Panggilan untuk Haekal

3160 Kata
Selama empat semester mengenal dan bersahabat dengan Bina, malam ini adalah kali pertama bagi Haekal berkunjung dan masuk ke kamar Bina. Biasanya laki-laki itu hanya berada di ruang televisi jika sedang berkunjung, atau kadang ke dapur jika diajak makam oleh sang tuan rumah. Ternyata saat Haekal sampai di lantai dua, pintu kamar milik Bina sedikit terbuka dan lampunya terang menyala. Saat ketika Haekal ingin mengetuk pintu sebelum masuk, suara tangis sesegukan yang samar samar didengar oleh telinganya berhasil membuatnya terdiam beberapa saat. Ia ingin memastikan apakah tangis itu benar-benar suara tangis Bina atau bukan. Beberapa detik laki-laki itu mencoba menajamkan pendengarannya, yang ia rasa memang Bina yang sedang menangis. Haekal langsung memutuskan untuk membuka pintu kamar Bina sedikit lebih lebar agar penglihatannya dapat menangkap apa yang sedang dilakukan sahabatnya itu. Tetapi tetap saja, ia juga harus menjaga sopan santun bahwa ini adalah rumah orang. Aroma jeruk segar dari pengharum ruangan otomatis langsung menyeruak dalam indra penciuman Haekal. Dilihatnya punggung mungil Bina yang tertutup selimut bergetar. Suara tangis yang sesegukan itu juga semakin terdengar. Haekal menjadi sangat penasaran dan merasa tidak tega dengan apa yang sedang terjadi pada Bina. Ia takut, jika ternyata dia lah penyebab Bina menangis ketika pembahasan siaran mukbang yang ada di youtube tadi. Antara sopan dan tidak sopan, tetapi semua itu terkalahkan oleh rasa khawatir dan penasaran. Dengan langkah pelan, Haekal akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar Bina dan  mendekat ke ranjang Bina dimana perempuan itu terduduk sambil bergetar. "Baru pertama kali gue lihat lo nangis. Ternyata lo nangis sampai sesegukan gitu cuma gara-gara novel?" ucap Haekal dengan embusan napas lega namun juga sedikit kesal karena merasa terbadutkan. Haekal sepertinya telah menyesal sudah mengkhawatirkan Bina. Begitu ia sampai di dekat Bina, rupanya perempuan itu sedang asyik membaca novel. Tangis Bina tidak lain dan tidak bukan adalah dari novel. Ya, atau mungkin Bina memilih membaca novel supaya bisa menangis dan bisa menemukan alasan jika ditanya mengapa ia menangis. Tidak ada yang tahu betul kondisi perempuan itu saat ini. Haekal lalu melempar tubuhnya pada ruang kosong di belakang Bina. Untung saja kasur Bina sangat empuk, lebih empuk dari kasur yang ada di kamar kostnya. Jadi seberapa keraspun laki-laki itu membanting tubuhnya, rasanya tetap akan berakhir nyaman ketika punggungnya b******u dengan kaaur empuk tersebut. "Lo ngapain ke sini? hiks ... hiks." Bina berucap masih dengan isakannya. Ia sama sekali tidak merubah gerak, karena ia sangat tidak mau Haekal melihat wajahnya yang sedang menangis. Dan satu lagi, alasan Bina menangis bukan semata mta karena membaca novel. Ada alasan lain yang membuat Bina tidak kuasa dan ingin menumpahkan segala lara dalam tangisannya. "Gue mau tidur di sini," ucap Haekal langsung tanpa basa-basi. Ia menatap langit-langit kamar Bina yang di sana terlukis motif awan putih dengan background langit biru. Ia terkesan melihat langit-langit kamar yang menurutny indah itu. "Bin. Kamar lo aroma jeruk. Langit-langitnya cerah ada awan. Tapi, mana mataharinya?" tanyanya kemudian yang asal-asalan. Karena ia hanya ingin membuka percakapan agar tidak hanya terdengar suara tangisan dari Bina. Tidak ada jawaban dari Bina. Yang ada hanya tangisannya yang beradu dengan hembusan napas Haekal. hiks ... hiks ... hiks ... hiks ... "ASTAGFIRULLAH, KALIAN NGAPAIN BERDUAAN DI KAMAR?! DEK, KAMU KENAPA NANGIS?" Matanya melotot, suaranya menggema tetapi tetapi tidak cukup keras. Mas Johnny terkejut bukan main ketika melihat Haekal ada di kamar Bina dengan Bina yang sedang menangis. Ia cepat-cepat masuk ke kamar untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Jujur saja, pikiran Mas Johnny sudah berlarian kesana dan kemarin memikirkam sebuah hal yang seharusnya tidak harus ia pikirkan. Tetapi entah mengapa hal tersebut lah yang ada dipikirannya. Haekal yang baru saja ingin bangkit dari rebahannya itu langsung mendapat cengkeraman di kerahnya. "Mas, dengerin dulu!" Ia kebingungan dan berusaha berucap untuk memberikan penjelasan. Tetapi Mas Johnny malah menyentakny tanpa mau mendengarkn penjelasan Haekal. "Lo ngapain adek gue!" ucap Mas Johnny pelan dengan bola mata yang hampir copot. Ia masih mencengkeran dengan kuat baju kerah Haekal. "HUAAAAAAAA." Bina yang masih menangis itu langsung menutup novel dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Badannya kembali bergetar selaras dengan suara isakan yang terdengar. Sejujurnya, Bina tidak sadar jika ada Mas Johhny yang sedang seperti kesetanan. "b*****t lo, Kal. Gue kira lo sahabat adek gue!" Mas Johnny langsung menyeret laki laki itu sampai membentur dinding. Bahkan ia berjinjit karena kerah kausnya ditarik oleh lengan kokoh Maa Johnny. Haekal tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia nampak kebingungan dan maaih cengengesan. "Auh ... lo kesurupan apa sih, Mas? Lepasin!" ucapnya sembari berusaha melepaskan cengkeraman dari Mas Johhny. Tetapi tidak bisa. Cengkeraman Mas Johnny terlalu kuat dan bahkan dengan sekejap laki-laki yang nampak kesurupan dengan tatapannya yang tajam menatap matanya itu kini melepaskan satu pukulan yang berhasil membutnya kliyengan. Bughhh Langsung saja Haekal yang tidak paham apa yang sedang dialami Mas Johnny sampai memukul dirinya, membuat ia tersungkur di lantai begitu Mas Johnny melayangkan bogem mentahnya. Rasanya memng kliyengan, tetapi ia tidak sampai kehilangan kesadaran. Lebih tepatnya, Haekal belum sampai pingsan. "Mas!" ucap Haekal menahan perih di ujung bibirnya. Baru saja ia akan mengecek apakah ada darah yang mengalir dari sudut bibir, tetapi lagi-lagi sepertinya ia akan kembali mendapatkan bogem dari Kaka Bina Sabrina. Mas Johnny kembali menarik kerah Haekal. Sorot mata yang berubah tajam itu memerah seperti orang kesurupan. Mas Johnny tidak main-main, sekarang ini emosinya sedang berada di puncak sepuncak-puncaknya. "b******n!" Mas Johnny berbisik dengan kata yang menusuk dan masih menatap pada Haekal. Bughhh Bogem mentah atau pukulan dari tangan kokohnya ia layangkan lagi pada laki-laki yang tidak tahu apa-apa tersebut. Lagi-lagi Haekal tersungkur. Ujung bibir sebelah kanan dan kirinya berhasil robek dan mengalir cairan merah kental di sana. Kepalanya mendadak kliyengan, bibirnya perih, dan pipinya nyut-nyutan. Akhirnya Haekal tergeletak begitu saja di lantai tanpa bisa membela diri. Haekal Suryo merasa semua ini hanya imajiansinya. Ia tidak pernah membayangkan jika Mas Johnny akan memukuli dirinya seperti ini tanpa alasan yang jelas. Namum seberapakalipun laki-laki itu berfikir bahwa semua ini adalah imajiansi, tetapi rasa sakitnya benar-benar asli. Berarti ini semua memang kenyataan bahwa dirinya barusaja mendapatkan dua bogem mentah dari sang juara muay thai tingkat provinsi tahun dua ribu lima belas lalu. Merasa puas ketika melihat Haekal yang sudah tidak berdaya, Mas Johnny membalik badan dan menyibak selimut yang menutupi sekujur tubuh Bina. "Dek!" Mas Johnny menyentak. Ia masih dengan raut wajah yang khawatir namun juga dipenuhi dengan emosi kemarahan yang luar biasa. Bina bangun dengan berantakan. Pipinya basah, mata dan hidungnya merah. "Apa sih, Mas!" ucapnya juga menyentak. Sesaat memang ia belum sadar bahwa Mas Johnny telah membuat Haekal tersunfkur hingga tak berdaya di lantai kamarnya. Begitu melihat Haekal yang sudah terbaring lemas di atas lantai, praktis Bina langsung anjlok dari ranjangnya.  