Part belum di revisi.
Typo bertebaran.
***
Angel terpaku pada rumah kecil sederhana yang ada di depan matanya. Dia menatap Luke sekali lalu kembali pada rumah di hadapannya.
"Paman, kenapa kita di sini? Ayo kita pulang,"
Angel secara baik menarik tangan Luke menuju pagar rumah tersebut. Tapi Luke menahan tangan Angel lembut.
"Angel, apa maksudmu? Ini rumah paman."
Tertegun. Angel seakan tak dapat bergerak. Matanya menatap manik mata Luke lekat. Mencari kejujuran di sana. "Jangan bercanda. Aku tahu di mana rumah paman. Ayo kita pulang,"
Luke tertawa bias. "Paman tak bercanda. Keadaan tak lagi sama Angel. Semua telah berbeda."
"Paman, aku tak mengerti apa maksudmu," tertawa tipis, Angel merasa semua seakan lelucon di matanya. "Bisakah paman sedikit serius? Aku rindu pada tante,"
Luke diam. Dia tak tahu harus memulai dari mana. Menunggu Luke yang bicara, Angel menatap rumah di hadapannya sekali lagi. Rumah itu kecil, sangat kecil jika di sandingkan dengan rumah utamanya. Atau rumah Pamannya dua tahun lalu. Dia ingat, rumah pamannya cukup besar. Berlantai dua dengan desain minimalis yang modern. Dengan mengusung gaya eropa kuno yang apik.
Tapi kini pamannya terlihat kesulitan mengatakan padanya. Apa yang telah terjadi? Kenapa dia tak tahu apapun? Rumah kecil di hadapannya hanya berukuran kecil. Sangat sederhana dan jauh dari kata layak. Dia tak mengerti kenapa pamannya bisa tinggal di tempat seperti ini.
"Sayang kau sudah pulang? Kenapa kau tak ma--"
Tatapan Angel terpaku saat melihat seorang wanita cantik baru saja keluar dari dalam rumah. Di kakinya, melingkar tangan kecil yang tengah memeluk erat kaki wanita tersebut. Membuat jantung Angel terengut tanpa sadar.
"A-Angel," desis wanita tersebut terbata. Ada riak rindu yang dalam di matanya. Hingga genangan air mata itu keluar dan tertahan di dalam mata.
"Tante," ucap Angel pelan. Dia melirik Luke sekali lagi sebelum akhirnya melangkah memasuki halaman kecil untuk sampai di depan rumah.
Jane Anderson, wanita cantik itu hanya bisa membeku saat tiba-tiba Angel memeluk tubuhnya erat. Gadis kecil berumur tiga tahun yang memeluk kakinya terangkat dan berlabuh pada pelukan Luke. Mereka melihat bagaimana dua orang di hadapannya saling memeluk dan menumpahkan rasa rindu.
Tak ada yang terucap, lima menit lamanya selama mereka berpelukan. Hingga Jane melepaskan pelukannya dengan dua tangan menangkup wajah Angel lembut.
"Gadis yang beruntung. Kau selamat. Kau sadar setelah koma yang panjang. Kenapa kau nakal sekali? Kenapa kau menjadi gadis yang pemberontak?"
Ada air mata yang mengalir saat kata-kata penuh sukur itu terucap. Angel tak bisa menahan perasaannya hingga dia hanya mengangguk berkali kali. Dia memeluk Jane sekali lagi dan menumpahkan rasa rindunya. Juga rasa bersalahnya. Membuat Luke terharu hingga hampir meneteskan airmata.
Lima menit kemudian, Angel benar-benar masuk kedalam rumah kecil yang sempit. Dia duduk di meja makan dan menatap gadis kecil yang menatapnya tanpa berkedip. Tangannya terulur lembut. Dia tersenyum sangat manis.
"Alysia, kau pasti kesulitan. Hal baik kau bisa tumbuh sangat sehat. Aku benar-benar tak berguna hingga membiarkan keponakanku terlantar. Paman aku minta maaf,"
Alysia, gadis kecil itu tertawa dengan malu-malu. Dia sepertinya menyukai Angel meski belum terbiasa.
"Hentikan, kau harus makan terlebih dahulu. Kau sangat kurus," putus Jane menghentikan Luke yang baru akan bicara.
Luke tersenyum dan mengangguk. "Paman akan menceritakan semuanya nanti. Sekarang, kita makan malam dahulu,"
Untuk pertama kalinya, setelah kelahirannya, Angel merasa memiliki keluarga yang peduli. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa menjadi Xin Narra yang selalu memiliki keluarga bahagia. Memikirkan hal itu, kerinduannya pada kedua orang tuannya yang berada di China menggebu.
Setelah makan malam itu selesai, Angel duduk di ruang keluarga yang sempit. Di hadapannya Jane dan Luke duduk menatapnya. Mereka dalam situasi yang sulit saat berhadapan dengan Angel saat ini.
"Paman, ceritakan semuanya. Kenapa paman dan tante berakhir di sini? Rumah ini, sangat kecil. Lalu aku melihat kalian kesulitan,"
Jane menatap Luke sekali. Matanya mengedip lembut tanda setuju. Membuat Luke menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan.
"Angel, semua di mulai dari dua tahun lalu. Saat kau menuntut keluarga kami dan memasukan Neandro ke penjara. Entah di mulai dari mana, bisnis Neandro pun bangkrut dan semua hal yang kita miliki menghilang."
Angel tertegun. Dia meremas tangannya sendiri dengan rasa bersalah yang hebat. Dia mengutuk dirinya sendiri karena sebagai Xin Narra, dia tak bisa tak memaki kesalahan Angel. Dia merutuki keputusan pemilik tubuh yang tak dapat bertindak dengan benar. Dia memaki kebodohan Angel yang tak terlalu bodoh dan mudah di manfaatkan.
"Kau benar. Saat ini kami kesulitan," ujar Jane jujur. Dia memeluk Alysia dalam rengkuhan tangannya. Ada nada sedih dalam kata-katanya tapi kebesaran hatinya dengan semua kenyataan lebih besar.
"Tapi, paman seorang dokter. Dan gaji Paman --"
"Aku tak mendapatkan gaji, Angel."
Bagai petir, Angel membuka kedua matanya lebar saat kejujuran Luke menyusul. Wajahnya terlihat pias dengan rasa bersalah yang tak dapat di ungkapkan.
"Paman, aku--"
"Ini bukan salahmu," potong Luke cepat. "Apa kau benar-benar tak tahu bahwa pihak rumah sakit telah membekukan gajiku?"
Angel menggeleng. Remasan tangannya pada jarinya sendiri kian menguat. Dia menatap paman dan tantenya bingung.
"Pamanmu, Alex, yang telah mengeluarkan perintah. Dan kau menandatanganinya."
Hening! Angel tak dapat mengatakan apapun bahkan seluruh tubuhnya terasa lemas untuk di gerakan. Dia tak ingat kapan itu. Kapan dia menandatangani semua dokumen yang sukses membuat kehidupan pamannya menderita.
"Paman, kapan aku menandatanganinya? Kapan aku--"
"Saat kau selesai menuntut Neandro. Pamanmu mengatakan, bahwa kau ingin kami pergi dari negara ini. Aku memohon pada pamanmu karena aku tak bisa meninggalkan Neandro sendiri. Meski masa tahanannya masih lama, kami tak bisa meninggalkannya."
"Pamanku? Kalian memohon pada Paman Alex? Dan sebagai gantinya dia memberikan pekerjaan namun membekukan gaji paman. Apakah seperti itu?" raba Angel lirih. Dia bahkan tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap tiga orang di hadapannya. Rasanya terlalu malu dan salah.
Luke mengangguk. "Kau benar."
Mendengar itu Angel tertawa miris. "Wah, Angel, kesalahan apa yang kau lakukan di masa lalu? Kenapa kau sangat bodoh dan buta?"
Mendengar itu Jane menggeleng. "Angel, kami tak pernah menyalahkan keputusanmu. Tapi, kami merasa Neandro benar-benar tak membunuh orang tuamu. Kenapa dia melakukan itu? Dia sangat menyayangimu, ingat?"
Angel mengangguk. Hatinya bagai teremas duri runcing yang tajam. "Paman, kurasa dua tahun lalu aku menjadi gadis yang sangat bodoh. Aku bahkan tak bisa membedakan antara kebohongan dan jebakan. Paman, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku--"
"Tidak, ini bukan salahmu." potong Jane lembut. Dia jelas melihat keponakan panik karena rasa bersalah yang hebat.
Merasakan kerendahan hati tantenya, Angel menunduk. Dia bahkan tak tahu harus mengatakan apa. Tapi dia tak bodoh. Dia Xin Narra. Dia tahu hal apa yang harus dia lakukan sebagai Angel di kehidupan ini. Dan kali ini dia harus memperbaiki semuanya di mulai dari sini.