Our Memorist

1092 Kata
Dan, itu membuat Yaya, Aldo, dan Raka sepakat menyerahkan Asha ke tim medis yang lebih ahli. Raka tampak mengeratkan rambut. Jelas stress. Mungkin karena tak menduga ini bakal terjadi dan tak habis pikir. Itu membuat Yaya ... PLAK. Menamparnya. "INI SEMUA SALAH, LO! b*****h!" Yaya tak pernah begitu. Dia sama sekali anti ngajak ribut. Tapi, mungkin karena ini di luar batas, Yaya jadi nggak terima. Fix, Raka, bertambahlah orang yang telah menamparmu. Kamu mulai terdaftar menjadi orang terberengsek yang akan mengoleksi tamparan. Semoga bukan level alam semesta, ya. Karena berada di kondisi seperti ini saja, kamu sudah malu ... ... bukan? *** Dua kelopak mata mengerjap. Sinar beriringan masuk mengendap-endap. Asha berusaha menetralkan cahaya yang berseteru dengan peningnya kepala. Perlahan, makin nampak apa yang tengah ia hadapi, atasi, dan lihat sekarang. Ya ... rumah sakit. Bau obat-obatan yang membuatnya deja vu ke masa lalu menyeruak ke indra penciumannya. 'Ah ... tempat ini lagi ...,' Asha membatin. 'Tempat di mana revolusi hidupnya terjadi sekaligus segala mimpi buruk bertebaran di sini.' Asha pun membesarkan d**a. Sudahlah. Yang penting sekarang adalah bagaimana dia. Asha yang masih lemas pun, menolehkan kepala ke kiri berkat adanya jalinan rasa hangat membelenggu tangan kanannya. Namun, betapa terkejutnya ia begitu mendapati Raka yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Asha membenak, lagi, 'Apa ia semalam begadang untukku?' Tentu saja itu tidak mungkin. Kerjaan dan tanggungan Raka itu banyak. Bejibun. Harus diurai dan dibesut. Jadi, tidak mungkin sesembarangan itu untuk memprioritaskan Asha. 'Iya, itu jauh lebih masuk akal. Raka bukan tipe yang mau mengejar hal yang tak pasti. Akan wajar dan amat sangat pantas jika ia tak mementingkanku.' Ya, meski ... waktu itu ... memang ... sebelum ia pingsan, Asha memang sempat melihat wajah Raka. Wajah yang membisiki sekaligus membendung memayungi kepalanya sebagai solusi untuk bisa kabur dari preman-preman tersebut. Asha mencetuskan penyelesaian berupa : Ayolah, Raka, tolong aku! Aku nggak tahu harus gimana lagi selain lari tanpa satupun yang bisa menghadangku! Membantuku melawan mereka! Sungguh, demikian, Asha takut. Tapi, tidak apa-apa. Sang Pemilik Alam Semesta jauh lebih mengerti bagaimana cara menyelamatkannya. Lewat Yaya, Raka, Aldo yang berkolaborasi membantunya. Sungguh ... terkadang rencana hidup itu suka keterlaluan bagusnya. Sampai, kita hanya bisa dibuat takjub akan kejeniusan semesta memainkan perannya. Asha pun melepaskan tangan Raka yang menggenggamnya. Tersenyum kecil. 'Kakak kelihatan ganteeeenggg banget kalau lagi tidur pulas begini. Tampan.' Dia memang suka menatap wajah manis Raka. Bagai malaikat untuknya. Hingga ... "Udah bangun?" Raka meregangkan tubuh, matanya membulat. Raut mukanya masih nampak kusut meski bisa Asha lihat adanya bolham yang menyemai di tindakannya. Tampak dari keputusannya untuk ... "Dok, Sus, ini adik saya sudah sadar!! Dok, sus!! Sudah sadar!!" Salah satu dokter menghampiri, "Oh, kalau begitu, akan kami periksa, Pak." "Iya, Dok, silahkan." Stetoskop dan senter khusus memainkan perannya. Asha mengerjap sekaligus melenguh sakit pada spot-spot yang ditanyakan, meminta konfirmasi. Sampai akhirnya muncul sebuah kesimpulan yang mana dokter mengatakan, "Kondisi Mbak Asha ini sudah membaik, tenang saja. Mbak Asha hanya perlu istirahat lagi saja. Urusan luka dan memar nanti akan segera sembuh." Raka mengangguk lega. Wajahnya tampak tenang. "Syukurlaaah." "Kalau begitu saya permisi dulu, ya. Kalau ada apa-apa, pencet saja tombol yang ada di ranjang." "Iya, Dok, terimakasih, Dok." Dokter tersenyum, "Iya, sama-sama." Pintu tertutup. Raka kontan mengarah ke Asha sembari membawa segelas air putih yang tergeletak di