Ia terkejut, ia kahet karena tidak tahu menahu mengapa Haekal bisa ada di sana. "Kal. Lo kenapa?" tanyanya khawatir melihat Haekal lemas dengan luka di sekujur wajahnya, bahkan darah masih mengalir segar dari ujung bibir laki-laki itu. Ia menepuk-nepuk tubuh laki-laki itu berkali-kali, tetapi yang ada hanya rintihan menahan sakit. "Haekal," ucap Bina dengan penuh kekhawatiran. "Bin ... sakit," ucapan Haekal hanya bisa pelan dengan mata yang menyipit. Haekal menahan sakit. Sakit sekali pipi dan bibirnya karena ditonjok oleh Mas Johnny, rasanya sangat nyut-nyutan. Mas Johnny masih berdiri di sana menatap Haekal dan Bina tanpa mau bertindak apa-apa. Namun, amarahnya yang menggunung sekarang ini berubah menjadi rasa heran. Harusnya setelah ia memukuli Haekal, dirinya lalu meminta penjelasan pada Bina yang menangis sesegukan. Tetapi baru saja Bina bangun, adiknya itu langsung menghampiri Haekal yang sudah tersungkur tidak berdaya. Ditambah Bina yang terlihat sangat khawatir pada Haekal yang babak belur, sepertinya memang benar jika Mas Johnny telah salah langkah. Mas Johnny jadi bingung. Jangan-jangan perbuatan memukul Haekal ini adalah sebuah kesalahpahaman. Hm, harusnya Mas Johnny meminta penjelasan terlebih dahulu sebelum menonjok Haekal. Tapi, mau bagaimana lagi, Mas Johnny terlanjur membuat laki-laki itu tersungkur. "Mas! Haekal kenapa kok bisa kayak gini?!" ucap Bina dengan nada tinggi. Ia tidak terima jika sahabatnya itu kesakitan. "PAPA ... MA-" Mulut Bina langsung dibekap oleh Mas Johnny. Setidaknya jangan sampai papa dan mama tahu tentang ini, apalagi jika terbukti bhwa ini semua adalah sebuah kesalahpahaman. "Diem lo, Dek!" ucap Mas Johnny pelan. Ia masih dengan tatapannya yang tajam, yang otomatis membuat Bina ketakutan karena Mas Johnny belum pernah terlihat mengerikan seperti saat ini. Sejujurnya, Mas Johnny juga tidak enak jika memelototi Bina seperti ini, tetapi Mas Johnny terpaksa melakukannya karena ia butuh penjelasan sebelum mama dan papa datang. Setelah melepaskan bekapan di mulut Bina, Mas Johnny cepat-cepat menutup pintu. Mas Johnny sedikit lega karena ternyata mama dan papa tidak mendengar kejadian ini. "Bangun, Kal. Pindah ke kasur." Bina berusaha membantu Haekal untuk bangun. Namun nihil, Haekal malah kehilangan kesadaran karena saking tidak kuatnya ia menahan sakit akibat serangan Mas Johhny, Haekal pingsan.. "Kal ... Kal!" Bina menepuk-nepuk pipi laki-laki itu, berusaha agar Haekal tetap menjaga kesadarannya. "Mas, lo yang pukulin Haekal?!" tanya Bina dengan paksaan meminta jawaban. Ia melotot tidak terima. Mas Johnny tidak memberikan jawaban. Ia hanya menatap adiknya dan Haekal bergantian. "Mas, jawab!" Bina menyentak. Selama dua puluh satu tahun hidup bersama Bina, baru kali ini Mas Johnny mendapati Bina semengerikan ini. Sepertinya memang rasa sayang Bina pada Haekal sudah sangat besar. Hingga Bina sangat mengkhawatirkan laki-laki itu. "Dek, lo habis ngapain sama Haekal?" Mas Johnny berbalik menyentak, tetapi dengan suara pelan. "Ngapain gimana maksud lo?" jawab Bina dengan pertanyaan. Jelas saja ia bingung dengan apa yang dikatakan Mas Johnny. "Si b******n ini udah macem-macem sama lo." Ia menunjuk Haekal yang tidak berdaya dengan telunjuknya. "Jahat banget lo, Mas. Haekal itu sahabat gue. Mulut lo kalo ngomong nggak dipikir dulu!" Mas Johnny menggeming. Kepalanya semakin pusing untuk berfikir. Mungkin saja memang benar jika saat ini dirinya sudah salah langkah. Sepertinya memang tidak ada yang terjadi diantara Haekal dan Bina. Otak Mas Johnny saja yang terlalu berfikiran macam-macam. "MAMA ... PAPA!" Bina kembali berteriak. Namun Mas Johnny tidak lagi membekap mulutnya. Mas Johnny hanya pasrah. Seperrinya memang ini semua adalah sebuah kesalahpahaman yang tercinpta karena emosional sesaat. Tidak lama, mama dan papa muncul membuka pintu kamar putrinya. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat tiga anak muda sedang berada di lantai. Haekal dengan wajahnya yang babak belur, Bina yang menangis sambil berusaha membangunkan Haekal, dan Mas Johnny yang hanya diam menyaksikan runyamnya keadaan. "Bina, Johnny. Haekal kenapa?" tanya papa khawatir. "Yaampun." Mama menutup mulutnya sendiri melihat betapa menyedihkannya keadaan seorang Haekal. "Johnny, bantu papa angkat Haekal." Mas Johnny mengangguk. Akhirnya Haekal berbaring di tempat tidur Bina dan sesegera mungkin mereka mengobati luka Haekal seadanya tanpa harus dibawa ke rumah sakit, karena luka ini tidak parah walaupun sampai membuat Haekal hilang kesadaran. ----- Semalaman semua orang yang ada di rumah ini tidak bisa tidur. Mereka semua terjaga menunggu Haekal agar segera sadar dari pingsannya yang cukup lama. Papa dan Mas Johnny saling diam satu sama lain, mereka tidak mau saling bertanya atau saling memberitahu kenapa semua ini bisa terjadi. Sedangkan Bina dibantu mama, berusaha mengobati luka Haekal dengan mengompres lukanya dengan obat-obatan luka dan juga sesekali dengan air hangat untuk mengompres badannya agar segera sadar. Tidak ada pertanyaan mengapa semua ini bisa terjadi. Tidak ada juga yang berani berserah diri untuk mengakui. Itu artinya, esok hari adalah saat yang pasti bahwa semua nasihat dari papa akan membayangi. Saat sarapan, pasti tidak akan terjadi seperti sarapan yang biasanya. Pasti papa akan sedikit bernasihat ria dan yang pasti hal tersebut dapat membahayakan Mas Johnny yang pasti berstatus sebagai tersangka dalam kasus Haekal kali ini. Malam semakin dingin ketika kenyataan telah menunjukkan bahwa sekarang ini sudah pukul dua pagi. Suara adzan terdengar dari kejauhan menembus heningnya malam dan memecah dinginnya udara pagi ini di kamar Bina. Bersamaan dengan terdengarnya suara adzan, suara rintihan Haekal juga terdengar. Papa dan Mas Johnny langsung bangkit dari duduknya. Akhirnya, Haekal sadar juga. "Haekal?" panggil papa pelan. Papa mengusap puncak kepala laki-laki itu. Terlihat sangat tulus seperti papa sedang membangunkan anaknya sendiri dari ketidaksadaran diri. Haekal masih berusaha membuka matanya. Ternyata Mas Johnny bukan hanya memukul pipinya, tetapi juga mengenai pelipis laki-laki malang itu. Pantas saja ia merasa sangat sakit sekali saat menggerakkan matanya. Rasanya pedih dan nyut-nyutan. "Kal, bangun." Suara Bina bergetar. Jujur saja sedari malam perempuan itu tidak henti-hentinya merapalkan doa supaya Haekal cepat sadar. Bina sangat khawatir melihat laki-laki malang itu penuh luka dan yang pasti saat ini Haekal sangat merasa kesakitan. Sebenarnya papa dan mama sudah berencana membawa Haekal ke rumah sakit sejak tadi malam. Namun menyadari bahwa Mas Johnny yang membuat Haekal seperti ini, papa mengurungkan niatnya. Bukannya apa, papa dan Mas Johnny sangat paham jika luka karena pukulan itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan selama tidak mengenai bagian vital. "Adzan itu lagi, Astagfirullah." Haekal berucap lirih dengan raut wajah yang berubah ketakutan walau matanya masih tertutup. Semua orang