"Masih belum bangun?" Arafi menggeleng pelan, senyum sedih tidak luput dari wajahnya yang tampak lelah dengan kantung mata menghitam. Sudah dua malam dan dirinya sama sekali belum tidur. Dia memutuskan mengajukan cuti agar bisa menemani Nares karena menurutnya jika memaksakan bekerja pun hasilnya tidak akan bagus. "Kamu tidur dulu aja, biar Papa yang jagain Nares," Abrar menepuk bahu menantunya itu. Merasa kasihan melihat bagaimana Arafi terlihat hilang semangat sejak peristiwa buruk itu menimpa istrinya. "Rafi baik-baik aja, Pa. Rafi mau disini sampai Nares bangun," tolaknya. Hanya helaan nafas yang terdengar keluar dari mulut Abrar, dia sudah tidak bisa membujuk Arafi lagi karena jawaban Arafi tetap sama. Arafi bahkan tidak pulang sama sekali ke rumah dan hanya duduk di samping N