nakas. "Minum dulu." "Nggak mau, tenggorokan pahit." Asha menggeleng. "Pst!" ancam Raka. "Minum, biar nggak kering-kering amat." "Iya-iya." Akhirnya, dibantu Raka yang memegangi, Asha pun menegak air putih itu sampai habis. Sampai tersedak dan terbatuk-batuk mungkin karena saking cepatnya. "Lah, kok, batuk, sih?" Raka keheranan. Ia lantas mengambil tisu dan memgelap sisa airnya. "Pelan-pelan, makanya." Asha mengaduh, "Nanti kalo kelamaan Kakak ngomel." "Sejak kapan aku jadi tukang ngomel, Sha?" Raka memejam sesaat, nggak habis pikir. "Oke, memang benar kata pepatah. Terkadang, pelaku lebih sering playing victim daripada ngaku!" "Ih, apaan. Aku nggak pernah, ya!" Asha mengelak. "Kakak itu harusnya sadar, sebelum diajak insyaf aja sukanya marah duluan dan prinsipnya paling benar sendiri tahu! Sekarang logikanya, gimana caranya coba aku lantas ngambil singgasana tahta keputusan Kak Raka kalau dikasih tahu aja Kak Raka langsung nangkis?" "Kok kesannya kayak aku yang egois?" "Emang iya!" "Pake diiyain lagi!" Asha tertawa. "Kenapa? Pacar kakak itu nggak pernah ngeiyain kakak kalo kakak sebenarnya egois, nyebelin, nggak tahu diri, nggak punya attitude?" Sekarang, Raka melotot. "Kamu, nih, mulai ngada-ngada!" Tangannya bergerak menjewer. "Jelasin, siapa yang ngajarin?" "Aw! Sakit!!!" "Siapa yang ngajarin?" "Ampun!!!!" "Dan, dengar, ya, Asha sayang, kalau Kakak bilang, kakak hanya akan pacaran setelah menikah, yang sebelumnya juga nggak akan kakak pacari, tahu!" "Emang bisa gitu yakin tanpa pacaran?" Raka mengangguk sekali, mantap, dan tampak euwwhh ... songong. "Kenapa? Kamu masih mau dimainin sama si Dodol itu?" "Aldo, Kak, not Dodol!" Raka mengangkat bahu, "Whatever," katanya. "Yang jelas, nggak ridho lahir batin Kakak kalo kamu sama dia." "Astaga!" Kini, Asha menepuk dahi. "Terus, gimana sama cewek yang sama kakak di restoran? Kakak dicium dia? Mesra-mesraan sama dia? Apa perlu restu dariku? Enggak, kan? Tuh! Kakak mengenyahkan asas kekeluargaan yang kita anut selama ini! Kakak, tuh, egois! Sama yang kakak mau aja! Nggak pernah ada cacat dan kurang!" Sekarang, Raka terkekeh, "Kamu cemburu?" "Enggak, siapa bilang?" "Aku," jelasnya. "Tapi, Sha, aku juga cemburu." "Kok cemburu?" "Kan, kamu lebih cocok sama aku daripada Aldo," terangnya. "Udah, ya, sana, putus saja sama Aldo." Kini, bantal dan guling rumah sakit dijadikan Asha sebagai azab untuk Raka. Dia berteriak, "AKU NGGAK MAU HIDUP JOMBLO TERUS SAMA PENGANUT JOMBLO!!!" "Yah, Shaaa ...." "NGGAK MAU, TITIK!" Dan, hari itu juga, Asha mengetahui, bahwasannya, para preman yang waktu itu bertindak kriminal terhadapnya telah dihukum setimpal sesuai dengan ganjarannya. Meski, Asha tak tahu dan memang tak perlu tahu, betapa kalutnya Raka saat Yaya menamparnya. Seakan dunia seketika itu runtuh. Seketika itu jenuh. Seketika itu luruh. Hilangnya Asha menyebabkan matinya segala fungsi sel yang beraturan dalam dirinya. Sekarang, tinggal dirinya yang menyetujui argumen awal soal Asha terhadapnya. Bahwa ... Sejatinya benar. Kalau Raka, takut kehilangan Asha. *** Usai dirawat di rumah sakit selama empat hari, Asha memang ogah-ogahan sama makanan dan minuman yang terasa memuakkan dan serba keterpaksaan menjalaninya. Meski juga, itu dibantu total oleh Raka agar Asha mau menelan, setidaknya. Hingga, usai berselang semua kepahitan itu, datanglah waktunya cahaya datang. Persis seperti Thomas Alpha Edison yang akhirnya menemukan lampu dengan teknik yang sempurna. Hari itu, mereka, lebih dari penyambutan pulangnya Asha Tapi juga ... senang-senang. "Wooohhhhhhhh .... menang gue, menang gue!" Aldo berseru. Cowok yang sudah umur dua puluh ke atas itu ternyata tengah riweuh bermain game bersama ... "Kagak, bisa! Gue!" .... si kakak ipar laknatnya, Raka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN