Two Strikes

1297 Kata
“Masih belum balik, ya, dari Amsterdam?” Yaya, teman sejurusan, menanyai. Sekarang, mereka berdua sedang ke kantin usai ngisi matkul. Dan, jawaban Asha hanya menggeleng. “Lebih tepatnya Praha, Ya. Ganti lokasi wisata.” “Tapi, sama aja, kan, belum balik.” “Hehe.” “Nyengir!” Dia pun menoyor kepala Asha. Asha pun balas menoyor dia. Dia kembali menoyor sebagai tanda tak rela begitu saja. Dan, semua berhenti ketika ... “Gabung!” Aldo mencomot pisang goreng keju ekstra milik mereka berdua. Memakannya dengan potongan ukuran paling besar. Sebenarnya, sih, keduanya ikhlas-ikhlas aja, ya, memberikan ke kaum fakir traktiran. Tapi, masalahnya, cara dia misahin Asha dan Yaya itu, loh. Udah tiba-tiba, di tengah pula. Kan nyempet, bikin sesak. “Aduh, Do! Jadi susah tahu kita mau ngerumpi!” Asha protes. “Yeh, lagian lo tuh, ya. Udah tahu cerita cintanya gitu-gitu doang. Estetik tapi nggak kesampaian nyatain. Ya, ngapain? Mau nunggu sampe bener-bener bertepuk sebelah tangan? Tahu-tahu dia pulang bawa gandengan aja lo. Mamam tuh!” Aldo nyuapin Asha paksa. Asha pun menggerutu. Malah dia yang ngomel. For your info, ketiganya adalah ... squad! “Ya, lo sebagai besplen, jangan doain gitu, dong!” Yaya mendorong pelan pinggang Aldo. Sang empu mengaduh kecil. “Biarin! Eh, dengerin, Ya. Yang namanya ketertarikan di mana-mana butuh keterbukaan apalagi ini masalah tempat spesial atas nama perasaan. Apalagi, sih, yang buat nih bocah bimbang?” Iya, sih, Do, tapi, kan ... “Lagipula, Babang Raka juga tipe cowok perduli sampe nggak pernah ngomong kasar ama cewek. Iya, kan? Fix, bakal kecil kemungkinan lo ditolak. Mentok-mentoknya palingan dia ngomong, ‘kasih aku waktu, ya.’ Kelar itu. Lo dapet respon, hati lo enteng, lebar ke-sabi-an lo punya kesempatan bareng dia.” “Tapi, gue nggak setuju, Aldo!” tentang Yaya. “Gue ada rencana yang lebih oke. Sini, deh.” Asha dan Aldo pun saling tatap. Hingga Yaya meminta cucungut dua itu berdekatan. Dan ... dia pun menjelaskan panjang lebar lewat bisikkan yang akhirnya sukses membuat Aldo hingga diri Asha sendiri terperangah. “Iya, bener! Ini bakal two strikes kalo dipake! Menjawab apa yang jadi keresahan gue dan Yaya, juga lo!” HUWATT?? *** “Tuan Muda ...” Bu Gran menyapa dari depan pintu ruang tamu. Terlihat Raka tampak kelelahan membawa beberapa bingkisan juga koper. Balutan coat panjang yang bisa cocok dengan musim Indonesia yang tengah hujan deras ini sebenarnya membuat wajah Raka makin-makin tampannya. “Enggak usah, Bu. Ibu istirahat saja,” ujar Raka saat Bu Gran mencoba membantu membawakan. Bu Gran hanya bisa menggelengkan kepala. “Aden dengan Non sama saja. Apa-apa menyuruh Ibu diam. Bagaimana mungkin Ibu menjadi majikan di rumah yang Ibu dipekerjakan sendiri?” Raka tersenyum. Tapi, itu tidak berlangsung lama begitu ia mengerlingkan mata ke sofa. Sekilas, ekspresinya berubah menjelma jadi dingin dan tegas. Mungkin karena menemukan adanya wajah baru yang tengah membicarakan hal penting bersama Tuan Hanggara. Sama-sama pemilik tahta kepercayaan rumah bak kastil tersebut sebagai penjaga rumah selayaknya Bu Gran yang berprofesi sama. “Ah, iya, Asha memang suka sekali film tersebut. Waktu bulan Juni Asha mengajak Bu Gran menonton di ruang bioskop pribadinya Den Raka.” “Iya, benar. Darimana kamu tahu kalau Asha begitu suka makanan itu? Tergila-gila dengan rasanya? Kalau Asha cerita sama saya, dia akan selalu merekomendasikan menu tersebut.” “Saya juga suka penyanyi itu. Hahaha. Jadi, kamu pernah membawa Asha ketemu dengan dia? Waow. Bahkan berhasil mendapatkan tanda tangannya? Astaga, kalian sangat cocok!” Lalu, Pak Hang meninggikan suara begitu menoleh ke belakang. Merasa perlu memberitahu soal kesimpulannya pada Aldo. “Ibu, anak ini menyenangkan sekali!” ungkapnya. Ibu pun ikut tersenyum. “Eh, Den Raka, sudah pulang ...” Pak Hang baru menyadari.  Namun, Asha sama sekali tidak menemukan wajah cemburu kecuali kedataran. Dia tidak marah, tidak juga terganggu, apalagi mengkilat tak suka. Sepertinya memang Ashalah yang terlalu berekspetasi tinggi menginginkan ia punya rasa yang sama seperti dirinya. Mood Asha pun turun. Asha benar-benar terlalu dalam menyimpan hati padanya. Dengan langkah berat, Asha kemudian mendekati ruang tamu untuk menghidangkan beberapa makanan, minuman, dan snack. Melakukan PLAN B-nya Yaya. Adegan baper! “Ini, sayang, dimakan,” kata Asha penuh kelembutan. Asha bahkan tersenyum ke arah Aldo yang juga ikut menyunggingkan bibir penuh sayang. Belum lagi belaian rambut lembut yang mengisyaratkan betapa Aldo, sang yangbeb aduhai pura-pura memang beneran cinta mati pada seorang Asha. “Iya, sayang. Kamu juga minum, dong.” Aldo menyodorkan milkshake buatan Asha dan sedotannya untuk segera Asha minum. Asha bahkan pasang wajah seseri mungkin bak cewek kasmaran setengah mati. Aldo lagi-lagi megelus poni, merapikan rinainya. By the way, kalau dalam jarak dekat seperti ini, Aldo memang sangat tampan. Tapi, image ini sangat berbeda dengan kelakuan gesreknya di kampus. “Ekhm, ekhm.” Hingga deheman menghentikkan kegiatan kami. Rupanya dari arah ... Raka? “Siapa ini?” “Oh.” Aldo mengusap tangannya yang kotor dengan tissue. Dia berdiri, mengulurkan tangan. “Aldo Rifandi. Saya—” “Tunanganku.” Mata Raka membulat. Menindas ke arah Asha yang barusan memebri pernyataan. “Jadi saat aku pergi kamu ngadain pesta pertunangan?” tandasnya. “Calon, Kak. Dia ... pilihanku. Aku dan dia akan segera melangsungkan pertunangan. Status kami sekarang pacaran.” Kini, giliran Aldo yang mendramatisir. Dia menggenggam tangan asha erat penuh kasih. “Iya, kami saling mencintai dan menyayangi. Makanya kami ingin merampungkan hubungan kami ini ke arah cinta yang suci dan abadi. Soalnya kita udah cukup murni.” Oke, Asha arsanya pengen muntah. Aldo, please, kamu lebay. Banget! Untung saja Asha nggak sampai kelepasan ngumpat berkat sok mellow puitis Aldo yang jatohnya nggak elit sama sekali. Memang pada dasarnya Aldo itu koplak, bukan romantis. Asha nggak tahu, deh, misi bikin cemburu Raka berhasil atau nggak. Meski mengaca dari respon dari Bu Gran dan Pak Hang tersenyum. Seolah tersentuh. Asha  jadi balik lagi ke ekspresi Raka. Lagi-lagi cuma disuguhkan kedataran. Tidak ada kepalan tangan seperti yang biasa dilihatnya di film ala menahan amarah. Memang sudah seperti biasa Raka tidak tertarik pada hubungan apapun. Kayaknya Raka dengan mudah, deh, melepaskan dirinya dengan Aldo. Padahal Asha ingin sekali bersama dia. Aldo benar. Cinta Asha telah bertepuk sebelah tangan. Dan, tiba-tiba saja muncul kecurigaan terpendam yang menguatkan pertanyaan yang diajukan Yaya. Apa jangan-jangan Raka ini ... dia nggak tertarik wanita tapi tertarik pria? Gay? ASTAGA! Huh. Entahlah. Yang jelas, GAGAL! “Heemmmmfh!” Bu Gran mencubit pipi Aldo gemas. Khas Bu Gran sekali jika menyukai seseorang. “Kamu benar-benar seru dan menyenangkan. Kamu tahu segalanya. Asha beruntung sekali disukai kamu. Kamu dan Asha pasti akan bahagia selamanya. Ibu dukung kalian.” Aldo makin lebar tersenyum. Bu Gran menambahi, “Ibu akan buatkan opor ayam favorit Asha. Kamu makan, ya, di sini.” Aldo mengangguk. Hingga suara berat Raka memecah kita semua. “Tapi, Asha nggak saya izinkan menikah.” Loh?  Semua pun serempak memusatkan tatapan ke arah Raka. Kepalanya terangkat. Ekspresi serius, mengepalai. “Baru kuliah gitu, mau langsung menjalani kewajiban sebagai isteri? Belum lagi kalau Asha punya anak. Dia pasti lebih punya tekanan besar dan berpotensi kuat putus kuliah. Kamu nggak bercita-cita jadi penghancur hidupnya, kan?” Ya ampun ... Asha tercengang. Jadi, Raka lebih khawatir dirinya akan putus kuliah? Mengganggap Asha mental lemah? Tidakkah ini sungguh di luar batas dan keterlaluan? Tangan Asha pun mengepal. Seperti halnya dulu saat  Asha ingin sekali mengakhiri hidup karena stress mengingat banyaknya teman Papa yang ingin dengan  Asha hingga mengejar-ngejar, juga hutang tak terucap Sang Mama yang menggunung, meski Raka membantu dirinya. Langsung saja,  Asha berdiri, “Aku cinta Aldo! Aku juga nggak akan menikah dengan siapapun kecuali bersama Aldo! Dan, Kak Raka ... nggak ada urusannya sama hal ini!" Sedetik kemudian,  Asha sadar. Dia tengah menggiring dirinya sendiri untuk dicabik singa dan bertempur habis-habisan dengannya. Karena Raka, tidak suka dibantah. Akh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN