"Tadi Ibu kesini? Pasti ngomongin soal Rafi lagi ya?"
Andin menggeleng pelan, dia tidak berani menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
Duta menghela nafas berat, "Maaf karena aku udah bikin hidup kamu cuma mentok segini aja. Aku bahkan nekat bawa Rafi ke rumah kita, wajar kalau Ibu selalu marahin kamu dan nuduh kita sombong. Tapi kalau ditanya apa aku nyesel bawa Rafi ke rumah kita, aku engga nyesel sama sekali. Dia anak yang baik dari dulu engga pernah nyusahin kita, walaupun orang engga akan tahu kebenaran itu," ujarnya.
Andin memegang tangan suaminya dan menatap lurus ke arah Duta.
"Aku dari awal engga pernah setuju sama keputusan kamu yang bawa Rafi kesini. Sama kayak kamu, aku juga engga nyesal. Kamu tahu Ibuku memang begitu, tapi selama ini juga aku selalu yakinin Ibu kalau Rafi engga pernah cuma numpang hidup sama kita," yakinnya.
Duta tersenyum, dia balas menggenggam tangan istrinya itu. Dia percaya bahwa Andin tidak pernah berprasangka buruk pada keputusannya, tapi keluarga mertuanya tidak suka semenjak dirinya memutuskan untuk merawat Arafi yang sebatang kara karena dinilai kehidupan mereka saja pas-pasan.
"Aku percaya sama kamu. Aku juga engga mau nyalahin pandangan Ibu tentang Arafi, tapi aku kadang engga terima kalau Ibu udah ngungkit soal status Arafi. Arafi masih punya aku sebagai saudaranya, sebagai kakaknya, jadi dia engga sebatang kara," bantah Duta sedih. Dari dulu ia selalu meminta Arafi pergi setiap kali Ibu mertuanya berkunjung karena tidak ingin Arafi mendengar ucapan yang tidak baik tentang dirinya.
"Arafi bahkan engga bisa ikut kegiatan wisata di sekolahnya dulu karena dia engga mau buang-buang uang kan? Dia bilang harta peninggalan orang tuanya harus cukup sampai dia lulus kuliah. Gimana mungkin orang lain tega bicara buruk tentang anak sebaik dia, Andin?" imbuhnya.
Binar sedih di matanya terlihat jelas saat ia mengingat bagaimana Arafi dulu menolak saat Duta memintanya ikut kegiatan wisata di sekolah dan berjanji akan membantu biayanya. Adiknya itu berkata bahwa liburan bisa ia lakukan di rumah dan Arafi lebih memilih belajar sepanjang hari demi bisa diterima di Universitas dengan jalur beasiswa.
"Maafin Ibuku, Mas," pinta Andin lirih.
Ia merasa bersalah karena memang ibunya selalu saja berkata yang tidak-tidak setiap berkunjung. Ibunya selalu meminta agar Andin membujuk Duta supaya suaminya membiarkan Arafi hidup sendiri.
"Bukan salah siapapun, ini salahku karena engga cukup mapan buat nanggung hidup kamu dan Arafi. Kalau saja aku bisa lebih dari sekarang, mungkin--"
Andin langsung beranjak dan memeluk suaminya. Dia tidak ingin mendengar kata seputus asa itu dari suaminya yang sudah berjuang dari dulu dengan susah payah.
"Kamu hebat, Mas. Kamu lelaki terhebat yang pernah aku temui. Aku selalu merasa beruntung karena punya kamu sebagai suamiku. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, aku yakin Arafi juga engga akan suka dengarnya. Bagi kami, kamu adalah orang yang paling berharga," Andin meneteskan air matanya. Merasa sedih karena lagi-lagi suaminya terluka karena memikirkan ucapan buruk apa yang diucapkan oleh ibunya.
"Tolong, Ndin. Tolong bilang sama Ibu kalau Arafi engga pernah jadi beban buta kita. Tolong bilang Ibu, jangan pernah minta kamu bujuk aku buat ngelepas Arafi. Dia engga punya siapa- siapa selain kita, dia cuma punya kita," lirih Duta.
Andin mengangguk dengan masih terisak.
"Aku akan bilang, kamu engga usah khawatir. Aku akan bilang begitu ke Ibu," yakinnya.
*
"Kamu beresin tisu sama vasnya aja, bangku biar saya yang naikin," suruh Arafi pada Wulan.
Wulan tersenyum sambil mengangguk, wanita itu langsung berjalan menjalankan perintah dari Arafi. Di tengah kegiatannya, ia masih menyempatkan diri mencuri pandang ke arah Arafi yang mulai menaikan kursi ke atas meja yang sudah tidak terdapat barang apapun di atasnya.
Sosok itulah yang sudah mempesonanya sejak lama. Walaupun dia tidak pernah bisa maju dan menyatakan perasaan dengan berani dan hanya bersembunyi dibalik status teman kerja yang semakin lama semakin tidak membuatnya puas.
"Lama-lama Rafi bisa bolong kalau kamu pandangin terus."
Wulan tersentak, ia buru-buru berbalik dan menemukan Vicri, teman kerjanya yang lain tengah melempar senyum menggoda padanya.
"A-apaan sih. Siapa juga yang lihatin Rafi," kilahnya sambil kemudian mulai sibuk memasukan barang-barang ke dalam konteiner beroda yang sejak tadi ia bawa-bawa.
Vicri tertawa pelan mendengar Wulan yang mengelak walaupun justru reaksi tubuhnya yang gugup dan belakang telinga gadis itu yang memerah sudah membuktikan jika ucapannya tadi adalah benar.
"Yakin nih? Kamu terlalu naif, Lan. Kamu pikir di cafe ini siapa yang engga tahu kalau kamu suka sama Rafi? Bahkan aku pikir Rafi sendiri juga sebenarnya tahu soal itu," ujarnya santai.
Gerakan tangan Wulan kontan terhenti, dengan degup jantung yang kencang ia menoleh ke arah Vicri yang masih melempar senyum.
"Kamu..kamu yakin?" tanyanya gagap.
Vicri semakin tertawa, ia melirik sekilas ke arah Arafi yang sempat menoleh ke arah mereka.
"Serius dong. Kamu engga sadar ya kalau yang lain sering sengaja bikin kamu sama Rafi ada di waktu yang sama dan berdekatan, contohnya kayak sekarang. Teman-teman yang lain sengaja ngerjain tugas mereka secepat mungkin supaya yang tertinggal cuma kamu dan Rafi," jelasnya sambil mengerling jahil.
Wulan mematung di tempatnya berdiri. Benarkah begitu? Jadi semua orang sudah tahu tentang perasaannya bahkan Arafi juga?
"Haha kalau gitu aku pulang ya, Bye!"
Wulan mengangguk kecil dan membiarkan Vicri pulang. Sedangkan dia langsung menatap Arafi yang tampaknya hampir menyelesaikan tugasnya, hanya tersisa satu meja dan meja itu adalah meja yang saat ini ada di hadapan Wulan.
"Udah kan, Lan? Saya naikin kursinya ya," ujarnya setelah berada di depan gadis itu.
Wulan mengangguk dengan setengah sadar. Dia menggeser tubuhnya dan membiarkan Arafi mengangkat kursi terakhir itu.
"Raf, sebenarnya..."
Wulan mengatupkan bibirnya. Ia merasa konyol kalau sampai menanyakan perihal itu secara langsung pada Arafi.
"Kenapa, Lan? Sebenarnya apa?" tanya Arafi.
Wulan buru-buru menggeleng bdan memasang senyum lebar.
"Sebenarnya aku udah capek banget, jadi aku pulang duluan ya!" ujarnya lalu tanpa menunggu jawaban dari Arafi, dia berbalik dan berlari kecil ke arah loker.
Boodoh! Dia masih saja tidak bisa berbicara dengan santai di depan Arafi. Padahal momennya sudah tepat, mereka juga cuma tinggal berdua. Harusnya Wulan tidak menyia-nyiakan keadaan sekarang, tapi lagi-lagi dia menjadi pengecut dan kembali membalikan badan.
Benar-benar menyedihkan! Mau sampai kapan ia memendam perasaannya sendirian?
*
"Tolong, Ndin. Tolong bilang sama Ibu kalau Arafi engga pernah jadi beban buta kita. Tolong bilang Ibu, jangan pernah minta kamu bujuk aku buat ngelepas Arafi. Dia engga punya siapa- siapa selain kita, dia cuma punya kita."
Arafi mematung. Dia menghentikan langkah kakinya yang hendak masuk saat suara itu terdengar.
Ia tersenyum miris, meskipun hanya sepenggal kalimat yang bisa ia dengar namun ia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh kedua kakaknya itu. Maka untuk menjaga agar keadaan tidak menjadi canggung, ia kembali berbalik dan mengambil motornya.
Arafi menuntun motornya hingga keluar gang dan mengendarainya lagi.
Benar kata Duta. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Duta. Bahkan saat ini meskipun berpikir tidak ingin pulang ke rumah, dia tetap tidak tahu harus bergerak kemana.
Dari dulu walaupun Duta selalu berusaha menutupi darinya, tapi Arafi tahu jika mertua Duta tidak pernah menyukai keberadaanya. Bahkan dulu Arafi sering mendengar Duta dan Andin yang bertengkar karena masalah ini, tentang keinginan Ibu dari Andin yang menginginkan Arafi untuk pergi dari rumah.
Tapi Arafi yang saat itu menyadari kemampuannya terbatas akhirnya memilih menutup telinga dan pura-pura tidak tahu karena ia belum siap jadi gelandangan kalau harus keluar dari rumah Abangnya.
Arafi tersenyum getir. Dia lapar, tadinya ia berniat makan di rumah bersama Abang dan Tetehnya untuk menghemat keuangan bulan ini. Tapi setelah mendengar ucapan tadi dari Abangnya, bagaimana mungkin Arafi masih berpikir untuk menghemat uangnya sendiri dan makan dari uang gaji Abangnya yang tidak seberapa itu.
Laju motornya ia lambatkan saat melihat saat gerobak nasi goreng yang menguarkan aroma sedap yang langsung membuat perut Arafi bergejolak. Dia memarkirkan motornya dan berjalan mendekat, duduk lesehan dan memesan satu porsi nasi beserta teh hangat untuk dirinya.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya saat merasakan getar dari benda pipih yang canggih itu. Senyum tipis timbul saat ia membaca pesan yang dikirimkan Andin. Tetehnya bertanya sedang dimana dirinya sekarang sehingga belum pulang.
Arafi mengetikan balasan, ia menjawab bahwa saat ini ia sedang bersama dengan temannya. Hal yang tentu saja bohong, ia hanya tidak ingin membuat Abang dan Tetehnya menjadi khawatir lagi tentang dirinya.
"Ini Mas nasinya," ujar pria paruh baya mengenakan topi yang membawakannya nasi goreng dan teh hangat sesuai pesanan.
Arafi tersenyum, "Terimakasih, Pak," katanya.
"Baru pulang kerja ya Mas? Pasti belum nikah deh makanya belum ada yang masakin kan di rumah jadi makannya disini?" seloroh penjual nasi goreng itu.
Arafi tertawa pelan mendengar ucapan pria di depannya.
"Saya masih muda, Pak. Masih dua puluh tiga tahun, belum kepikiran menikah," sanggahnya dengan senyum terkulum.
Pria di depannya tampak tidak percaya saat mendengar ucapan Arafi.
"Masa sih baru 23 tahun? Saya kira Mas umur sekitar 25 tahun ke atas?"
Arafi tersenyum salah tingkah, "Saya kelihatan tua ya, Pak?" tanyanya.
Penjual nasi goreng itu buru-buru menggeleng.
"Bukan tua, Mas. Tapi dewasa karena badan Mas juga tinggi begini," ralatnya. Walaupun Arafi dalam posisi duduk, dia bisa tahu bahwa pria di depannya ini tinggi karena kaki Arafi yang bersila tampak panjang.
Arafi tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, "Iya, Pak. Saya tahu, soalnya ini bukan pertama kalinya orang ngira saya lebih tua dari yang sebenarnya," celetuknya.
Penjual nasi goreng itu tampak merasa bersalah, tapi Arafi meyakinkan bahwa itu bukan hal besar.
Dan kemudian Bapak itu pamit untuk melayani pelanggan lain dan membiarkan Arafi menyantap makanannya.
**