terheran mendengar ucapan Haekal yang cukup lirih dan terbata. "Kal, buka mata," pinta Bina. Ia menepuk perlahan pipi laki-laki itu berusaha agar Haekal segera membuka matanya. Perlahan lahan dengan menahan rasa nyeri yang dirasakannya,  Haekal membuka matanya. Silau. Lampu di kamar Bina benar-benar terang. Haekal berhasil membuka matanya. Ia melihat sekitarnya. Ada papa dan mama Bina, Mas Johnny, dan Bina sendiri. "Om, Tante ... Haekal takut," ucapnya begitu ia dapat melihat banyak orang yang sedang mengelilinginya. Ia benar-benar berucap apa adanya dan ia benar-benar jujur bahwa saat ini ia sedang merasa ketakutan. "Kamu takut kenapa? Ada apa?" Papa semakin khawatir dengan ucapan yang dilontarkan Haekal. "Sakit sekali? Ayo, ke rumah sakit." Ajak papa pada Haekal karena papa mengira ada organ dalam yang mengalami kerusakan akibat tonjokan putranya. "Om dengar suara adzan nggak?" tanya Haekal dengan lirih. Papa mengangguk. "Kenapa?" "Haekal takut, Om. Beberapa kali Haekal dengar suara adzan padahal masih tengah malam." Haekal berterus terang. Ia memang merasa ketakutan setiap mendengar suara azan yang samar-samar padahal belum masuk waktu sholat subuh. Badan Haekal bergetar. Laki-laki itu akhirnya menangis meneteskan air matanya. Ia teeisak di sana, namun isakannya tanpa banyak mengeluarkan suara. "Hei, Haekal. Bangun!" Papa memaksa Haekal untuk bangun. Bahkan ia sampai menepuk pipinya yang lebam. "Au sakit, Om!" pekiknya. "Ayo. Bangun!" Suara papa meninggi. Ia juga berusaha membantu HaekL untuk duduk. Kepalanya memang sudah tidak pusing. Tetapi sekujur wajahnya masih terasa nyeri dan perih. Susah payah laki-laki itu mencoba bangun. "Adzan itu ... apa artinya saya mau dipanggil?" Perkataan Haekal sangat nyeleneh. Mungkin inilah efek dari pukulan Mas Johnny. "Iya." "Astagfirullah ... Astagfirullah." Haekal yang sudah terduduk itu beristigfar beberapa kali sambil memegang dadanya. "Astagfirullah." "Syahadat, woi!" celetuk Mas Johnny. "Ah, iya. Gue lupa." Bahkan, Haekal masih sempat memukul keningnya sendiri. Papa dan mama hanya bisa menggeleng. Sedangkan Bina bersiap-siap ingin menyiram wajah Haekal dengan air bekas kompresan. Asyhadu al la ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. "Alhamdulillah, gue masih bisa baca syahadat." Haekal mengelus dadanya sambil mengembuskan napas lega. Sedangkan Mas Johnny dan Bina sudah menatapnya dengan tatapan malas luar biasa. "Lo ngapain baca syahadat?" tanya Bina dengan datar. "Syahadat itu mulia, Bin. Sebelum napas lo dicabut, kalo lo baca syahadat, insyaaAllah surga. Sepaham gue." Haekal menjawab dengan pasti. Bina dan Mas Johnny sama-sama memutar bola matanya. Mereka juga sudah melipat tangan di depan d**a. "Om sama tante ke bawah dulu. See you in subuhan, Kal." Papa menyempatkan mengacak rambut Haekal sebelum melenggang pergi bersama mama. "Kok nggak see you in surga?" Haekal terheran-heran. "Karena lo belum bisa masuk surga," celetuk Mas Johnny sebelum akhirnya ikut pergi. Pintu kamar tidak ditutup, terbuka lebar, dan hanya menyisakan Haekal bersama Bina di sana. "Kenapa diam?" tanya Bina memecah keheningan. "Lo belum di surga. Ini masih di kamar gue." Celetuk Bina sambil melenggang pergi. Bina berjalan dan membuka pintu balkon. Semerbak dingin angin dini hari langsung menggetarkan kulit wajahnya. "Di daerah sini emang ada adzan kalau udah lewat tengah malam," ucapnya lagi berbarengan dengan sayup-sayup suara adzan yang lain yang terdengar dari kejauhan. "Lebih jelasnya lo searching aja." Ia berbalik menatap Haekal yang masih terduduk di ranjangnya. "Kalau lo kebangun pas adzan, mungkin lo dibangunin malaikat disuruh tahajud." "Tapi