84. Apa menunggumu.

1006 Kata

Axenio berjalan sangat pelan. Matanya mengunci wajah Angel yang terpejam. Ruangan itu memiliki dua bangku untuk bersantai dan satu tempat perawatan. Di hiasai bunga-bunga yang belum mekar dengan udara yang segar membuat pikiran menjadi tenang. Memilih duduk di salah satu bangku, dia menyilangkan kakinya dan bersandar pelan. Sosoknya yang tampan dan tenang mampu membius setiap ornamen dalam ruangan. Dari balik mata coklatnya yang dalam, dia memiliki sejuta kekejaman yang tak pernah terungkapkan. Jari-jari lentiknya jatuh menyangga kepalanya, dengan bibir yang terkatup rapat. Axenio, dia menunggu gadis yang tengah terlelap itu untuk bangun. Ada banyak hal yang tengah dia pikirkan. Terlebih saat ingatan tentang dirinya dan Angel menghantam, dia tanpa terasa meraba dadanya pelan. Dia tak m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN