"Huueekk!" Nares meringis, menatap wajah pucat yang terlihat sangat tersiksa itu. Tangannya memijat tengkuk dengan pelan agar semua rasa mual itu menjadi lebih baik setidaknya itu yang dia harapkan. "Maafin aku, harusnya aku yang begini. Padahal aku udah jahat mau buang bayi ini, harusnya aku yang dapat hukuman. Bukan malah Mas yang harus kesusahan setiap pagi." Arafi membasuh wak hanya dengan air dari wastafel. Dia bahkan belum sarapan tapi semua isi perutnya seakan dipaksa keluar begitu saja. "Jangan ngomong begitu, aku lebih engga suka kalau lihat kamu yang begini," sangkal Arafi. Sudah lewat satu bulan sejak dirinya atau lebih tepatnya Nares memutuskan untuk menerima calon anak mereka. Di awal kehamilan terasa sulit karena Nares mengalami morning sickness yang cukup parah hingga h