bukannya yang adzan tetap muadzin di masjid, ya? Apa iya malaikat yang adzan?" Pertanyaan Haekal sangat terdengar konyol bagi Bina. Entah laki-laki itu memang sepolos itu atau memang Haekal yang sedang bercanda. Bina menepuk jidatnya, lalu menutup pintu balkon, dan kembali duduk di samping Haekal. "Sakit banget, ya?" Perhatiannya beralih pada lebam di wajah Haekal dan tidak memperdulikan ucapan Haekal yang barusan tentang malaikat. "Nyut-nyutan." Haekal tiba-tiba saja merasakan kembali nyut-nyutan di sekujur wajahnya. "Pasti besok lebih nyeri rasanya." Bina tidak pernah berbohong. Memang kalau rasa sakit itu baru akan terasa nyut-nyutan setelah beberapa saat. "Jangan doain yang jelek-jelek, dong." "Loh, fakta. Biasanya nyeri bakal kerasa setelah beberapa jam." Selanjutnya mereka memutuskan untuk begadang hingga subuh di ruang televisi dan menyaksikan youtuber mukbang kesayangan. Saat seluruh lampu di ruangan sengaja dimatikan, di ruang keluarga televisi justru menyala-nyala. "Bin. Apa lo nggak sebaiknya jadi volunteer penelitiannya Pak Doyi and the geng?" Tiba-tiba saja Haekal berucap dan yang paling menyebalkan adalah Haekal membahas Pak Doyi sang Dosen Young yang galak luar biasa. "Males, ah." Bina tidak banyak menanggapi. Ia sibuk menyaksikan mukbang sepuluh bungkus nasi padang, sembari mulutnya yang tidak berhenti mengunyah kacang bawang. "Lumayan, Bin. Daripada lo gabut selama liburan. Mending ikut penelitian. Bisa dapet sertifikat, pengalaman, sama uang jajan. Bagus juga buat ngisi CV." Haekal masih berusaha memberi Bina motivasi. Tetapi, sepertinya semua itu nihil. "Cita-cita gue jadi penulis fiksi. Kayaknya gue nggak butuhin itu semua." "Tapi pengalaman yang lo dapet bisa lo tulis di cerita fiksi lo nanti." Bina menghentikan kunyahannya. Ia menoleh menatap Haekal. "Bener juga." Lalu ia buru-buru menggeleng. "Ah, enggak. Gue masih ada sedikit dendam sama Pak Doyi." "Bayangin ... nanti lo bisa nulis cerita tentang mahasiswi yang ikut penelitian dosen mudanya, terus mereka saling jatuh cinta." "Klise." "Yaudah. Biar nggak klise, endingnya mereka nggak pernah jatuh cinta aja walaupun dosennya ganteng terus mahasiswinya cantik." "Emang menurut lo gue itu cantik?" Tanya Bina pada Haekal. Bina yakin, Haekal adalah pria yang jarang sekali berbohong. Haekal mengangguk. "Tapi lebih cantik Bu Linda. Sayang banget doi udah punya suami." Plakkk "Terus menurut lo, Pak Doyi itu ganteng?" Haekal mengangguk lagi. "Ya walaupun masih gantengan gue, sih." Ia ingin terkekeh, tetapi harus ia tahan karena pipinya yang nyut-nyutan. "Tapi jujur, sih. Pak Doyi itu ganteng, Kal." Ucap Bina kemudian. Suasana menjadi sedikit agak canggung dan tegang "Sama gue, gantengan siapa? Gue, kan?" balas Haekal dengan penuh rasa percaya diri, berusaha mengembalikan suasana agar tidak tegang lagi. Bina praktis menggeleng. "Lo itu nggak masuk dalam golongan orang ganteng." Kata Bina apa adanya "Bin. Semua cowok itu ganteng kali!" Haekal tidak terima. Pokoknya dia harus ganteng apapun yang terjadi. Pokoknya orang orang harua rahu kalau sebenarnya Haekal itu tampan sekali. "Tapi menurut gue ... lo itu manis." Haekal terdiam. Ia tidak membalas atau menyanggah lagi. Haekal baru merasakan sesuatu yang aneh. Ya, Bina itu aneh, lebih tepatnya unik. Di saat orang-orang hanya pernah mengatakan bahwa dirinya tampan, lain lagi dengan Bina. Gadis itu justru menilai bahwa Haekal adalah seorang yang manis. Dengan begini, jantung Haekal kembali berdegub dengan kencang. Haekal rasa, memang benar jika dirinya sedang ada rasa dengan gadis yang sekarang sedang mengobrol dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN