue?" ucapnya dengan bergetar. Kedua tangannya masih dalam genggaman Doyi. "Semua karena kecelakaan hari itu." Bina berusaha mengatur napasnya. Ia juga berusaha mencerna apa yang dimaksud dengan kecelakaan hari itu. Dan ketika Bina sudah mengerti apa maksudnya, tangannya ia lepas dari genggaman. Ia membekap mulutnya sendiri. Isakannya mulai terdengar, seiring dengan ia memundurkan beberapa langkah kakinya. Ia tidak bisa mempercayainya. Sungguh. Kata mama dan papa, puncak paralayang adalah tempat paling indah, dimana papa melamar mama dengan langit yang berhiaskan bintang-bintang. Tetapi nyatanya, tempat ini adalah tempat yang paling menyakitkan bagi Bina. Tidak ada bintang, hanya mendung, dan laki-laki yang mengaku mencintainya tetapi akan segera menikah dengan perempuan lain. Sekarang kakinya merasa lemas, sangat berat untuk menopang tubuhnya yang begetar. Bina mengubah posisinya menjadi berjongkok di hadapan Doyi, di atas rumput yang basah. Ia menangkup kedua wajahnya, dan lagi-lagi ia terisak di sana. "Maafin gue, Bin. Gue emang sahabat yang b******k buat lo." Doyi membantu Bina kembali berdiri. Perempuan itu terlihat sangat menyedihkan ditambah saat ia mengusap air matanya dengan kasar. "Lo tau ngga, sih. Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo!" Bina berteriak. Spontan membuat laki-laki itu membatu. Doyi menunduk dalam penyesalannya. Namun sesaat kemudian ia mendengar kekehan dari Bina. "Jadi ini yang lo maksud kalau lo bakal ngirim undangan mendadak ke gue dan bakal bikin gue nangis tujuh hari tujuh malam?" Bina menghirup ingusnya. "Selamat, ya. Sepertinya lo berhasil."  Ia mengulurkan tangannya, mangajak Doyi bersalaman. Doyi tidak bergerak, masih menunduk dengan matanya yang memejam. "Tenang, Doy. Gue bakal tetep masakain lo sesuai janji gue. Gue juga bakal ambil kelas lo tahun depan." Tangannya masih ia ulurkan, menunggu uluran tangan dari laki-laki di hadapannya. "Hati gue sakit banget, Doy. Harusnya lo nggak usah bilang kalau lo suka sama gue. Biar gue anggap kalau cinta gue nggak terbalas. Dengan begitu, mungkin gue nggak pernah sesakit ini." Doyi mendongak. "Nggak seharusnya lo suka sama laki-laki b******k macam gue, Bin!" ucap Doyi dengan nada tinggi, menyentak. Lalu keduanya hening dalam tatapan yang lekat. Pancaran kedua mata mereka sedang berusaha untuk saling berkomunikasi. Sepersekian detik kemudian mereka tersadar dengan suara kodok yang kembali mereka dengar. Kung kang kung kang Kung kang kung kang Kung kang kung kang "Kalau lo suka sama gue, gue minta mulai sekarang lo hapus gue dari pikiran lo." Permpuan itu berbalik menatap langit. Embusan angin dingin sama sekali tidak bisa ia rasakan. "Lo bakal jadi suami orang. Dan gue juga bakal beruaha buat hapus lo dari pikiran gue." Beberapa orang yang ada di sana mulai berbisik-bisik. Sepertinya mereka sedang membicarakan tontonan menarik dari perdebatan Bina dan Doyi. "Gue mau pulang." Bina kembali mengusap mata dan hidungnya. "Gue pesenin taksi online, ya. Gue ikutin lo dari belakang," tawar Doyi. Laki-laki itu sepertinya paham bahwa Bina tidak akan mau lagi ada di dekatnya. Namun saat ia mngeluarkan ponsel dari saku celana, Bina langsung menolak. "Nggak usah. Kita berangkat bareng, pulang juga harus bareng." "Lo nggak takut sama cowok b******k ini?" Doyi menunjuk dirinya sendiri. Perempuan itu melangkah, menghapus jarak diantara dirinya dan Doyi. Ia berjinjit dan memajukan wajahnya. Matanya terpejam selaras saat bibirnya yang hampir menyentuh bibir Doyi. Tetapi, Bina kembali melangkah mundur dan membuka matanya. Bina kembali mendongak menatap laki-laki itu, bersamaan dengan Doyi yang masih terpaku. "Tolong lupain gue, ya. Atau anggap aja lo nggak pernah suka sama gue." Kemudian Bian tersenyum. Air matanya telah kering walau mata dan hidungnya masih merah. "Selamat, ya, calon ayah!" Ia menepuk bahu Doyi layaknya seorang ibu yang bangga dengan anaknya. "Kalau aja hari itu nggak pernah ada-" Bina memotong perkataan Doyi. "Jangan berandai-andai. Tuhan nggak suka. Jangan lupa minta maaf sama Tuhan juga, ya!" Puncak paralayang dengan langit mendungnya menjadi saksi bisu pengakuan cinta antar dua anak manusia. Walau sama-sama merasa hancur, tetapi keduanya berusaha untuk tersenyum. Saat nasi sudah menjadi rengginang, saat itulah perasaan yang lama terpendam harus segera dihapuskan. Seandainya saja tidak pernah ada hari itu. Seandainya saja tidak pernah ada  kecelakaan itu. Seandainya saja Bina dan Doyi berani jujur lebih awal tentang perasaan mereka. Seandainya saja. Malam ini, di puncak paralayang, ada berbagai pengandaian yang tercipta agar penyesalan itu tidak pernah datang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN