Langkah panjang itu dipercepat saat wanita yang ia panggil sejak tadi tak menoleh padanya. Padahal, ia sudah berteriak memanggil namanya. Untungnya, sikembar sudah tertidur dikamar mereka masing-masing. "Ra," panggilnya lagi. Kali ini dengan nada super lembut. Ia menghela napas panjang dan memeluk istrinya itu dari belakang. Setelah mengikuti langkah istrinya itu yang bisa terbilang cepat, akhirnya dia berhenti dibalkon kamar. Masih dengan baju yang sama, istrinya itu bertumpu pada pagar balkon kamar. "Kenapa?" Tanya David perlahan. Ia mengelus perut Zira perlahan. Tak lama, ia merasakan tubuh istrinya itu bergetar dengan suara isak tangis yang semakin membesar. Dengan cepat David membalikkan tubuh Zira. Ia melihat wajah Zira yang menunduk sembari terisak pelan. "Hey, ada

